Ainesia
Startup & Bisnis AI

MetaX Incar Bursa Hong Kong Usai Lonjakan 564% Pasca-IPO Shanghai

Startup chip AI asal Tiongkok, MetaX, mengincar pencatatan di bursa Hong Kong setelah valuasi melonjak jadi $41 miliar. ini bukan hanya ekspansi pasar—melainkan strategi navigasi geopolitik dalam perang semikonduktor global.

(14 Juni 2026)
4 menit baca
MetaX company logo: MetaX Incar Bursa Hong Kong Usai Lonjakan 564% Pasca-IPO Shanghai
Ilustrasi MetaX Incar Bursa Hong Kong Usai Lonjakan 564% Pasca-IPO Sha.

MetaX, pembuat chip kecerdasan buatan asal Tiongkok, kini menargetkan pencatatan saham di Bursa Efek Hong Kong—langkah yang menyusul lonjakan harga saham sebesar 564% sejak IPO di Shanghai pada awal 2024. Valuasi perusahaan mencapai sekitar $41 miliar, menjadikannya salah satu unicorn teknologi paling bernilai di Asia Timur dalam dua tahun terakhir.

Lonjakan Saham tidak hanya Euforia Pasar

Lompatan 564% itu bukan hasil spekulasi semata. Menurut TechInAsia, kenaikan ini didorong oleh tiga faktor konkret: pertama, pengiriman massal chip MX-300 ke pusat data milik State Grid dan China Mobile; kedua, penandatanganan kontrak lisensi dengan lima universitas riset nasional untuk integrasi arsitektur chip dalam kurikulum AI. Ketiga, pengumuman bahwa 78% dari 124 paten inti MetaX telah diverifikasi sebagai bebas lisensi AS melalui audit independen oleh SGS Shanghai. Artinya, MetaX tidak hanya bertahan di tengah pembatasan ekspor AS terhadap teknologi semikonduktor canggih—tapi justru memperkuat posisinya sebagai alternatif domestik yang bisa dipercaya.

Dilansir TechInAsia, proses verifikasi paten ini memakan waktu 14 bulan dan melibatkan tim hukum lintas yurisdiksi dari Beijing, Singapura, dan Berlin. Hasilnya tidak hanya sertifikat—melainkan izin operasional eksplisit bagi pelanggan strategis untuk menggunakan chip MetaX tanpa risiko sanksi sekunder. Di tengah ketegangan perdagangan global, ini menjadi nilai tawar tak ternilai.

Baca juga: SpaceX Capai $18,7 Miliar di 2025 — Tapi Jalan ke $1 Triliun Bukan Soal Roket Saja

Hong Kong Bukan Sekadar Pintu ke Modal—Tapi Jembatan ke Dunia Anglofon

Pemilihan Hong Kong sebagai tujuan pencatatan berikutnya bukan keputusan finansial biasa. Ini adalah langkah geopolitik yang dihitung matang. Berbeda dengan Shanghai atau Shenzhen, Bursa Hong Kong masih menggunakan sistem akuntansi internasional (IFRS), bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dokumen emiten, dan memiliki akses langsung ke investor institusional dari London, New York, dan Dubai. Untuk MetaX, ini berarti kemungkinan besar mendapatkan alokasi modal dari sovereign wealth fund seperti GIC Singapura atau ADIA Abu Dhabi—yang selama ini enggan masuk ke bursa daratan karena kendala transparansi laporan keuangan dan regulasi kepemilikan asing.

MetaX tidak mengajukan pencatatan ganda (dual listing), tapi juga juga rencana pencatatan sekunder dengan mekanisme cross-border share conversion. Artinya, saham yang diperdagangkan di Hong Kong akan dikonversi secara otomatis ke saham Shanghai—dan sebaliknya—melalui sistem yang diatur oleh China Securities Regulatory Commission (CSRC) dan Securities and Futures Commission (SFC) Hong Kong. Ini adalah skema yang baru diuji coba sejak Maret 2024, dan MetaX menjadi salah satu dari tiga emiten pertama yang menggunakannya.

Baca juga: EU Gelontorkan 10 Miliar Euro untuk Pabrik AI — Tapi Indonesia Masih Impor Model

Di Indonesia, skenario serupa belum muncul. Meski BEI telah menggodok kerja sama dengan bursa Singapura dan Tokyo, belum ada mekanisme konversi saham lintas yurisdiksi yang dioperasikan secara real-time. Perusahaan teknologi lokal seperti Tokopedia atau GoTo masih mengandalkan pendanaan venture capital atau obligasi korporasi—bukan pencatatan lintas batas. Padahal, potensi pasar digital Indonesia jauh lebih besar dibandingkan banyak negara ASEAN lainnya.

MetaX juga menunjukkan bahwa keberhasilan startup teknologi tidak lagi ditentukan oleh lokasi kantor pusat, tapi oleh kemampuan membaca peta regulasi global. Chip MX-300 dirancang dengan arsitektur open-source RISC-V—bukan ARM atau x86—sehingga bebas dari lisensi AS. Desainnya pun memprioritaskan efisiensi daya (2.1 watt per TOPS), bukan kecepatan mentah. Ini membuatnya cocok untuk aplikasi edge AI di kota pintar, logistik cerdas, dan sistem pemantauan energi; segmen yang sedang berkembang pesat di kawasan Asia Tenggara.

mirip dengan kejadian serupa dua dekade lalu: ketika SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation) mengincar pencatatan di New York pada 2004, hanya untuk mundur karena tekanan politik dan kekhawatiran keamanan nasional AS. Kini, MetaX tidak menghindari Barat—melainkan memilih jalur ketiga: Hong Kong sebagai wilayah netral yang tetap berada dalam lingkaran hukum Tiongkok namun terhubung ke sistem keuangan global. Ini bukan pelarian. Ini adalah redefinisi ulang dari apa artinya menjadi perusahaan teknologi global di era fragmentasi teknologi.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar