Roku sedang mempertimbangkan kemungkinan dijual — keputusan strategis yang muncul tepat ketika lini bisnis iklannya mencatat pertumbuhan 27% year on year menjadi US$613 juta pada kuartal pertama 2024. Ini bukan tanda kelemahan operasional, melainkan sinyal bahwa nilai perusahaan kini lebih tinggi sebagai aset terpisah daripada sebagai entitas mandiri dalam jangka panjang.
Apa yang Mendorong Roku Jadi Target Akuisisi?
Platform streaming asal Amerika Serikat ini tidak lagi sekadar penyedia sistem operasi untuk smart TV atau perangkat streaming stick. Roku telah bertransformasi menjadi salah satu pemain paling dominan dalam 'advertising stack' digital — mengumpulkan data penonton, menjual slot iklan secara real-time, dan bahkan menawarkan measurement tools untuk pengiklan. Menurut TechInAsia, Roku kini menguasai lebih dari 20% pasar streaming TV di AS, dengan lebih dari 75 juta akun aktif. Skala itu membuatnya menarik bagi raksasa media seperti Comcast, Paramount, atau bahkan Amazon — yang bisa memperkuat posisi mereka di tengah tekanan regulasi dan fragmentasi audiens.
Tidak seperti Netflix atau Disney+, Roku tidak bergantung pada konten eksklusif. Model bisnisnya justru menghindari risiko produksi dan lisensi. Ia bertindak sebagai 'traffic director': mengarahkan penonton ke berbagai layanan (HBO Max, Hulu, Prime Video), lalu mengambil komisi dari iklan yang tayang di antara konten tersebut. Di sinilah letak kekuatan uniknya — ia netral, tapi sangat terintegrasi. Setiap kali penonton membuka aplikasi YouTube di Roku OS, Roku tetap mendapat bagian dari iklan yang muncul.
Baca juga: TSMC: Krisis Talenta Lebih Mengancam daripada Kekeringan
Bisnis Iklan Roku vs. Ekosistem Digital Indonesia
Di Indonesia, belum ada platform lokal yang berhasil meniru model ini secara utuh. GoPlay dan Vidio fokus pada konten dan langganan, bukan pada infrastruktur iklan berbasis data penonton. Sementara itu, perusahaan seperti Trans Media atau MNC Vision masih mengandalkan iklan linear dan programmatic buying yang terbatas pada web dan mobile — bukan pada layar besar dengan perilaku tontonan yang jauh lebih terukur. Roku membuktikan bahwa nilai sebenarnya bukan di konten, tapi di kendali atas aliran penonton dan ruang iklan di antara konten itu.
Dilansir TechInAsia, Roku mengklaim 85% dari total waktu tonton di perangkatnya berasal dari aplikasi pihak ketiga — bukan dari layanan milik Roku sendiri. Artinya, ia bukan pesaing bagi Netflix atau Spotify, melainkan mitra yang menguntungkan semua pihak. Di Indonesia, skenario semacam ini sulit terwujud karena fragmentasi sistem operasi TV pintar (Android TV, Tizen, WebOS) dan minimnya standarisasi data penonton lintas platform. Belum lagi, regulasi perlindungan data pribadi di Indonesia belum cukup kuat untuk mendukung ekosistem iklan berbasis behavioral targeting seperti yang dijalankan Roku.
Baca juga: Base10 Kumpulkan $850 Juta untuk Startup AI Awal
pertumbuhan iklan Roku tidak datang dari peningkatan harga slot iklan semata, melainkan dari peningkatan efisiensi penargetan dan transparansi pengukuran. Roku menyediakan 'Roku Metrics', sebuah dashboard yang menunjukkan kepada pengiklan berapa banyak penonton yang benar-benar menonton iklan selama 10 detik pertama, berapa yang menekan tombol skip, dan bahkan seberapa sering iklan tersebut diklik untuk aksi lanjutan. Di pasar Indonesia, mayoritas pengiklan masih mengandalkan CPM konvensional tanpa verifikasi viewability — apalagi engagement depth.
Industri iklan digital Indonesia memang tumbuh cepat: menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), belanja iklan digital nasional mencapai Rp12,4 triliun pada 2023. Namun, hanya sekitar 12% dari angka itu dialokasikan untuk video streaming — dan hampir seluruhnya masuk ke YouTube dan Facebook. Roku membuktikan bahwa pasar 'connected TV advertising' bisa jauh lebih menguntungkan jika infrastrukturnya dimiliki dan dikelola secara vertikal. Sayangnya, di sini, infrastruktur itu masih tersebar di tangan produsen TV, operator telekomunikasi, dan platform konten — tanpa koordinasi data maupun standar monetisasi bersama.
Keputusan Roku untuk membuka opsi akuisisi tidak hanya soal valuasi. Ini adalah pengakuan bahwa masa depan industri streaming bukan lagi tentang siapa punya konten terbanyak, tapi juga siapa punya kendali paling luas atas cara orang menonton — dan, lebih penting lagi, cara iklan menemukan penonton itu. Di tengah gelombang konsolidasi global, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia butuh platform seperti Roku, tapi: siapa yang akan membangunnya — dan apakah regulasi serta industri lokal siap memberi ruang?
