Ainesia
Startup & Bisnis AI

OrtCloud Raup $1,7 Juta dan ARV Tujuh Digit di Tengah Persaingan Cloud AI Global

Startup cloud Singapura OrtCloud kantongi $1,7 juta dana pre-seed dan capai ARV tujuh digit—dengan OpenAI dan Samsung sebagai klien. Apa artinya bagi ekosistem AI Asia Tenggara?

(2 hari yang lalu)
4 menit baca
Man in white blazer smiling: OrtCloud Raup $1,7 Juta dan ARV Tujuh Digit di Tengah Persaingan Cloud AI Global
Ilustrasi OrtCloud Raup $1,7 Juta dan ARV Tujuh Digit di Tengah Persai.

$1,7 juta bukan angka besar dalam dunia venture capital global. Tapi bagi startup pre-seed di sektor infrastruktur AI cloud—yang biasanya butuh waktu 18–24 bulan untuk mencatat revenue—angka ini menandai sesuatu yang langka: validasi pasar sejak hari pertama operasi komersial.

Dilansir TechInAsia, OrtCloud, startup berbasis Singapura yang berdiri pada awal 2023, telah mencapai annual recurring revenue (ARR) di kisaran tujuh digit dalam USD—artinya minimal $1 juta per tahun—dalam waktu kurang dari 12 bulan sejak peluncuran produk beta. Lebih mencolok lagi: dua dari klien utamanya adalah OpenAI dan Samsung Electronics. Bukan mitra resmi dalam skema joint venture, melainkan pengguna aktif layanan OrtCloud untuk manajemen model inference dan orchestration di lingkungan hybrid cloud.

Baca juga: Peta Pemain E-commerce China: Siapa yang Mengendalikan 1,4 Miliar Konsumen?

Mengapa Ini Penting

OrtCloud tidak menjual model AI atau aplikasi generatif. Mereka membangun lapisan infrastruktur yang membuat model-model besar bisa berjalan lebih hemat, responsif, dan terukur—terutama saat dipindahkan antar-cloud atau di-deploy di edge device. Teknologi intinya adalah lightweight runtime engine bernama 'OrtCore', yang mengoptimalkan eksekusi ONNX model tanpa memerlukan retraining atau konversi berat. Dalam praktiknya, ini berarti perusahaan seperti Samsung bisa menjalankan model vision AI di pabrik cerdas mereka tanpa bergantung penuh pada AWS Inferentia atau Google Cloud Vertex AI—dan OpenAI pun menggunakan OrtCore untuk eksperimen low-latency routing antar-regional endpoint.

Ini bukan sekadar soal efisiensi teknis. Di tengah tekanan regulasi ekspor chip AI dan ketegangan geopolitik atas akses ke infrastruktur komputasi tinggi, solusi seperti OrtCloud menjadi strategis. Mereka menawarkan *cloud portability* nyata—bukan hanya klaim marketing—dengan dukungan native untuk Azure, GCP, Alibaba Cloud, dan bahkan on-premise Kubernetes cluster. Artinya, perusahaan bisa menghindari vendor lock-in tanpa mengorbankan performa inferensi real-time.

Baca juga: Startup Israel Raih $38,7 Miliar: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, kasus OrtCloud bukan soal iri atau kekaguman terhadap startup Singapura. Ini soal peringatan halus: pasar lokal belum menghasilkan pemain serupa—baik dari sisi teknologi maupun bisnis model. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023 menunjukkan 68% UMKM masih mengandalkan SaaS berbasis cloud umum tanpa kemampuan custom inference; sementara startup AI lokal seperti Kata.ai atau Qoala fokus pada layer aplikasi, bukan infrastruktur bawahnya.

Regulasi juga belum siap. Peraturan OJK tentang AI dalam layanan keuangan dan panduan Kominfo tentang data center masih bersifat preskriptif—tidak menyentuh aspek teknis deployment model AI di lingkungan multi-cloud. Padahal, Kemenkominfo mencatat 42% perusahaan manufaktur nasional mulai menguji AI untuk predictive maintenance sejak 2024. Tanpa infrastruktur seperti OrtCore, mereka terpaksa memilih antara biaya cloud tinggi atau ketergantungan pada satu penyedia—risiko yang sudah diantisipasi oleh Samsung dan OpenAI sejak dua tahun lalu.

Yang lebih krusial: talenta. OrtCloud dibangun oleh mantan engineer dari NVIDIA dan Microsoft Azure AI. Di Indonesia, insinyur sistem AI infrastruktur—bukan data scientist, bukan prompt engineer—masih sangat langka. Program studi teknik komputer di 12 universitas terbaik belum memasukkan modul ONNX Runtime optimization, eBPF-based model scheduling, atau hardware-aware quantization ke dalam kurikulum wajib. Gap ini tidak bisa ditutup hanya dengan pelatihan kilat.

OrtCloud membuktikan bahwa nilai bukan selalu di layer paling atas—di chatbot atau dashboard analitik—melainkan di lapisan tak terlihat yang membuat semuanya berjalan. Startup Indonesia yang ingin masuk ke segmen ini tidak perlu meniru OrtCloud secara harfiah. Tapi mereka harus mulai bertanya: apakah kita sedang membangun aplikasi untuk pasar, atau infrastruktur untuk masa depan?

"Kami tidak menjual AI. Kami menjual kepercayaan bahwa model Anda akan berjalan sama baiknya di Tokyo, Jakarta, atau Sao Paulo—tanpa Anda harus mengubah satu baris kode pun," kata pendiri OrtCloud dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar