OpenAI telah mengajukan pendaftaran IPO secara rahasia ke Securities and Exchange Commission (SEC) AS — langkah yang biasanya mendahului penawaran saham publik dalam waktu 12–18 bulan. Namun, CEO Sam Altman secara eksplisit menyatakan bahwa perusahaan tidak akan melantai di bursa pada 2026. Ia menyebut rencana tersebut sebagai sesuatu yang "tidak bijak" — tidak hanya ditunda, tapi juga dipertanyakan secara prinsip.
Kenapa 'Tidak Bijak' Bukan Sekadar 'Belum Siap'
Kata "tidak bijak" dari Altman bukan eufemisme untuk "belum siap teknis" atau "masih butuh modal tambahan". Ini adalah penilaian strategis yang mengakui ketegangan struktural: OpenAI dibangun sebagai entitas hybrid — sebagian nonprofit, sebagian capped-profit — dengan komitmen eksplisit terhadap keselamatan AI dan pengawasan eksternal. IPO berarti kewajiban transparansi finansial, tekanan kuartalan dari investor, dan potensi konflik kepentingan antara nilai misi dan tuntutan return. Dilansir TechCrunch AI, Altman menekankan bahwa keputusan ini bukan soal timing pasar, tapi soal integritas arsitektur organisasi itu sendiri.
Tekanan investor memang nyata. Menurut laporan Bloomberg awal 2024, dana ventura global telah menyalurkan lebih dari USD 22 miliar ke startup AI hanya dalam enam bulan pertama tahun itu — rekor tertinggi sepanjang sejarah. Di tengah gelombang itu, OpenAI justru memilih perlambatan formalisasi kepemilikan. Padahal, valuasi internalnya sudah menyentuh USD 157 miliar menurut data PitchBook akhir 2023. Artinya, OpenAI bisa saja IPO hari ini dan mengumpulkan puluhan miliar dolar — tapi Altman memilih tidak.
Baca juga: Drone Thermal di Kalimantan: Deteksi Api Lebih Cepat, Tapi Siapa yang Mengendalikannya?
Apa yang Hilang dari Narasi 'Startup Sukses Harus IPO'
Narasi dominan di ekosistem venture capital menyamakan kesuksesan startup dengan pelantaiannya di bursa. Tapi OpenAI membongkar asumsi itu. Perusahaan ini tidak bergantung pada pendanaan publik untuk operasional: pendapatan dari API OpenAI dan langganan ChatGPT Plus diperkirakan mencapai USD 3,7 miliar pada 2024 menurut analisis Goldman Sachs — angka yang membuatnya hampir mandiri secara kas. Yang hilang dari narasi IPO adalah fakta bahwa OpenAI sedang membangun infrastruktur publik digital: model dasar seperti GPT-4 Turbo, sistem safety evaluation, dan kerangka red-teaming yang dibuka untuk regulator Eropa dan AS.
Menurut TechCrunch AI, OpenAI bahkan telah menyiapkan mekanisme audit eksternal independen yang dijalankan oleh lembaga nirlaba seperti AI Safety Institute — sebuah langkah yang bertentangan dengan logika IPO, di mana kontrol saham menentukan prioritas. Ketika perusahaan publik harus menjawab ke pemegang saham, OpenAI justru memperkuat akuntabilitasnya kepada komunitas ilmiah, pembuat kebijakan, dan pengguna umum.
Baca juga: Muse Meta Naik ke Peringkat 2, Tapi Bukan Karena Pengguna Suka
Di Indonesia, dampaknya tidak langsung — tapi signifikan secara psikologis dan struktural. Startup lokal seperti Datasaurus atau Aksara.ai sering dikaitkan dengan model OpenAI sebagai benchmark teknis. Namun, mereka juga mengadopsi narasi "kita harus scale cepat, fundraise besar, lalu IPO". Padahal, OpenAI justru menunjukkan bahwa skala teknis dan dampak sosial bisa lebih penting daripada skala kepemilikan. Belum ada startup AI Indonesia yang mengajukan IPO, dan belum ada yang punya mekanisme governance seketat OpenAI — tapi diskusi tentang bentuk kepemilikan alternatif mulai muncul di forum seperti Startup Grind Jakarta dan acara AI Ethics Forum di Bandung.
Altman tidak menutup kemungkinan IPO sama sekali. Ia menyebut bahwa "jika struktur hukum dan tata kelola global untuk AI matang, maka IPO bisa menjadi opsi yang masuk akal". Artinya, bukan OpenAI yang menyesuaikan diri dengan pasar modal — tapi pasar modal yang harus menyesuaikan diri dengan kompleksitas teknologi generatif. Ini bukan penundaan administratif. Ini adalah negosiasi ulang atas apa artinya menjadi perusahaan teknologi di era post-ChatGPT.
Fakta tambahan yang mengejutkan: OpenAI belum pernah mengungkap jumlah pasti karyawan yang bekerja di tim safety dan alignment — namun menurut dokumen internal yang bocor ke The Information pada Maret 2024, tim tersebut kini berjumlah 112 orang, lebih besar dari tim engineering produk ChatGPT versi awal.
