Ainesia
Startup & Bisnis AI

Meta Putus Kerja Sama dengan Manus Usai Deal Dibatalkan Regulator China

Meta memutus hubungan operasional dengan startup AI Manus setelah akuisisi US$2 miliar dibatalkan paksa oleh otoritas China. Langkah ini mengungkap kerapuhan kemitraan lintas batas di tengah ketegangan regulasi teknologi.

(11 Juni 2026)
4 menit baca

"Meta has severed operational ties with Manus following the reversal of their acquisition deal." Kalimat itu tidak hanya pernyataan korporat—melainkan sinyal keras bahwa geopolitik digital kini bisa memutus rantai kolaborasi teknologi dalam hitungan minggu, bahkan tanpa proses hukum panjang.

Akuisisi yang Tak Pernah Benar-Benar Lahir

Akuisisi senilai US$2 miliar antara Meta dan Manus—startup asal Shanghai yang fokus pada AI untuk otomatisasi tugas kompleks—resmi dibatalkan pada April lalu. Bukan karena kegagalan integrasi teknis atau perbedaan strategi, tapi juga karena intervensi langsung Komisi Pengawas Investasi Asing China (MOFCOM). Regulator tersebut menilai transaksi berpotensi mengancam keamanan data nasional dan dominasi pasar AI domestik. Dilansir TechInAsia, pembatalan ini tidak hanya penundaan administratif, tapi pembatalan de jure: semua dokumen akuisisi dinyatakan tidak sah sejak awal, dan seluruh transfer kepemilikan dibatalkan secara retroaktif.

Yang membuat kasus ini unik adalah kecepatan eksekusi. Dalam industri teknologi global, proses review merger biasanya memakan waktu 6–12 bulan. Di sini, keputusan final keluar hanya dalam 47 hari sejak pengajuan resmi—waktu tercepat dalam sejarah MOFCOM untuk transaksi lintas batas bernilai lebih dari US$1 miliar. Tidak ada pengecualian bagi raksasa seperti Meta: aturan diterapkan sama, bahkan ketika pihak asing sudah menggelontorkan dana tahap awal dan mulai mengintegrasikan tim R&D di Beijing.

Baca juga: CrowdStrike Masuk Kelompok Identitas Digital Saat AI Agent Meledak

Kerugian Operasional yang Tak Terhitung dalam Angka

Meta tidak hanya kehilangan akses ke teknologi Manus—yang mengembangkan sistem 'task automation agents' berbasis model bahasa khusus untuk proses bisnis—tapi juga harus menarik kembali 14 insinyur AI yang telah ditempatkan di kantor Shanghai sejak Januari. Mereka bukan karyawan Manus, tapi juga staf Meta yang ditugaskan sebagai bagian dari 'integration task force'. Penarikan mendadak ini memicu gangguan pada proyek internal Meta bernama Project Aegis, yang mengandalkan pipeline data lokal China untuk pelatihan model multilingual. Menurut TechInAsia, proyek tersebut kini tertunda minimal enam bulan; dan belum ada rencana pengganti yang diumumkan.

Bagi Manus sendiri, dampaknya lebih struktural. Startup itu sempat mengklaim memiliki 37 klien korporat di Tiongkok, termasuk tiga bank besar dan dua operator telekomunikasi. Namun, pasca-pembatalan, empat dari lima mitra strategisnya membatalkan kontrak kerja sama teknis—bukan karena kualitas produk, melainkan karena kekhawatiran reputasi: bekerja erat dengan perusahaan yang baru saja 'dikalahkan' regulator dianggap berisiko politik tinggi. Ini bukan soal kepercayaan teknis, tapi soal persepsi kekuasaan.

Baca juga: Samsung Buka Akses ChatGPT untuk Karyawan: Sinyal Akhir Era AI Internal Monolitik

Di Indonesia, skenario serupa belum terjadi—tapi bukan berarti aman. Sejak 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia telah menerbitkan panduan ketat soal penggunaan AI generatif oleh lembaga keuangan. Meski belum ada pembatalan akuisisi, tekanan regulasi terhadap kemitraan lintas batas semakin nyata. Perusahaan seperti Gojek dan Tokopedia yang dulu aktif menjalin aliansi teknologi dengan startup Singapura atau India kini lebih sering membangun solusi internal—bukan karena kemampuan teknis, tapi karena risiko ketergantungan pada pihak ketiga yang bisa saja terkena imbas kebijakan negara lain.

Ilustrasi kantor pusat Meta di Menlo Park dan gedung perkantoran Manus di distrik Zhangjiang, Shanghai, dipisahkan oleh garis merah tebal bertuliskan 'Regulatory Barrier'
Ilustrasi: Ilustrasi kantor pusat Meta di Menlo Park dan gedung perkantoran Manus di distrik Zhangjiang, Shanghai, dipisahkan oleh garis merah tebal bertuliskan 'Regulatory Barrier'

Manus tidak menghilang begitu saja. Startup itu kini sedang mengajukan lisensi AI khusus ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk aplikasi di sektor kesehatan—sebuah langkah cerdik: sektor kesehatan di China justru mendapat insentif regulasi lebih longgar dibanding keuangan atau media. Artinya, mereka tidak menyerah pada regulasi, tapi beralih ke celah yang masih terbuka—meski skalanya lebih kecil dan marginnya lebih tipis.

Meta, tampaknya belajar dari kesalahan. Dalam memo internal yang bocor pekan lalu, divisi Global Strategy menyebut bahwa semua akuisisi lintas batas di Asia Timur kini harus melewati 'regulatory stress test'—analisis simulasi dampak jika regulator setempat membatalkan transaksi di hari ke-30. Itu bukan lagi soal due diligence hukum, tapi soal antisipasi kekalahan politik. Seperti dikatakan direktur strategi Meta untuk Asia Pasifik dalam rapat internal: "Kami tidak lagi membeli teknologi. Kami membeli izin untuk tetap berada di sana."

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar