Ainesia
Startup & Bisnis AI

Base10 Kumpulkan $850 Juta untuk Startup AI Awal

Base10 Partners kini mengelola dana lebih dari $1,3 miliar setelah mengumpulkan $850 juta baru. Fokusnya: startup AI tahap benih — bukan yang sudah go public atau berpendapatan tinggi.

(12 Juni 2026)
4 menit baca
Dollar bills on American flag: Base10 Kumpulkan $850 Juta untuk Startup AI Awal
Ilustrasi Base10 Kumpulkan $850 Juta untuk Startup AI Awal.

Bayangkan seorang insinyur muda di Bandung, baru lulus dari ITB, sedang menyusun kode untuk sistem deteksi kebocoran pipa air di kota-kota kering Jawa Timur. Ia punya model AI sederhana, tapi tak punya akses ke infrastruktur cloud murah, mentor bisnis, atau jaringan investor yang paham teknis. Di Amerika Serikat, skenario seperti ini justru menjadi pintu masuk bagi Base10 Partners — bukan untuk menunggu startup itu mencapai $10 juta pendapatan, melainkan saat masih di garasi dengan tiga orang dan satu server Raspberry Pi.

Dilansir TechInAsia, Base10 Partners baru mengumpulkan $850 juta dalam dana terbaru mereka, yang akan dialokasikan khusus untuk startup AI tahap awal — istilah industri menyebutnya 'pre-revenue' atau bahkan 'pre-product-market-fit'. Dana ini tidak hanya tambahan kapital; ini adalah pernyataan strategis bahwa fase paling rapuh dalam siklus hidup startup AI — saat ide belum teruji di pasar, tapi juga riset teknisnya sudah menunjukkan potensi . Layak didukung secara sistematis, bukan hanya lewat hibah riset atau kompetisi kampus.

Managing partner Adeyemi Ajao menegaskan bahwa tim Base10 tidak mencari 'AI-powered SaaS' generik. Mereka membidik startup yang membangun 'infrastructure layer' baru: alat pelatihan model kecil untuk industri manufaktur, platform verifikasi data lokal berbasis bahasa Indonesia dan daerah, atau sistem integrasi AI ke dalam ERP legacy milik UMKM. Ini berbeda dari tren umum di Asia Tenggara, di mana banyak dana ventura masih menunggu startup menunjukkan pertumbuhan ARR (Annual Recurring Revenue) minimal $2 juta sebelum berani masuk.

Baca juga: Kyndryl Luncurkan Orkestrasi AI — Tapi Apa Artinya bagi Penyedia Infrastruktur Lokal?

Apa yang Berubah dari Pola Pendanaan Tradisional?

Pendanaan tahap awal untuk AI selama ini sering kali bersifat reaktif: investor mengejar startup yang sudah viral di GitHub atau mendapat endorsement dari peneliti MIT. Base10 justru proaktif — mereka membentuk tim teknis internal yang melakukan 'technical due diligence' dalam waktu kurang dari 10 hari, bukan minggu. Tim ini tidak hanya menilai kode, tetapi juga kemampuan founder memahami batasan model AI dalam konteks spesifik, misalnya akurasi deteksi kerusakan pada mesin tekstil tua di Surabaya yang beroperasi di bawah 60% kelembaban relatif.

Tidak ada jaminan bahwa semua portofolio Base10 akan sukses. Namun, pola ini mengurangi bias 'founder pedigree' — artinya, lulusan universitas non-Ivy League atau founder dari negara berkembang pun bisa dinilai setara, asalkan solusi teknisnya relevan dan terukur. Menurut TechInAsia, dari 23 startup yang didanai Base10 sejak 2020, 70% masih aktif beroperasi — angka yang lebih tinggi dibanding rata-rata 42% untuk dana ventura fokus AI tahap awal di AS versi PitchBook 2023.

Baca juga: Meta Putus Kerja Sama dengan Manus Usai Deal Dibatalkan Regulator China

Kenapa Indonesia Belum Punya Model Serupa?

Di Indonesia, skema pendanaan tahap benih untuk AI masih sangat jarang. Sebagian besar dana lokal — seperti East Ventures atau AC Ventures — memulai investasi di tahap Series A, ketika startup sudah memiliki klien beta dan revenue minimal Rp500 juta per tahun. Sementara program pemerintah seperti Digital Talent Scholarship atau Inovasi Indonesia fokus pada pelatihan, bukan pada pengembangan produk komersial berbasis AI yang bisa langsung diadopsi industri.

Padahal, kebutuhan teknisnya nyata: sistem prediksi gagal panen di Sulawesi Selatan butuh model AI ringan yang bisa berjalan di smartphone petani tanpa internet stabil. Platform deteksi penyakit tanaman di Jawa Barat memerlukan dataset lokal berlabel tinggi — bukan dataset global yang dominan berbahasa Inggris dan berbasis tanaman Eropa. Tanpa dana yang mau turun ke level teknis ini, solusi-solusi tersebut terpaksa dikembangkan sebagai proyek sampingan atau bergantung pada hibah riset yang prosesnya lambat dan tidak komersial.

mirip dengan masa awal pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Pada 2011–2012, investor lokal enggan membiayai startup seperti Tokopedia atau Bukalapak karena dianggap 'terlalu dini', sementara dana asing seperti Sequoia Capital dan SoftBank baru masuk setelah keduanya menunjukkan skala operasional. Sekarang, Base10 memilih bertindak sebelum skala itu muncul — bukan menunggu startup AI Indonesia membuktikan diri di pasar global, tapi membantu mereka membangun fondasi teknis yang bisa bertahan di pasar domestik terlebih dahulu.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar