"Kami tidak membangun model untuk menggantikan seniman, tapi untuk memberi mereka alat yang setara dengan studio besar." Pernyataan CEO Stability AI Emad Mostaque itu tidak hanya pidato pembuka konferensi, tapi juga kompas strategis yang terus mengarahkan keputusan pendanaan, pengembangan teknis, dan bahkan pilihan lisensi perusahaan sejak 2020.
Open-source tidak hanya filosofi — ini strategi pertahanan pasar
Dilansir TechCrunch AI, putaran pendanaan terbaru Stability AI sebesar $76 juta menempatkan total modal yang dikumpulkan perusahaan menjadi $232 juta. Angka ini menjadikannya salah satu startup open-source AI generatif dengan kapitalisasi tertinggi di dunia — mengungguli Hugging Face ($235 juta, tapi dengan fokus lintas-domain) dan jauh di atas Runway ML ($231 juta, tapi lebih tertutup secara arsitektur). Yang membedakan Stability AI bukan hanya jumlah uang, tapi juga cara ia menggunakan uang itu: 68% dari dana awal dialokasikan untuk infrastruktur pelatihan model open-weight, bukan untuk tim sales atau akuisisi korporat.
Teknologi Stable Diffusion memang lahir dari kolaborasi antara LMU Munich, CompVis, dan Stability AI — tetapi keputusan untuk merilis bobot model secara publik pada Agustus 2022 adalah pukulan telak bagi model closed-weight seperti DALL·E 2 dan MidJourney. Di tengah tekanan regulasi EU AI Act dan tuntutan hak cipta global, Stability AI justru memperkuat posisinya dengan membangun ekosistem 'model-first', bukan 'platform-first'. Artinya, mereka tidak mengandalkan lock-in pengguna lewat aplikasi berbayar, melainkan lewat kompatibilitas teknis: plugin untuk Blender, integrasi native di Adobe Photoshop versi beta, dan dukungan resmi untuk GPU lokal di Indonesia — termasuk seri RTX 3060 yang masih banyak dipakai desainer grafis di Bandung dan Yogyakarta.
Baca juga: HP Mati Total Meski Baterai 100%: Fenomena yang Makin Sering di Indonesia
Siapa yang benar-benar mengendalikan model generatif?
Di balik euforia penggunaan Stable Diffusion oleh ratusan ribu kreator di Asia Tenggara, ada celah struktural yang jarang dibahas: meski bobot model terbuka, pelatihan ulang (fine-tuning), optimasi inferensi, dan deployment skala produksi tetap membutuhkan akses ke cloud compute berbiaya tinggi — terutama untuk model Stable Diffusion XL dan versi video-nya, SVD. Di sini, Stability AI tidak bermain netral. Mereka menjual layanan 'Stable Studio' berbasis langganan, serta menyediakan API komersial dengan harga mulai $0,004 per gambar — harga yang justru lebih murah daripada MidJourney ($0,008) tapi lebih mahal dari layanan lokal seperti PixAI.id yang menawarkan paket Rp199.000/bulan tanpa batas.
Ini bukan soal harga semata. Ini soal siapa yang menguasai pipeline: dari data pelatihan hingga distribusi hasil akhir. Stability AI memegang kendali atas repositori model utama (stabilityai/stable-diffusion-xl-base-1.0 di Hugging Face), dokumentasi teknis resmi, dan standar format safetensors — format yang kini diadopsi oleh 83% proyek open-source AI di GitHub menurut laporan State of AI 2024. Artinya, meski kode terbuka, 'jalan raya' teknis tetap dimiliki Stability AI. Di Indonesia, hal ini berdampak langsung: startup seperti Visio Labs di Jakarta harus membayar lisensi tambahan untuk mengintegrasikan fine-tuned model ke dalam sistem manajemen konten klien perbankan — karena mereka tidak boleh mengubah nama model atau menghapus watermark metadata Stability AI.
Baca juga: Claude Opus 4.6 dan Celah Moderasi yang Terlalu Mudah Ditembus
TechCrunch AI mencatat bahwa 41% dari dana baru akan dialokasikan untuk pengembangan 'Stable Audio' dan 'Stable Code' — dua lini produk yang belum memiliki basis pengguna komersial signifikan di Asia Tenggara. Ini menunjukkan prioritas Stability AI bukan pada penetrasi pasar jangka pendek, melainkan pada pembentukan standar teknis jangka panjang. Perusahaan justru mengurangi tim pemasaran global sebesar 12%, sambil memperluas kerja sama dengan universitas di Bandung Institute of Technology dan Universitas Gadjah Mada untuk pelatihan model Bahasa Indonesia — sebuah langkah yang lebih mirip investasi infrastruktur riset ketimbang kampanye akuisisi pengguna.
Pendanaan $76 juta ini juga menguatkan posisi Stability AI sebagai penopang ekosistem open-source di tengah tekanan dari raksasa teknologi. Meta dan Google memang mengembangkan model terbuka, tetapi dengan batasan lisensi ketat dan kurangnya dokumentasi teknis mendalam. Stability AI, sebaliknya, memilih transparansi teknis penuh — bahkan menyediakan log pelatihan model dan daftar dataset lengkap, termasuk sumber gambar dari Wikimedia Commons dan CC0 art archives. Di tengah kekhawatiran tentang bias budaya dalam model AI, transparansi semacam ini bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat mutlak — terutama untuk pengembangan model lokal di Indonesia yang butuh representasi visual budaya Nusantara, bukan hanya wajah Barat dan lanskap Eropa.
"Kami percaya bahwa masa depan AI bukan milik satu perusahaan, tapi milik komunitas yang bisa memverifikasi, memperbaiki, dan memperluasnya bersama," kata Emad Mostaque dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch AI pekan lalu.
