Bayangkan: jam 19.30 di kawasan King's Cross, hujan rintik-rintik, kereta bawah tanah baru tutup. Seorang mahasiswa asal Manchester membuka aplikasi Uber, mengetik alamat tujuan, lalu melihat opsi baru—'Wayve Autonomous Ride'. Tak ada nama sopir, tak ada foto profil, hanya logo biru-putih Uber dan ikon mobil bercahaya biru muda. Ia menekan 'Pesan', dan dalam tiga menit, sebuah mobil listrik tanpa kemudi berhenti tepat di depannya. Ini bukan skenario fiksi ilmiah. Ini akan terjadi di London akhir tahun ini.
London Dipilih Sebelum Berlin atau Paris
Uber tidak memulai layanan robotaxi di kota-kota yang biasanya jadi pelopor teknologi otomatis—bukan di San Francisco, bukan di Shenzhen, juga bukan di Tokyo. Pilihan jatuh pada London, meski Inggris belum memiliki kerangka hukum khusus untuk kendaraan otonom tingkat 4. Dilansir The Verge, langkah ini tidak hanya ekspansi geografis, tapi juga uji coba politik sekaligus teknis: bisa atau tidaknya model bisnis robotaxi bertahan di negara dengan infrastruktur jalan tua, cuaca tak menentu, dan regulasi transportasi yang masih mengandalkan aturan lalu lintas abad ke-20. London menjadi lokasi pertama di Eropa Barat yang dipilih Wayve—startup berbasis di Cambridge; untuk uji komersial berskala terbatas, setelah sebelumnya hanya menjalankan tes tertutup di wilayah Milton Keynes dan Oxford.
Uber tidak mengandalkan teknologi LIDAR mahal seperti pesaingnya di AS. Wayve menggunakan pendekatan berbeda: AI berbasis visi (vision-first) yang belajar dari jutaan kilometer berkendara di jalan nyata—termasuk kondisi jalan berlubang, pejalan kaki mendadak, dan lampu lalu lintas yang tak selalu terdeteksi kamera konvensional. Teknologi ini sudah diuji di 17 kota Inggris sejak 2022, tetapi baru kali ini diintegrasikan langsung ke dalam ekosistem ridehailing publik. Tidak ada pengemudi cadangan di kursi depan—meski awalnya sistem akan dilengkapi operator remote yang siaga 24 jam dari pusat kendali di Bristol.
Baca juga: Alibaba dan Baidu Masuk Daftar Hitam Pentagon: Apa Artinya untuk Ekosistem AI Global?
Regulasi Inggris Masih Berada di Belakang Kurva
Di saat AS dan Tiongkok telah mengizinkan operasi penuh robotaxi di zona tertentu—seperti Waymo di Phoenix dan Baidu Apollo di Beijing—Inggris justru baru mengesahkan Automated Vehicles Act pada Juli 2024. Undang-undang itu baru mulai berlaku efektif Maret 2025. Artinya, Uber x Wayve akan beroperasi dalam celah hukum: layanan komersial dimulai sebelum kerangka regulasi resmi rampung. Menurut The Verge, Uber mengandalkan izin eksperimental dari Department for Transport (DfT) dan otoritas lokal, bukan lisensi penuh. Ini berarti batasan ketat: hanya area tertentu di London barat daya (termasuk Richmond dan Wimbledon), kecepatan maksimal 30 mph, dan larangan operasi di malam hari atau saat hujan lebat.
Padahal, data dari Transport for London menunjukkan bahwa 62% perjalanan Uber di ibu kota terjadi antara pukul 18.00–01.00—persis saat layanan robotaxi dilarang beroperasi. Jadi, meski disebut 'layanan publik', akses sebenarnya sangat terbatas: hanya 12% dari total permintaan harian Uber di London yang memenuhi syarat teknis dan regulasi untuk robotaxi. Itu pun hanya untuk pengguna yang telah mendaftar lebih dulu melalui pengaturan aplikasi—bukan fitur yang muncul otomatis di semua akun.
Baca juga: Registrasi Wajah SIM: 5 Tantangan Teknis yang Belum Diuji di Lapangan
Bagi industri transportasi Indonesia, skenario ini memberi sinyal penting: adopsi robotaxi tidak lagi soal kesiapan teknologi semata, tapi soal keselarasan antara kecepatan inovasi dan ketahanan institusi. Di Jakarta, misalnya, regulasi kendaraan otonom masih nol besar—tidak ada draft aturan, tidak ada uji coba terbatas, bahkan belum ada definisi hukum tentang 'pengemudi' dalam konteks AI. Sementara itu, startup lokal seperti Qlue dan TransJakarta mulai menguji sistem manajemen lalu lintas berbasis AI, tapi belum menyentuh kendaraan otonom. Perbedaan waktu antara London dan Jakarta dalam hal kesiapan regulasi bukan hitungan bulan—melainkan hitungan dekade.
Yang mengejutkan, Wayve tidak berencana memperluas layanan ke kota-kota Eropa lain dalam dua tahun ke depan. Fokus mereka tetap pada Inggris—dan khususnya London—karena di sinilah data jalan paling kompleks tersedia: tikungan tajam, rambu lalu lintas beragam, jalur sepeda yang sering berubah, dan interaksi tak terduga antara bus dua lantai, taksi hitam, dan pejalan kaki. Data inilah yang menjadi bahan bakar utama pelatihan AI mereka. London bukan sekadar pasar; tapi laboratorium terbuka berukuran kota.
Fakta tambahan yang jarang diungkap: Wayve adalah satu-satunya startup otonom di dunia yang berhasil menguji kendaraan tanpa LIDAR di kondisi urban penuh—dan tetap mempertahankan tingkat keamanan lebih tinggi dari rata-rata manusia menurut laporan internal DfT tahun 2023. Tidak ada sensor mahal, hanya kamera dan AI yang belajar dari kekacauan nyata—bukan simulasi sempurna.
