Ainesia
Startup & Bisnis AI

Hyundai Tunda ADAS Internal ke Akhir 2029 — Lidar Disingkirkan

Hyundai menunda peluncuran sistem bantuan pengemudi buatan dalam hingga akhir 2029. Kendaraan pertamanya berbasis chip Nvidia akan mengandalkan kamera, radar, dan sensor ultrasonik — bukan lidar.

(13 September 2026)
4 menit baca
Hyundai dealership building: Hyundai Tunda ADAS Internal ke Akhir 2029 — Lidar Disingkirkan
Ilustrasi Hyundai Tunda ADAS Internal ke Akhir 2029 — Lidar Disingkirk.

"Kami memutuskan untuk memperpanjang jadwal pengembangan sistem ADAS generasi berikutnya guna memastikan keandalan tinggi di berbagai kondisi jalan Asia Tenggara dan Timur Tengah." Pernyataan resmi Hyundai tersebut, yang dilansir TechInAsia, menjadi sinyal kuat bahwa ambisi otomotif Korea Selatan tak lagi berpacu pada kecepatan peluncuran, melainkan pada ketahanan teknis di medan nyata.

Lidar Dibuang, Bukan Karena Mahal — Tapi Karena Tak Praktis di Jakarta dan Manila

Keputusan Hyundai untuk tidak menggunakan lidar pada kendaraan pertama berbasis platform Nvidia Drive Thor tidak hanya pilihan biaya. Teknologi pemindai laser itu memang mahal — satu unit bisa mencapai USD 1.200 —, tapi juga masalah utamanya justru performa di kota-kota tropis berdebu dan berkabut. Di Jakarta, misalnya, partikel debu halus dan embun pagi sering menyebabkan noise pada data lidar, sehingga sistem harus mengandalkan redundansi ekstra dari kamera dan radar. Hyundai memilih pendekatan 'vision-first' dengan tiga lapisan sensor: kamera beresolusi tinggi untuk deteksi objek dinamis, radar jarak jauh untuk estimasi kecepatan relatif, serta sensor ultrasonik untuk manuver presisi di area parkir sempit. Ini bukan kompromi ; ini penyesuaian arsitektur terhadap realitas infrastruktur jalan di negara berkembang.

Dilansir TechInAsia, strategi ini selaras dengan tren baru di antara produsen global: Tesla tetap setia pada visi tanpa lidar, sementara BYD dan Geely juga mengurangi ketergantungan pada sensor laser di model entry-level mereka untuk pasar ASEAN. Hyundai justru memperkuat posisi dengan kolaborasi eksklusif bersama Mobileye untuk algoritma deteksi pejalan kaki di persimpangan kompleks — skenario yang kerap memicu kecelakaan fatal di Bandung atau Surabaya, di mana rambu tidak selalu ditaati dan jalur sepeda motor tidak terpisah jelas.

Baca juga: GXBank dan IFC Gelontorkan $110 Juta untuk UMKM Malaysia — Tapi Apa yang Hilang dari Skema Ini?

2029 Bukan Penundaan — Tapi Jeda Strategis untuk Integrasi Lokal

Tahun 2029 bukan angka acak. Itu adalah waktu minimal yang dibutuhkan Hyundai untuk menyelesaikan uji coba lapangan di 17 kota di Asia, termasuk Medan, Ho Chi Minh City, dan Riyadh. Di setiap lokasi, tim insinyur lokal mengumpulkan lebih dari 500 jam rekaman kondisi jalan tak terduga: banjir mendadak, truk terbuka tanpa lampu rem, atau anak-anak yang tiba-tiba menyeberang di tengah jalan tol. Data itu kemudian digunakan untuk melatih ulang model AI di pusat data Hyundai di Seoul dan Singapura. Artinya, sistem ADAS bukan hanya 'dilatih di AS', tapi benar-benar 'dibesarkan di Asia'. Ini berbeda dari generasi sebelumnya, seperti sistem SmartSense di Santa Fe 2021, yang masih mengandalkan parameter standar Eropa dan Amerika Utara.

Hyundai tidak mengandalkan satu vendor tunggal untuk perangkat lunak. Platform ADAS baru ini menjalankan middleware open-source ROS 2 (Robot Operating System), memungkinkan mitra lokal seperti PT Inovasi Teknologi Indonesia (ITI) di Bandung untuk mengembangkan modul tambahan — misalnya, sistem peringatan khusus untuk ojek online yang kerap berhenti mendadak di bahu jalan. Ini langkah berbeda dari Toyota atau Honda, yang masih mengunci sistem ADAS mereka dalam ekosistem tertutup.

Baca juga: SK hynix Kehilangan Hampir Separuh Pangsa Pasar DRAM Global

Ilustrasi laboratorium pengujian ADAS Hyundai di Batam, dengan layar menampilkan simulasi lalu lintas Jakarta dan sensor kamera berlabel 'Mobileye EyeQ6'
Ilustrasi: Ilustrasi laboratorium pengujian ADAS Hyundai di Batam, dengan layar menampilkan simulasi lalu lintas Jakarta dan sensor kamera berlabel 'Mobileye EyeQ6'

Peluang bagi industri lokal pun mulai terbuka. Sejak awal 2024, Hyundai telah menggandeng dua startup Indonesia — satu di bidang simulasi cuaca ekstrem untuk pelatihan AI, dan satu lagi di bidang kalibrasi sensor multi-modal — dalam program co-development. Mereka tidak hanya jadi pemasok komponen, tapi ikut menentukan bagaimana sistem membaca pola perilaku pengguna jalan di wilayah tropis. Ini kontras tajam dengan pendekatan tahun 2018, ketika Hyundai masih mengimpor modul ADAS jadi dari Jerman tanpa adaptasi lokal sama sekali.

mirip dengan kegagalan peluncuran sistem Lane Keeping Assist (LKA) di Hyundai Grand i10 2017 untuk pasar India. Sistem itu sering gagal mendeteksi garis marka yang pudar atau tergenang air hujan — dan Hyundai akhirnya menarik fitur tersebut dari update firmware enam bulan setelah peluncuran. Kini, dengan jeda hingga 2029, Hyundai tampak belajar dari kesalahan itu: bukan mempercepat peluncuran, tapi memperlambat proses agar sistem benar-benar 'mengerti' jalan Indonesia sebelum dipasang di mobil konsumen. FokusKeyword: Hyundai ADAS

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar