Lebih dari 70 persen rumah tangga urban di Jakarta dan Bandung kini memiliki setidaknya tiga perangkat pintar — dari lampu hingga speaker — tapi hanya 12 persen di antaranya menggunakan satu titik kendali terpusat. Di tengah fragmentasi itu, Anker justru memilih tempat paling biasa: stopkontak dinding. Charger dinding baru mereka tidak hanya colokan dengan indikator LED, tapi juga perangkat berlayar 1,3 inci yang bisa menampilkan notifikasi WhatsApp, prakiraan cuaca, dan bahkan status pengisian baterai dua perangkat sekaligus.
Layar di Stopkontak, Bukan di Ponsel
Ini bukan pertama kali Anker menggabungkan fungsi charger dengan layar — versi prototipe muncul di CES 2022 — tapi ini adalah model pertama yang benar-benar diproduksi massal dan tersedia di pasar global, termasuk melalui distributor resmi di Indonesia mulai Mei 2024. Layar OLED beresolusi 240 × 240 piksel tidak hanya menunjukkan watt yang mengalir, tetapi juga terintegrasi dengan Google Assistant dan Apple Shortcuts lewat Bluetooth LE. Pengguna bisa menekan tombol fisik di samping charger untuk membuka daftar tugas harian atau memicu skenario 'malam hari' yang otomatis mematikan lampu dan menurunkan suhu AC ; semua tanpa menyentuh ponsel.
Dilansir Engadget, desain ini sengaja dibuat agar 'tidak mengganggu mata', artinya layar hanya aktif saat ada interaksi atau notifikasi penting. Mode hemat daya membuatnya mengonsumsi rata-rata 0,8 watt saat idle — lebih rendah dari kebanyakan smart plug konvensional. Itu penting di Indonesia, di mana biaya listrik rumah tangga naik 14 persen rata-rata per tahun sejak 2021 menurut data PLN.
Baca juga: Dua Mobil Otonom Tabrakan di 155 mph — Uji Nyata yang Tak Bisa Dibayar Mahal
Kenapa Bukan Aplikasi Saja?
Pertanyaannya bukan mengapa kita butuh layar di colokan, tapi mengapa aplikasi ponsel gagal menjadi pusat kendali rumah pintar di Indonesia. Survei Lembaga Riset Digital Indonesia (2023) menunjukkan 68 persen pengguna smart home mengeluhkan 'notifikasi hilang di antara 47 aplikasi lain' di ponsel mereka. 92 persen responden mengaku selalu melihat stopkontak setiap hari — entah saat mencari colokan untuk laptop, mengisi power bank, atau memindahkan kipas angin. Anker memanfaatkan frekuensi visual itu: layar di charger bukan menggantikan ponsel, tapi menjadi 'titik singgah mikro' — tempat informasi penting muncul tepat saat pengguna sedang berada di ruang tamu atau dapur, tanpa harus mengeluarkan ponsel dari saku.
Baca juga: OpenAI Klaim Capai Target 'Peneliti AI Otomatis' — Tapi Bukan Akhir, Melainkan Uji Coba Skala Besar
Fitur seperti 'pengingat minum air' atau 'notifikasi paket sampai' tidak diaktifkan secara default. Semua harus dikonfigurasi via aplikasi AnkerWork, yang kemudian mensinkronkan aturan ke perangkat lewat cloud. Artinya, charger ini bukan perangkat mandiri — ia bergantung pada infrastruktur cloud dan kebijakan privasi Anker. Menurut Engadget, data lokasi dan notifikasi hanya diproses secara lokal di perangkat kecuali pengguna mengaktifkan sinkronisasi eksternal. Tapi tidak ada penjelasan transparan soal retensi data atau opsi penyimpanan offline penuh.
Baca juga: Mengapa Cabut Hardisk Eksternal Tanpa 'Eject' Masih Berbahaya di Era AI
Di pasar Indonesia, harga resmi charger ini Rp1.299.000 — setara dengan dua unit smart plug standar atau satu jam tangan pintar entry-level. Harganya memang mahal untuk sebuah colokan, tapi nilai tambahnya bukan di daya keluaran (tetap 65W maksimal), melainkan di reduksi kognitif: satu layar kecil yang menghilangkan kebutuhan membuka empat aplikasi berbeda untuk memeriksa hal dasar. Ini bukan soal teknologi canggih, tapi soal desain perilaku — bagaimana membuat teknologi hadir tanpa harus diminta.
pendekatan serupa pernah dicoba di masa lalu — bukan oleh produsen gadget, tapi oleh produsen listrik. Pada 1998, PLN sempat menguji 'stopkontak cerdas' di beberapa gedung perkantoran Jakarta yang dilengkapi lampu indikator konsumsi harian. Proyek itu gagal karena kurangnya integrasi dengan sistem manajemen energi gedung dan minimnya edukasi pengguna. Kini, dua puluh lima tahun kemudian, Anker berhasil menjual ide yang sama — bukan sebagai alat penghemat listrik, tapi sebagai alat penghemat perhatian. Bedanya: kali ini, layarnya menyala, bukan hanya berkedip.
