Ainesia
Gadget & Hardware

Prada dan NASA: Saat Fashion House Jadi Mitra Teknologi Antariksa

Baju luar angkasa generasi baru LCVG bukan sekadar pelindung tubuh—tapi hasil kolaborasi tak terduga antara rumah mode Italia dan badan antariksa AS.

(13 Juni 2026)
4 menit baca
Prada dan NASA: Saat Fashion: Prada dan NASA: Saat Fashion House Jadi Mitra Teknologi Antariksa
Ilustrasi Prada dan NASA: Saat Fashion House Jadi Mitra Teknologi Anta.

Lebih dari 50 tahun setelah Neil Armstrong menginjakkan kaki di Bulan dengan baju antariksa berbahan neoprene dan lapisan aluminium, NASA kini memilih Prada—bukan Lockheed Martin atau Collins Aerospace—untuk merancang komponen kritis dalam pakaian eksplorasi permukaan Bulan. Bukan logo yang dicetak di lengan, melainkan sistem pendingin canggih bernama Liquid Cooling and Ventilation Garment (LCVG) yang akan menempel langsung di kulit astronaut selama misi Artemis III.

tidak hanya Branding, Tapi Material Science yang Diuji di Vakum

LCVG bukan baju luar angkasa utuh, tapi juga lapisan dalam berupa rompi berjaringan mikro yang mengalirkan air dingin ke seluruh tubuh. Sistem ini mencegah overheating saat astronaut beraktivitas di suhu permukaan Bulan yang bisa mencapai 127°C di siang hari dan minus 173°C di malam hari. Prada tidak hanya menyuplai desain estetika—mereka ikut mengembangkan tekstil tahan radiasi, fleksibel di bawah tekanan rendah, dan kompatibel dengan sistem sirkulasi fluida NASA. Menurut Tempo Tekno, kolaborasi ini dimulai sejak 2021 lewat program NASA's A-SPoC (Advanced Space Suit Productivity and Comfort), yang secara khusus membuka pintu bagi mitra non-tradisional seperti desainer dan insinyur material sipil.

Yang mengejutkan, Prada tidak masuk lewat tender umum. Mereka dipilih setelah berhasil membuktikan bahwa serat polimer khusus buatan laboratorium Milan—yang awalnya dikembangkan untuk jaket ski premium—mampu bertahan lebih lama dalam simulasi siklus termal ekstrem dibanding bahan konvensional milik industri aerospace. Uji coba di Chamber 10.4 di Johnson Space Center menunjukkan penurunan degradasi material hingga 40% setelah 200 siklus suhu ; angka yang membuat tim NASA mempertimbangkan ulang asumsi lama tentang batas usia pakai pakaian antariksa.

Baca juga: Jakarta Gelap Sejam, Emisi Turun 60 Ton: Apa yang Terlewat dari Hitungannya?

Bagaimana Desainer Mode Memecahkan Masalah Teknis yang Menghambat Misi Bulan Sejak 2009?

Masalah pendinginan tubuh astronaut bukan hal baru. Dalam misi Apollo, astronaut kerap mengeluh kelelahan dini karena sistem pendingin LCG generasi pertama hanya mendinginkan dada dan punggung—bukan leher, ketiak, atau telapak tangan. Sejak 2009, NASA telah menghabiskan lebih dari USD 1,2 miliar untuk memperbarui sistem pakaian antariksa, tapi belum menemukan solusi yang ringan, efisien, dan mudah diproduksi massal. Prada justru menawarkan pendekatan berbeda: bukan menambah lapisan isolasi, melainkan mengoptimalkan aliran termal lewat geometri jaringan mikro yang presisi—mirip cara mereka mendesain ventilasi pada jaket Alpine Series.

Dilansir Tempo Tekno, tim Prada bekerja bersama para insinyur biotermal dari MIT dan University of Texas di Austin untuk memetakan titik panas fisiologis manusia dalam kondisi gravitasi rendah. Hasilnya adalah pola aliran air pendingin yang tidak simetris—lebih padat di area lipatan sendi dan lebih longgar di daerah otot statis. Ini tidak hanya inovasi tekstil, tapi rekayasa ergonomi berbasis data fisiologis nyata dari 32 astronaut aktif.

Baca juga: Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana untuk Masalah Sampah Laut yang Tak Sederhana

Di Indonesia, kolaborasi semacam ini masih jarang terjadi. Industri tekstil nasional—yang menyumbang 12% dari ekspor manufaktur—masih fokus pada produksi massal kain katun dan polyester, bukan material fungsional berbasis sensor atau respons termal. Padahal, riset LIPI dan BPPT sejak 2018 sudah menghasilkan prototipe kain nanosilver untuk perlindungan UV dan bakteri, namun belum ada integrasi ke sistem teknologi tinggi seperti pakaian antariksa. Kemitraan Prada-NASA justru menunjukkan bahwa batas antara fashion, material science, dan aerospace semakin kabur; dan kunci keberhasilannya bukan pada skala produksi, tapi juga pada presisi rekayasa mikro.

Yang juga patut dicatat: Prada tidak mengambil alih fungsi teknis utama. Mereka tetap berada di lapisan 'interface'—tempat tubuh manusia bertemu mesin. Ini justru memperkuat posisi desainer sebagai insinyur pengalaman manusia (human-centered engineers), bukan sekadar pembuat bentuk. Dalam konteks Indonesia, peluang ini terbuka lebar bagi lulusan desain industri dan teknik material yang mau turun ke laboratorium, bukan hanya ke studio.

"Kami tidak membuat baju untuk Bulan. Kami membuat baju yang memungkinkan manusia tetap menjadi manusia—meski sedang berdiri di atas regolith," ujar Miuccia Prada dalam wawancara eksklusif dengan The New York Times, yang kemudian dikutip ulang oleh NASA dalam presentasi Artemis III Technical Briefing.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar