"Kami tidak membangun data center lagi — kami membangun laboratorium skala nasional untuk AI generasi berikutnya." Kalimat itu, meski bukan kutipan langsung dari eksekutif TCS, mewakili semangat proyek ambisius yang diumumkan perusahaan IT India pada awal April 2024: kampus data center berbasis kecerdasan buatan senilai USD 7,4 miliar — setara Rp123 triliun ; di kawasan Hyderabad.
Bukan Data Center Biasa, Tapi Ekosistem Terkonsolidasi
Kampus seluas 264 acre (sekitar 1.070 hektare) ini tidak hanya penambahan kapasitas server. Ia dirancang sebagai satu kesatuan fungsional: pusat pelatihan AI untuk 100.000 insinyur per tahun, fasilitas R&D kolaboratif dengan universitas lokal, dan zona inkubasi bagi startup berbasis foundation model. Pendinginan cair — teknologi yang menggantikan udara dengan cairan khusus untuk menyerap panas chip GPU — menjadi tulang punggung desainnya. Teknologi ini memungkinkan densitas komputasi hingga tiga kali lipat dibanding sistem konvensional, sekaligus menekan konsumsi energi per petaflop hingga 40% menurut studi terbaru dari Green500.
Dilansir TechInAsia, proyek ini akan dibangun secara bertahap dalam lima tahun, dengan fase pertama rampung pada akhir 2026. Yang menonjol bukan hanya skalanya, tapi juga juga integrasinya: kampus ini akan terhubung langsung dengan jaringan fiber optik nasional India dan memiliki akses prioritas ke sumber energi terbarukan lokal — termasuk pembangkit surya milik Tata Power di Telangana. Ini bukan investasi infrastruktur biasa; ini adalah upaya sistematis untuk mengunci posisi India sebagai trusted execution hub bagi klien global yang butuh compute intensif tanpa risiko geopolitik atau ketidakpastian regulasi.
Baca juga: Korea Selatan Siap Luncurkan Surat Berharga Ter-tokenisasi Februari 2027
Di Mana Indonesia Berdiri Saat India Mempercepat?
Indonesia belum punya satu pun pusat data berbasis liquid cooling berskala nasional. Bahkan data center Tier IV terbesar di Jakarta — yang dioperasikan oleh provider seperti Biznet atau DCI — masih mengandalkan sistem pendinginan udara berbasis chiller dan CRAC. Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (APJII) 2023, hanya 12% dari total 87 fasilitas data center di Tanah Air yang telah mengadopsi teknologi pendinginan lanjutan, dan tak satupun menyasar beban komputasi AI training skala besar.
Padahal, permintaan pasar lokal untuk layanan AI-as-a-Service tumbuh signifikan: survei IDC Asia/Pacific menunjukkan bahwa pengeluaran korporasi Indonesia untuk solusi AI meningkat 28% year-on-year pada 2023. Namun, mayoritas perusahaan — mulai dari bank hingga e-commerce — masih mengandalkan cloud publik asing (AWS, Azure, GCP) untuk pelatihan model. Alasannya jelas: ketersediaan GPU, latensi rendah, dan dukungan teknis yang terintegrasi. Sementara itu, TCS justru membangun infrastruktur yang bisa menarik klien global dari dalam negeri, tidak hanya menjual jasa konsultasi dari luar.
Baca juga: Micron Gandeng Taiwan dan Singapura untuk Perkuat Pasokan HBM
Tantangan terbesar bukan hanya teknis, tapi juga juga ekosistem. Di India, proyek ini didukung oleh kebijakan 'IndiaAI Mission' yang mengalokasikan USD 1,3 miliar untuk infrastruktur AI nasional, serta insentif pajak khusus untuk investasi R&D di bidang komputasi tinggi. Di Indonesia, Perpres No. 112/2022 tentang Strategi Nasional Kecerdasan Buatan belum diikuti aturan turunan soal insentif infrastruktur, standar efisiensi energi data center, atau skema kemitraan publik-swasta untuk pembangunan pusat komputasi nasional.
Yang lebih mencolok adalah perbedaan pendekatan bisnis. TCS tidak mengunci platformnya untuk klien internal. Sebaliknya, ia membuka akses API terbatas ke model bahasa khusus industri — seperti 'TCS BaNCS-AI' untuk perbankan — bagi mitra teknologi dan startup lokal. Model ini mempercepat adopsi tanpa memaksa klien beralih penuh ke ekosistem tunggal. Di Indonesia, sebagian besar inisiatif AI masih berbentuk pilot project terisolasi, sering kali tanpa roadmap migrasi ke produksi skala luas.
Investasi USD 7,4 miliar ini tidak hanya angka — ia adalah cerminan pilihan strategis: apakah sebuah negara ingin menjadi konsumen teknologi, atau menjadi bagian dari rantai nilai pembuatan teknologi itu sendiri. TCS memilih yang kedua. Dan pilihannya bukan hanya soal modal, tapi juga soal keberanian mengintegrasikan kebijakan, pendidikan, dan infrastruktur dalam satu arah.
Lalu, jika Indonesia ingin membangun kampus AI nasional dalam lima tahun ke depan — bukan hanya data center, tapi ekosistem terkonsolidasi — apa yang harus dikorbankan dulu: subsidi listrik untuk data center, insentif pajak untuk R&D, atau kebijakan wajib pemakaian komponen lokal dalam proyek digital pemerintah?
