Bayangkan seorang teknisi di gudang logistik Surabaya sedang memperbaiki konveyor rusak. Ia menyerahkan obeng kecil ke robot berdiri tinggi 1,7 meter di sampingnya. Robot itu menerima alat itu dengan jari-jari lentur—bukan cakar mekanis kaku—lalu memutar mur dengan presisi, tanpa goyah. Skenario ini belum terjadi di Indonesia hari ini. Tapi teknologi yang memungkinkannya sudah ada: H2 Plus, humanoid baru dari kolaborasi Sharpa dan Unitree.
Apa yang Berubah dari H2 ke H2 Plus?
Unitree H2, robot humanoid empat kaki yang dirilis awal 2024, dikenal karena mobilitasnya—bisa berjalan, naik tangga, bahkan melompat. Namun kemampuan manipulasinya sangat terbatas: hanya dilengkapi dua lengan dasar tanpa jari. Sharpa, startup robotics berbasis Singapura, mengubahnya menjadi platform kerja nyata dengan menambahkan dua tangan lima jari—masing-masing menawarkan 22 degrees of freedom (DoF). Artinya, setiap tangan bisa meniru gerak alami manusia hingga level sendi jari kelingking dan ibu jari. Ini tidak hanya penambahan aksesori; ini pergeseran arsitektur kontrol. Dari robot yang bisa berjalan tapi tak bisa memutar sekrup, menjadi sistem yang bisa mengganti filter AC di gedung perkantoran atau menyusun komponen elektronik di pabrik.
Dilansir TechInAsia, integrasi ini dilakukan melalui antarmuka perangkat keras dan perangkat lunak khusus yang dikembangkan Sharpa—bukan modifikasi off-the-shelf. Tim teknis mereka tidak hanya mengganti end-effector, tapi juga merekonstruksi pipeline pengolahan sensor, feedback loop gerak, dan model prediksi kontak fisik. Hasilnya: H2 Plus bisa mengangkat beban hingga 3 kg per tangan dengan toleransi kesalahan posisi kurang dari 0,5 mm—presisi yang dibutuhkan untuk perakitan mikroelektronik, bukan hanya pemindahan kotak.
Baca juga: SpaceX Capai $18,7 Miliar di 2025 — Tapi Jalan ke $1 Triliun Bukan Soal Roket Saja
Kenapa Lima Jari Bukan Empat atau Enam?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan insinyur robotika: mengapa desain tangan humanoid tetap setia pada anatomi manusia? Jawabannya bukan soal estetika, tapi infrastruktur dunia nyata. Sebagian besar alat kerja—obeng, kunci pas, keyboard, bahkan pintu geser—dirancang untuk lima jari manusia. Membangun robot dengan empat jari berarti harus mendesain ulang seluruh ekosistem alat kerja. Sharpa memilih jalur pragmatis: memaksimalkan kompatibilitas dengan dunia yang sudah ada. Di pabrik-pabrik di Batam atau Karawang, tidak perlu mengganti semua peralatan hanya karena robot baru masuk. Cukup ubah prosedur operasional; dan pelatihan operator.
Teknologi tangan lima jari ini juga membuka ruang bagi human-robot collaboration (HRC) yang lebih aman. Dengan 22 DoF, sistem dapat mendeteksi tekanan sentuhan secara real-time dan menghentikan gerak dalam 40 milidetik jika mendeteksi resistensi tak terduga—misalnya saat jari robot bersentuhan tak sengaja dengan tangan manusia. Ini bukan fitur tambahan, tapi syarat wajib untuk sertifikasi keselamatan ISO/TS 15066, yang mulai diterapkan di pabrik otomotif nasional seperti Astra Honda Motor dan Toyota Astra Motor sejak 2023.
Baca juga: EU Gelontorkan 10 Miliar Euro untuk Pabrik AI — Tapi Indonesia Masih Impor Model
Di Indonesia, adopsi robot humanoid masih sangat rendah—kurang dari 0,3 unit per 10.000 pekerja manufaktur, menurut data Kementerian Perindustrian 2024. Bandingkan dengan Korea Selatan (1.080), Jepang (420), atau bahkan Vietnam (12). Namun, permintaan untuk solusi otomasi di sektor logistik dan perakitan elektronik tumbuh cepat: nilai pasar robotics industri Indonesia diproyeksikan mencapai Rp1,2 triliun pada 2026, menurut riset Frost & Sullivan yang dikutip oleh TechInAsia. Banyak perusahaan lokal justru memilih impor solusi siap pakai—seperti H2 Plus; daripada mengandalkan startup domestik, karena percepatan waktu implementasi dan standarisasi global.
Sharpa sendiri belum mengumumkan harga atau rencana distribusi resmi ke Indonesia. Namun, uji coba awal telah dilakukan di dua lokasi: pusat logistik Lazada di Johor Bahru dan bengkel perawatan mesin di Changi Business Park. Di kedua tempat, fokusnya bukan pada penggantian tenaga kerja, tapi juga augmentasi—robot bertindak sebagai asisten teknisi senior yang bisa bekerja 24 jam tanpa kelelahan fisik. Di satu kasus, H2 Plus berhasil mengurangi waktu inspeksi rutin mesin CNC dari 45 menit menjadi 19 menit, dengan dokumentasi otomatis berbasis visi 3D.
Yang mengejutkan: Unitree H2 awalnya dirancang untuk aplikasi militer dan eksplorasi—bukan industri manufaktur. Versi awalnya bahkan tidak memiliki port standar untuk integrasi tangan eksternal. Sharpa harus mengembangkan modul adaptor khusus yang menggantikan seluruh sistem kontrol lengan bawaan. Artinya, H2 Plus tidak hanya varian produk, tapi juga bukti bahwa arsitektur robot humanoid generasi baru memang dirancang untuk direkayasa ulang—seperti PC modular, bukan konsol tertutup.
