Ainesia
Gadget & Hardware

Kamera di AirPods Belum Jadi Kenyataan — dan Itu Kabar Baik

AirPods Pro dengan kamera tidak diumumkan di acara Apple September 2024. Rencana itu ditunda hingga 2027, menurut Bloomberg. Ini bukan soal teknologi yang belum siap — tapi soal batas etika yang masih utuh.

(9 September 2026)
4 menit baca
AirPods and notebook setup: Kamera di AirPods Belum Jadi Kenyataan — dan Itu Kabar Baik
Ilustrasi Kamera di AirPods Belum Jadi Kenyataan — dan Itu Kabar Baik.

AirPods Pro dengan kamera tidak hadir di acara peluncuran Apple September 2024 — dan penundaan ini bukan kecelakaan, melainkan pernyataan terselubung bahwa industri masih ragu memasukkan lensa ke dalam telinga pengguna.

Kenapa Kamera di Telinga Lebih Berbahaya daripada di Ponsel

Kamera di ponsel sudah biasa: kita tahu kapan lensa aktif, bisa menutupnya, atau mengatur izin aplikasi. Tapi kamera di earbud beroperasi di ruang privat yang tak terlihat — dekat telinga, tersembunyi di balik daun telinga, dan bisa aktif tanpa indikator fisik yang jelas. Tidak seperti iPhone yang menyala lampu hijau saat kamera menyala, AirPods tidak punya ruang untuk sinyal visual semacam itu. Bahkan desainnya yang kecil membuat sensor cahaya atau LED notifikasi menjadi tidak praktis. Menurut The Verge, prototipe yang bocor menunjukkan kamera berukuran 1,2 mm — cukup kecil untuk lolos dari deteksi mata telanjang, tapi cukup besar untuk merekam ekspresi wajah dari jarak 1,5 meter.

Ini bukan soal paranoia. Di Indonesia, UU ITE Pasal 27 ayat (3) melarang perekaman suara atau gambar tanpa persetujuan eksplisit — tapi undang-undang itu dibuat untuk rekaman dengan alat yang diketahui. Bagaimana jika kamera itu tersembunyi dalam perangkat yang dipakai sehari-hari, bahkan oleh anak-anak? Tidak ada mekanisme 'switch off' fisik, tidak ada log aktivitas kamera di sistem iOS, dan tidak ada audit transparan dari pihak ketiga tentang data video yang dikirim ke server Apple.

Baca juga: OpenAI dan Koordinasi Perlambatan AI: Ancaman Hukum atau Perlindungan Publik?

Yang Hilang dari Narasi 'Inovasi Tanpa Batas'

Narasi inovasi sering kali mengabaikan satu hal mendasar: bukan semua yang bisa dibuat, harus dibuat. Apple memang punya reputasi menjaga privasi — mulai dari App Tracking Transparency hingga on-device processing di Siri — tapi kamera di AirPods menguji batas komitmen itu secara radikal. Bayangkan situasi di kantor Jakarta: seorang staf HR sedang berbicara empat mata dengan karyawan tentang evaluasi kinerja. Kedua orang itu memakai AirPods Pro generasi baru. Apakah kamera di perangkat itu merekam ekspresi wajah sang karyawan? Apakah data itu digunakan untuk analisis afektif ; misalnya, menilai kejujuran berdasarkan gerak alis atau kedipan? Teknologi semacam ini sudah ada di startup AS seperti Affectiva, dan Apple punya tim riset afektif di Cupertino sejak 2021.

Dilansir The Verge, rumor kamera di AirPods Pro pertama kali muncul lewat laporan Mark Gurman di Bloomberg pada Februari 2024. Ia menyebut kamera itu dirancang untuk 'augmented reality pasif' — membaca lingkungan sekitar pengguna guna meningkatkan navigasi suara atau konten AR di kacamata Apple Vision. Tapi fungsi sekundernya justru lebih mengkhawatirkan: pelacakan gerak kepala, deteksi tatap mata, dan pengenalan wajah orang di sekitar — tanpa notifikasi, tanpa konfirmasi ulang, dan tanpa opsi 'opt-out permanen' di pengaturan dasar.

Baca juga: California Larang Chatbot Berbohong ke Anak di Bawah 18

Di Indonesia, tren adopsi wearable tech memang naik signifikan: survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023 mencatat 28% pengguna smartphone usia 18–34 tahun sudah memakai earbud pintar secara rutin. Namun, literasi privasi digital masih rendah — hanya 12% responden yang bisa menjelaskan apa itu 'on-device processing', dan kurang dari 5% yang pernah memeriksa izin kamera di perangkat audio mereka. Artinya, risiko penyalahgunaan tidak datang dari niat jahat Apple, tapi dari ketidakseimbangan antara kompleksitas teknologi dan kapasitas pengguna untuk mengontrolnya.

Ilustrasi close-up AirPods Pro dengan garis putus-putus menunjukkan lokasi kamera mikro di bagian batang earbud
Ilustrasi: Ilustrasi close-up AirPods Pro dengan garis putus-putus menunjukkan lokasi kamera mikro di bagian batang earbud

Penundaan hingga 2027 tidak hanya masalah teknis. Ini adalah jeda strategis — kesempatan bagi regulator seperti Kominfo dan Otoritas Jasa Keuangan (untuk layanan finansial berbasis suara) untuk menyusun panduan teknis. Misalnya: apakah kamera di earbud harus mematuhi aturan yang sama dengan kamera pengintai publik di UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik? Haruskah ada label 'perangkat berlensa' di kemasan, seperti label 'mengandung kafein' di minuman energi? Pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab — dan justru karena itulah penundaan ini penting.

Apple tidak pernah mengonfirmasi rencana kamera di AirPods secara resmi., tapi juga keputusan tidak mengumumkannya di acara besar — padahal semua elemen lain sudah siap: chip A19, sensor IMU baru, dan integrasi dengan Vision Pro — menunjukkan bahwa prioritas internal berubah. Bukan lagi 'bisakah kita memasukkan kamera?', tapi 'haruskah kita memasukkannya, dan siapa yang akan menanggung risiko sosialnya?'. Jawaban atas pertanyaan kedua belum siap ; dan mungkin memang tidak akan pernah siap, selama teknologi tetap dilihat sebagai sarana, bukan sebagai entitas yang punya dampak moral sendiri.

Jika suatu hari nanti kamera di AirPods benar-benar rilis, bukan soal apakah teknologinya canggih. Tapi soal apakah kita, sebagai masyarakat, sudah sepenuhnya siap menjawab satu pertanyaan sederhana: Siapa yang sebenarnya sedang mengamati siapa?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar