Ainesia
Startup & Bisnis AI

YMTC Bangun Dua Pabrik Baru di Tengah Tekanan AS

Produsen chip China YMTC berencana membangun dua fab tambahan meski terkena pembatasan ekspor AS. Kapasitas produksi akan melonjak lebih dari dua kali lipat.

(4 jam yang lalu)
4 menit baca
YMTC Company Sign: YMTC Bangun Dua Pabrik Baru di Tengah Tekanan AS
Ilustrasi YMTC Bangun Dua Pabrik Baru di Tengah Tekanan AS.

Bayangkan sebuah pabrik semikonduktor di Wuhan, lampu neon menyala penuh di ruang bersih kelas 10, robot arm bergerak presisi mengangkat wafer silikon setebal 0,75 mm. Di lantai bawah, insinyur muda mengecek grafik pertumbuhan output bulanan — angka 200.000 keping wafer per bulan baru saja tercapai. Tapi rencana berikutnya justru lebih ambisius: dua pabrik baru sedang dirancang, bukan ditunda, meski sanksi AS telah memblokir akses ke mesin lithografi EUV dan perangkat lunak simulasi canggih sejak 2023.

Ekspansi di Bawah Bayangan Sanksi

Yang mengejutkan bukan hanya ambisi YMTC, melainkan timing-nya. Dilansir TechInAsia, produsen memori NAND flash asal China itu kini mengoperasikan satu fasilitas produksi skala penuh di Wuhan dengan kapasitas 200.000 wafer per bulan (wafer per month/WPM). Rencana ekspansi mencakup dua fab tambahan — satu di Chongqing dan satu di Shenzhen — yang jika rampung sesuai jadwal, akan menaikkan total kapasitas menjadi lebih dari 450.000 WPM. Artinya, output YMTC akan bertambah lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun ke depan, meski pasokan peralatan kritis seperti deep ultraviolet (DUV) stepper dari AS dan Jepang dibatasi ketat sejak Desember 2022.

Baca juga: Perplexity Raup $500 Juta: Startup AI Tanpa Iklan yang Mengguncang Model Bisnis

YMTC tidak sendiri. Perusahaan ini bagian dari strategi nasional China untuk mencapai kemandirian semikonduktor pada 2027, sebagaimana tertuang dalam Rencana Lima Tahun ke-14. Investasi pemerintah pusat dan provinsi untuk ekosistem chip lokal mencapai USD 150 miliar sejak 2020. Namun, tekanan teknis tetap nyata: mesin lithografi ASML DUV yang diperlukan untuk proses 23nm dan di bawahnya kini sulit didapat, bahkan lewat jalur ketiga. YMTC pun beralih ke solusi hybrid — menggabungkan peralatan dari Shanghai Micro Electronics Equipment (SMEE), upgrade proses 3D-NAND stacking, dan kolaborasi vertikal dengan desainer IP seperti Cambricon.

Mengapa Ini Penting

Ekspansi YMTC bukan sekadar soal kapasitas, tapi uji ketahanan rantai pasok global di tengah fragmentasi teknologi. Saat AS memperketat aturan export control terhadap teknologi chip canggih, China tidak memperlambat investasi — justru mempercepat diversifikasi. YMTC kini menjadi salah satu dari tiga produsen NAND flash global di luar Samsung, SK Hynix, dan Kioxia. Pangsa pasarnya naik dari 3,2% pada 2022 menjadi 5,8% pada Q1 2024, menurut data TrendForce. Yang lebih signifikan: YMTC mulai memasok modul penyimpanan ke merek laptop domestik seperti Huawei MateBook dan Lenovo ThinkPad seri entry-level — bukan lagi hanya komponen untuk perangkat IoT murah.

Baca juga: Geely Luncurkan i-HEV: AI yang Mengatur Bensin dan Listrik Secara Real-Time

Ini berdampak langsung pada dinamika harga global. Ketika YMTC meningkatkan output NAND flash 128-layer, harga modul SSD consumer turun rata-rata 12% di pasar Asia Tenggara pada kuartal II 2024. Di Indonesia, harga SSD 1TB berbasis NAND China turun dari Rp1,45 juta menjadi Rp1,28 juta dalam enam bulan — penurunan terbesar sejak 2021. Tekanan harga ini memaksa produsen lokal seperti PT Datacom Nusantara dan startup penyimpanan berbasis edge AI, seperti Nusantara Memory Labs, mempercepat integrasi chip YMTC ke dalam produk mereka.

Konteks Indonesia sangat relevan. Meski belum ada impor langsung chip YMTC ke Tanah Air, perangkat elektronik konsumen berbasis NAND China — mulai dari USB flash drive hingga router 5G buatan TP-Link dan Xiaomi — sudah mengisi 37% dari total impor perangkat penyimpanan Indonesia pada 2023 (data BKPM). Lebih penting lagi, kebijakan Kemenperin tentang Peta Jalan Industri Semikonduktor 2024–2035 secara eksplisit menyebut perlunya kerja sama teknis dengan negara non-Barat, termasuk China, untuk transfer know-how fab-scale manufacturing. YMTC bisa menjadi mitra potensial, bukan sebagai pemasok chip jadi, tapi sebagai penyedia modul pelatihan teknis dan desain fab modular untuk proyek pilot di Batam dan Kendal.

Tantangan tetap besar. YMTC belum memproduksi chip di bawah 14nm, dan kemampuan manufaktur advanced packaging-nya masih tertinggal dari OSAT Taiwan seperti ASE atau Amkor. Namun, fokusnya pada memori mass-market justru menjawab kebutuhan riil pasar berkembang: perangkat dengan harga terjangkau, daya tahan tinggi, dan kompatibilitas luas — bukan performa puncak. Di tengah inflasi harga komponen global, strategi ini justru membuka ruang bagi negara seperti Indonesia untuk membangun ekosistem hardware lokal tanpa harus mengejar standar fab generasi terbaru.

"Kami tidak berlomba membuat chip tercepat di dunia. Kami membuat chip yang paling bisa diandalkan untuk 1,4 miliar orang — dan untuk 270 juta orang lainnya yang butuh akses teknologi tanpa harga selangit," kata CEO YMTC, Stephen Cui, dalam pidato pembukaan China Semiconductor Summit 2024 di Shanghai.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar