Setiap tahun, MIT Technology Review memilih tepat 35 nama muda — usia di bawah 35 tahun — yang tidak hanya cerdas, tapi sudah menghasilkan dampak nyata di bidang bioteknologi, material canggih, dan kecerdasan buatan. Angka 35 bukan sembarang pilihan: itu batas usia ketat yang memaksa penilaian berbasis hasil konkret, bukan potensi abstrak atau gelar akademik.
Siapa Sebenarnya yang Masuk Daftar Ini?
Mereka bukan mahasiswa berprestasi atau startup yang baru dapat seed funding. Salah satunya adalah Dr. Amina Chen, 32, yang membangun platform AI untuk memprediksi interaksi protein-obat dengan akurasi 94% — hasil uji klinis fase awal di Singapura dan Jerman. Lainnya adalah Rafael Mendoza, 28, pendiri perusahaan di Meksiko yang mengganti kokas dalam peleburan baja dengan arus listrik berbasis energi surya, menurunkan emisi CO₂ hingga 80% per ton baja dibanding proses konvensional. Menurut MIT Technology Review, daftar ini sengaja dirancang untuk menyoroti 'karya yang sudah keluar dari lab dan masuk ke pabrik atau rumah sakit' — bukan ide yang masih di slide pitch deck.
dari 35 nama tahun ini, 12 berasal dari Asia — termasuk tiga dari Tiongkok, dua dari Korea Selatan, dan satu dari India. Namun tidak ada satu pun dari Indonesia. Bukan karena tidak ada talenta muda di sini, tapi juga karena sistem insentif riset dan skema komersialisasi teknologi masih terlalu lemah untuk mendorong lompatan dari publikasi ilmiah ke produk industri. Di Bandung, misalnya, tim peneliti ITB telah mengembangkan enzim pengurai plastik sejak 2020, tapi belum ada pabrik yang mau mengadopsinya secara skala penuh — hanya uji coba di dua tempat pembuangan akhir.
Baca juga: TeamPCP Ditangkap: Serangan Rantai Pasok Menjangkit 1.000 Organisasi
Baja Bersih tidak hanya Teknologi, tapi juga Geopolitik Material
Kebijakan Uni Eropa mulai 2026 akan menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) — pajak karbon impor untuk baja, semen, dan aluminium. Artinya, baja Indonesia yang masih 70% diproduksi via blast furnace berbasis batubara akan dikenakan bea tambahan hingga €120 per ton jika tidak membuktikan jejak karbon rendah. Dilansir MIT Technology Review, teknologi baja hijau seperti electrochemical reduction atau hydrogen-based direct reduction — yang dikembangkan oleh para inovator muda di daftar ini ; bukan lagi eksperimen teoretis. Di Swedia, HYBRIT sudah mengirimkan 10.000 ton baja tanpa karbon ke Volvo dan SSAB sejak 2023.
Namun di Indonesia, proyek baja hijau masih terbatas pada studi kelayakan oleh Kemenperin dan PLN. Padahal, kita punya keunggulan: potensi energi surya 2.000 GW dan cadangan nikel terbesar dunia — bahan kunci untuk baterai elektrolisis. Yang hilang bukan sumber daya, tapi mekanisme kolaborasi antara peneliti, industri, dan regulator yang bisa mempercepat transisi dari laboratorium ke jalur produksi. Di Jepang, program NEDO memberi subsidi langsung ke startup material selama lima tahun — tanpa syarat royalti atas paten. Di Indonesia, skema seperti ini belum ada.
Baca juga: Eroom's Law dan Jerat Biaya Obat Baru di Era AI
Di sisi bioteknologi, tren global justru bergerak ke desentralisasi: alat diagnosis cepat berbasis CRISPR yang bisa dipakai di puskesmas, atau vaksin mRNA yang diproduksi lokal dengan modul biofabrikasi portabel. Tahun lalu, tim dari Universitas Gadjah Mada berhasil membuat prototipe detektor malaria berbasis DNA amplifikasi isothermal — tapi belum ada izin edar dari BPOM karena regulasi uji klinis masih mengacu pada standar obat konvensional, bukan alat diagnostik berbasis AI.
Ini bukan soal kurangnya talenta. Data Kemristekdikti menunjukkan jumlah publikasi ilmiah Indonesia di bidang bioteknologi naik 42% sejak 2019. Tapi hanya 3,7% dari total paten nasional yang berasal dari riset bioteknologi — dan dari angka itu, kurang dari 10% berhasil dikomersialisasi. Perbandingannya mencolok: di Korea Selatan, 28% paten bioteknologi berujung pada produk komersial dalam waktu lima tahun.
Yang perlu diingat: daftar 35 Innovators Under 35 bukan penghargaan untuk masa depan — ini laporan status quo teknologi dunia saat ini. Mereka yang masuk daftar bukan sedang 'mempersiapkan' revolusi, tapi sedang menjalankannya. Di Indonesia, banyak peneliti muda justru menghabiskan waktu lebih banyak mengisi formulir hibah riset daripada menguji hipotesis di lapangan. Sistem evaluasi masih menghargai jumlah paper, bukan dampak nyata pada rantai pasok atau akses layanan kesehatan.
mirip dengan era 1980-an, ketika Jepang dan Korea Selatan juga sempat tertinggal dalam riset semikonduktor. Mereka tidak menunggu generasi baru lahir — tapi membangun konsorsium industri-pemerintah-universitas (seperti VLSI Technology Research Association di Jepang), lalu memaksa pasar domestik mengadopsi teknologi lokal. Kita belum sampai ke titik itu. Kita masih berdebat apakah AI boleh dipakai di diagnosis medis, sementara di Nairobi, startup lokal sudah pakai model AI untuk deteksi TB dari foto rontgen — dan diakui oleh WHO sebagai alat bantu resmi sejak 2022.
