Bagaimana sebuah perusahaan teknologi Tiongkok bisa mengakses puluhan ribu chip AI canggih tanpa melanggar sanksi ekspor Amerika Serikat? Jawabannya bukan lewat kapal kargo atau dokumen impor biasa, melainkan melalui kontrak cloud computing dengan perusahaan Amerika — tepatnya Oracle.
Cara Kerjanya: Cloud Bukan Sekadar Sewa Server
Kerja sama Tencent-Oracle yang dilaporkan TechInAsia bukan transaksi chip fisik. Tidak ada kotak berisi H100 atau Blackwell yang dikirim ke Shenzhen. Yang terjadi justru lebih halus: Tencent menyewa kapasitas komputasi skala besar di data center Oracle di luar wilayah yurisdiksi AS — kemungkinan besar di Jepang atau Singapura — dan memanfaatkan akselerator AI yang sudah terpasang di sana. Dengan begitu, chip tidak 'diekspor' ke Tiongkok, melainkan tetap berada di lokasi yang sah secara hukum, sementara akses ke daya komputasinya diberikan via jaringan. Ini bukan celah baru, tapi penerapan paling ambisius hingga kini.
TechInAsia menyebut angka 100.000 unit — bukan jumlah chip fisik, melainkan setara kapasitas pemrosesan AI yang bisa dihasilkan oleh 100.000 chip generasi terbaru. Angka ini setara dengan sekitar 40% dari total kapasitas pelatihan model besar yang dimiliki Alibaba Cloud pada akhir 2023, menurut laporan IDC Asia/Pasifik. Artinya, Tencent tidak sekadar mengisi kekosongan, tapi membangun fondasi komputasi paralel yang nyaris setara dengan rival domestiknya dalam waktu singkat.
Baca juga: LG Uplus dan OptAI Uji Token AI untuk Efisiensi Layanan
Yang Hilang dari Aturan AS: Definisi 'Ekspor' di Era Cloud
Aturan ekspor AS memang melarang penjualan chip AI canggih ke Tiongkok — tapi hanya jika chip itu berpindah kepemilikan atau fisiknya melewati batas negara. Undang-undang AS tidak secara eksplisit mengatur 'akses jarak jauh ke kapasitas komputasi berbasis chip terlarang'. Itulah celah yang dimanfaatkan. Oracle, sebagai penyedia layanan cloud, tidak menjual chip; ia menjual waktu proses (compute time), layaknya sewa ruang kantor virtual. Dan karena servernya berlokasi di luar AS, transaksi ini tidak masuk dalam daftar EAR (Export Administration Regulations).
Dilansir TechInAsia, pendekatan ini juga sedang diuji oleh beberapa startup Tiongkok di bidang bioteknologi dan desain chip semikonduktor — mereka menggunakan infrastruktur Oracle Cloud di Tokyo untuk simulasi molekuler dan verifikasi desain, tanpa harus mengimpor GPU sendiri. Ini menunjukkan bahwa celah ini tidak eksklusif untuk Tencent, tapi menjadi pola baru dalam strategi teknologi nasional Tiongkok: bukan menghindari sanksi, tapi mengelilinginya dengan arsitektur layanan.
Baca juga: Bolttech dan Bold Penguin Bentuk Aliansi Asuransi Global Berbasis AI
pemerintah AS mulai merespons. Pada Maret 2024, Biro Industri dan Keamanan (BIS) mengeluarkan panduan baru yang memperluas definisi 'ekspor' ke layanan cloud berbasis AI — namun aturan itu belum berlaku efektif, dan masih membutuhkan klarifikasi teknis tentang batas bandwidth, durasi akses, dan klasifikasi pengguna akhir. Sampai saat itu, kerja sama seperti Tencent-Oracle tetap beroperasi dalam zona abu-abu hukum.
Bagi industri teknologi Indonesia, skenario ini tidak hanya cerita jauh. Sejumlah startup fintech dan healthtech lokal telah mulai mengandalkan Oracle Cloud Infrastructure (OCI) di Singapura untuk pelatihan model risiko kredit dan deteksi penyakit dari citra medis. Mereka tidak membeli chip, tapi juga memanfaatkan akses ke infrastruktur yang sama — hanya saja dalam skala jauh lebih kecil. Yang membedakan adalah niat: Tencent membangun kapasitas nasional, sementara startup Indonesia masih dalam tahap eksperimen komersial. Namun, ketika regulasi global makin ketat, pertanyaan penting muncul: apakah kita siap beralih dari penyewa cloud ke pembangun infrastruktur AI mandiri?
mirip dengan awal 2000-an, ketika produsen elektronik Tiongkok seperti Lenovo dan Huawei mulai membangun rantai pasok global bukan lewat ekspor barang, tapi lewat akuisisi merek dan manajemen teknologi — seperti Lenovo membeli divisi PC IBM pada 2005. Kali ini, alih-alih membeli pabrik chip, Tencent membeli akses ke kapasitas chip. Polanya sama: memanfaatkan celah regulasi untuk membangun kedaulatan teknologi secara bertahap, bukan instan. Bedanya, kali ini tak ada akuisisi — hanya satu kontrak cloud yang bisa mengubah peta kekuatan komputasi global.
