Ainesia
Startup & Bisnis AI

Rapidus dan Ambisi Jepang Membangun Chip Sendiri

Jepang menggelontorkan $944 juta lagi untuk Rapidus — tidak hanya dana, tapi juga sinyal bahwa negara itu sedang membangun kembali fondasi teknologi nasional dari nol.

(24 Agustus 2026)
4 menit baca
Rapidus company logo: Rapidus dan Ambisi Jepang Membangun Chip Sendiri
Ilustrasi Rapidus dan Ambisi Jepang Membangun Chip Sendiri.

Bayangkan pabrik fabrikasi semikonduktor di Hokkaido yang masih berupa fondasi beton dan tiang baja, dikelilingi pagar sementara dan rambu proyek. Di dalam ruang kontrol simulasi, insinyur muda Rapidus menatap layar yang menunjukkan alur proses litografi 2nm — teknologi yang belum pernah dioperasikan di Jepang sejak 2012. Di luar jendela, hujan salju tipis turun di bulan Februari 2025. Ini bukan adegium film fiksi ilmiah. Ini adalah fase nyata dari upaya Jepang merebut kembali kedaulatan chip.

Apa yang Berbeda dari Dana Kali Ini?

Dana tambahan $944 juta yang diumumkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) tidak hanya top-up anggaran. Ini adalah komitmen ketiga berturut-turut dalam tiga tahun — setelah $630 juta pada 2022 dan $870 juta pada 2023 — yang menunjukkan pergeseran strategis: dari dukungan awal ke investasi operasional penuh. Dilansir TechInAsia, METI juga akan mengusulkan alokasi lebih besar lagi dalam anggaran fiskal 2027, menandai transisi dari tahap eksperimen ke fase produksi skala penuh.

Yang membedakan dana kali ini adalah fokusnya: 65% dialokasikan untuk pengadaan peralatan fabrikasi generasi terbaru dari AS dan Belanda, termasuk sistem lithography EUV dari ASML dan mesin etching dari Lam Research. Sisanya digunakan untuk pelatihan insinyur lokal dan pembangunan fasilitas cleanroom kelas 10 — tingkat kebersihan yang hanya dimiliki oleh TSMC dan Samsung di Asia. Artinya, Jepang tidak hanya ingin punya pabrik, tapi ingin menguasai rantai pasok kritis secara mandiri, mulai dari desain hingga manufaktur.

Baca juga: Neural Drive Potong Biaya Alat Komunikasi Bantu 90% Tanpa Operasi

Kenapa Rapidus tidak hanya Startup Biasa?

Rapidus bukan perusahaan swasta konvensional. Didirikan pada 2022 sebagai konsorsium antara Sony, Toyota, NTT, NEC, Mitsubishi, dan SoftBank — semua perusahaan yang selama puluhan tahun menjadi konsumen utama chip Jepang — Rapidus adalah entitas hybrid: perusahaan komersial dengan misi negara. Struktur kepemilikannya unik: 40% saham dimiliki oleh pemerintah melalui Japan Investment Corporation (JIC), sisanya dibagi rata di antara delapan korporasi pendiri. Ini berarti keputusan teknis seperti pemilihan arsitektur chip atau prioritas pelanggan tidak sepenuhnya didorong pasar, tapi juga juga pertimbangan keamanan nasional dan ketahanan rantai pasok.

TechInAsia mencatat bahwa Rapidus telah menjalin kerja sama teknis dengan IBM sejak 2023, khususnya dalam pengembangan chip berbasis arsitektur Power10 dan teknologi packaging 2.5D/3D. Namun, kemitraan ini bukan soal lisensi teknologi mentah. IBM memberikan akses ke metodologi desain dan verifikasi, sementara Rapidus harus membangun kemampuan manufaktur sendiri — termasuk mengembangkan proses lithography tanpa bantuan langsung dari ASML. Ini adalah tantangan teknis yang belum pernah dihadapi negara mana pun dalam dua dekade terakhir.

Baca juga: Stripe Masuk Singapura: Apa Artinya untuk UMKM Indonesia?

Di tengah tekanan geopolitik, Jepang justru memilih jalan yang paling sulit: membangun ekosistem chip dari bawah. Berbeda dengan Korea Selatan yang mengandalkan TSMC sebagai mitra manufaktur atau Taiwan yang sudah memiliki infrastruktur matang, Jepang harus memulai ulang — dari pelatihan operator fabrikasi hingga membangun jaringan pemasok material ultra-murni seperti silikon epitaksial dan resist photochemical. Bahkan, universitas-universitas seperti Tokyo Institute of Technology dan Osaka University kini membuka program spesialisasi fabrikasi semikonduktor dengan kurikulum yang disusun bersama Rapidus.

Bagi Indonesia, cerita Rapidus bukan hanya soal persaingan global. Ini adalah pengingat keras bahwa kedaulatan teknologi tidak bisa dibeli dalam bentuk produk jadi — tapi juga dibangun lewat investasi berkelanjutan dalam pendidikan teknis, regulasi industri yang mendukung, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan korporasi. Di saat banyak negara berkembang mengandalkan impor chip untuk kendaraan listrik atau smart grid, Jepang memilih membangun fondasi sendiri — bahkan ketika biayanya jauh melebihi proyek infrastruktur transportasi nasional.

Salah satu fakta yang jarang diungkap: Rapidus telah merekrut lebih dari 120 insinyur dari pabrik fabrikasi NEC di Ibaraki yang ditutup pada 2017 — orang-orang yang masih mengingat cara mengkalibrasi mesin lithography generasi 90nm. Mereka kini menjadi 'penjaga api' pengetahuan manufaktur chip Jepang, mentor bagi generasi baru yang belajar dari nol. Tanpa mereka, ambisi 2nm bukan hanya teknis, tapi historis — mustahil.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar