Ainesia
Gadget & Hardware

UMG dan ElevenLabs Bikin Platform AI untuk Remix Lagu — Siapa yang Dapat Royalti?

Universal Music Group luncurkan platform AI berbasis lisensi dengan ElevenLabs. Pertanyaannya: siapa yang dapat royalti dari remix otomatis — artis, label, atau pengguna?

(10 September 2026)
4 menit baca
Singer with microphone: UMG dan ElevenLabs Bikin Platform AI untuk Remix Lagu — Siapa yang Dapat Royalti?
Ilustrasi UMG dan ElevenLabs Bikin Platform AI untuk Remix Lagu — Siap.

Bagaimana jika Anda bisa menggabungkan suara Ari Lasso dengan beat DJ Snake, lalu menambahkan lirik baru dalam bahasa Jawa — semua dalam tiga menit, tanpa izin eksplisit dari siapa pun? Platform baru Universal Music Group (UMG) bersama ElevenLabs tidak hanya alat eksperimen; ini adalah infrastruktur komersial pertama yang secara resmi memungkinkan publik mengolah katalog lagu berlisensi menjadi konten baru — dengan syarat tertentu.

Apa yang Berubah di Balik Izin 'Opt-In' untuk Artis

Menurut The Verge, UMG tidak mewajibkan artisnya ikut serta dalam platform ini. Setiap musisi berhak memilih — atau menolak — keikutsertaan karyanya dalam sistem generasi AI yang dikembangkan bersama ElevenLabs. Ini berbeda dari kesepakatan sebelumnya dengan Udio atau Spotify, di mana mekanisme opt-out lebih dominan. Dalam model baru ini, artis harus aktif memberikan persetujuan dulu sebelum lagunya bisa di-remix oleh pengguna platform. Artinya, hak kontrol berpindah dari label ke individu ; setidaknya secara formal.

Namun, praktiknya jauh lebih rumit. Kontrak artis mayoritas di Indonesia masih mengalihkan hak eksploitasi digital penuh ke label selama 10–15 tahun. Artis seperti Tulus atau Raisa, meski punya hak moral, belum tentu punya ruang negosiasi untuk memblokir penggunaan AI atas lagu-lagu mereka di bawah kontrak lama. Di sini, 'opt-in' justru bisa jadi ilusi administratif — bukan jaminan otonomi kreatif.

Baca juga: Yoto Hadirkan Dua Perangkat Audio Baru untuk Anak — Tapi Apa yang Berubah di Balik Desainnya?

Siapa yang Dapat Royalti dari Remix Otomatis?

Jawaban singkatnya: belum jelas. UMG belum merilis detail struktur pembagian pendapatan dari platform ini. Yang pasti, ElevenLabs bukan hanya menyediakan teknologi suara — mereka juga mengembangkan model musik generatif yang bisa mensintesis instrumen, harmoni, dan struktur lagu dari data pelatihan berbasis katalog UMG. Artinya, output tidak hanya overlay vokal di atas track asli, tapi juga juga rekombinasi fundamental: melodi baru di atas chord progression lama, atau drum pattern baru yang mengadopsi groove lagu asli.

Dilansir The Verge, platform ini dirancang untuk menghasilkan konten yang memenuhi standar lisensi komersial — artinya, hasil remix bisa dipakai di TikTok, YouTube Shorts, bahkan iklan berbayar, asalkan memenuhi ketentuan UMG. Tapi siapa yang mendapat bagian dari pendapatan iklan itu? Apakah artis mendapat royalti per klik, atau hanya pembayaran satu kali saat menyetujui partisipasi? Atau justru label mengambil 100% karena 'pengolahan AI' dianggap sebagai layanan teknis, bukan karya turunan?

Baca juga: Kamera di AirPods Belum Jadi Kenyataan — dan Itu Kabar Baik

Di Indonesia, persoalan ini semakin krusial. Data Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) 2023 menunjukkan bahwa 68% pendapatan musisi lokal berasal dari streaming — dan 42% dari platform berbasis short-form video seperti TikTok. Jika platform UMG-ElevenLabs menjadi standar baru, maka skema royalti yang tidak transparan akan langsung menggerus penghasilan ribuan pencipta lagu yang kontraknya tak mengatur AI sama sekali.

ElevenLabs sendiri tidak menargetkan pasar konsumen umum. Platform ini akan diluncurkan sebagai layanan B2B — artinya, akses utamanya diberikan ke studio produksi, agensi kreator, dan platform media sosial besar. Di sini, risiko terbesar bukan pada pelanggaran hak cipta, tapi pada penumpukan nilai: nilai kreatif dihasilkan oleh pengguna, nilai teknologi dimiliki ElevenLabs, nilai katalog dimonopoli UMG — sementara nilai ekonomi dari hasil akhir belum tentu mengalir ke pencipta asli.

Ilustrasi antarmuka platform AI remix musik dengan tombol 'Remix', 'Mashup', dan 'Style Transfer', latar belakangnya logo UMG dan ElevenLabs
Ilustrasi: Ilustrasi antarmuka platform AI remix musik dengan tombol 'Remix', 'Mashup', dan 'Style Transfer', latar belakangnya logo UMG dan ElevenLabs

Platform ini juga membuka celah baru bagi pelaku industri musik Indonesia yang selama ini terpinggirkan dari rantai nilai global. Studio kecil di Yogyakarta atau produser independen di Makassar bisa saja mengakses katalog UMG lewat platform ini — tanpa harus bayar lisensi mahal atau urus izin manual. Tapi apakah mereka punya kapasitas hukum dan teknis untuk memverifikasi hak penggunaan? Dan apakah UMG benar-benar akan memproses permohonan opt-in dari artis indie lokal dengan prosedur yang sama seperti dari artis global?

Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan musisi. Pertanyaannya adalah: ketika sebuah lagu bisa diubah, digabung, dan dijual ulang dalam hitungan detik — siapa yang masih punya hak atas jiwa lagu itu?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar