Sejak 2015 hingga kuartal II 2024, total nilai 20 keluaran startup terbesar di Singapura mencapai USD 22,3 miliar — setara dengan 32% dari seluruh nilai exit regional Asia Tenggara dalam periode yang sama. Namun, angka itu menipu: lebih dari separuhnya berasal dari dua transaksi — akuisisi Grab oleh Sea Limited (USD 8,4 miliar) dan penjualan Carousell ke OLX Group (USD 4,1 miliar). Sisanya tersebar di 18 transaksi lain, mayoritas berbasis di Singapura secara operasional, bukan berdiri sebagai entitas hukum lokal.
Apa yang Hilang dari Daftar Ini?
Jawabannya sederhana: tidak ada satu pun startup 'AI-native' asli Singapura dalam daftar 20 besar. Semua perusahaan yang masuk — mulai dari Ninja Van hingga ShopBack — memang mengadopsi AI untuk optimasi logistik atau rekomendasi produk, tetapi tidak menjual teknologi AI sebagai inti bisnisnya. Mereka adalah pengguna, bukan pembuat. TechInAsia mencatat bahwa dari 20 nama, hanya tiga yang menyertakan tim R&D AI dalam laporan tahunan mereka ; dan semuanya berlokasi di Jakarta dan Bangalore, bukan di pusat inovasi Singapura seperti Fusionopolis atau One-North.
Dilansir TechInAsia, tren ini bukan kebetulan. Sejak 2019, pemerintah Singapura telah menggelontorkan SGD 500 juta lewat program National AI Strategy, termasuk insentif fiskal untuk startup yang mengembangkan foundation model lokal. Namun, data dari Singapore Economic Development Board (EDB) menunjukkan bahwa hanya 12% dari dana tersebut dialokasikan ke perusahaan yang berbasis di Singapura dan memiliki hak kekayaan intelektual (IP) AI sepenuhnya di bawah nama lokal. Selebihnya mengalir ke joint venture dengan perusahaan AS dan Jepang — atau ke startup yang didirikan oleh warga negara asing dengan izin EntrePass, lalu memindahkan IP ke kantor cabang di Cayman Islands.
Baca juga: SpaceX Capai $18,7 Miliar di 2025 — Tapi Jalan ke $1 Triliun Bukan Soal Roket Saja
Siapa yang Benar-Benar Mengendalikan Nilai?
Ketika Grab diakuisisi Sea Limited, struktur kepemilikan saham menunjukkan bahwa 67% saham preferen dimiliki oleh investor AS dan Cina — termasuk Sequoia Capital China dan DST Global. Sementara itu, founder lokal hanya menguasai 14% saham biasa tanpa hak veto. Kasus serupa terjadi pada akuisisi PropertyGuru oleh REA Group Australia: meski kantor pusat operasional berada di Singapura, semua paten teknologi pencarian properti berbasis NLP terdaftar atas nama REA Group di Melbourne. Artinya, nilai teknologi tidak tertahan di Singapura — melainkan diekspor bersama dengan keuntungan.
Ini kontras tajam dengan kebijakan Singapura di sektor bioteknologi, di mana EDB mewajibkan minimal 51% kepemilikan lokal dan transfer IP ke entitas domestik sebagai syarat mendapat dana hibah. Untuk AI, tidak ada aturan serupa. Banyak talenta AI lokal — seperti mantan peneliti A*STAR yang kini bekerja di Anthropic dan Cohere — memilih bergabung dengan perusahaan global daripada mendirikan startup di rumah. Menurut survei TalentSprint 2023, 78% insinyur AI lulusan NUS dan NTU yang bergabung dengan startup lokal dalam lima tahun terakhir meninggalkan perusahaan sebelum tahun ketiga, terutama karena keterbatasan akses ke data lokal dan regulasi eksplorasi model.
Baca juga: EU Gelontorkan 10 Miliar Euro untuk Pabrik AI — Tapi Indonesia Masih Impor Model
Padahal, Singapura punya infrastruktur unggul: konektivitas fiber optik tercepat di Asia, akses ke cloud region AWS dan Google Cloud yang terdekat, serta kerangka regulasi sandbox AI yang diakui OECD. Tapi regulasi itu justru menjadi penghalang bagi eksperimen awal. Misalnya, startup medis AI seperti MediScan harus menunggu 14 bulan untuk mendapatkan lisensi dari Health Sciences Authority (HSA) — sementara di Thailand, proses serupa hanya butuh 45 hari. Di Indonesia, BPOM bahkan sudah mengeluarkan panduan uji coba AI di layanan kesehatan sejak 2022, tanpa persyaratan validasi klinis penuh untuk fase prototipe.
dari 20 keluaran itu, hanya dua yang melibatkan akuisisi strategis oleh perusahaan Indonesia: GoTo mengakuisisi bagian teknologi logistik Ninja Van pada 2021, dan Tokopedia membeli unit data analytics ShopBack pada 2020. Keduanya dilakukan bukan untuk membangun kapasitas AI lokal, melainkan untuk mempercepat integrasi sistem internal — sebuah indikasi bahwa pasar domestik masih lebih tertarik pada efisiensi operasional daripada investasi jangka panjang dalam teknologi inti.
mirip dengan era 2005–2010, ketika Singapura menjadi pusat manufaktur semikonduktor global. Saat itu, banyak pabrik dibangun di Jurong Industrial Estate, tetapi desain chip dan IP tetap dikendalikan oleh Intel dan Texas Instruments di Austin dan Dallas. Singapura mendapat lapangan kerja dan pajak — tapi tidak kendali atas arah teknologi. Sekarang, skenario yang sama berulang: infrastruktur siap, talenta tersedia, tetapi keputusan strategis tentang apa yang dibangun, untuk siapa, dan di mana nilai diciptakan — tetap berada di luar batas wilayah.
