India menyelesaikan 142 transaksi merger & akuisisi di sektor teknologi pada kuartal pertama 2024 — angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir, melampaui 127 transaksi di periode yang sama tahun lalu. Sebanyak 63% di antaranya melibatkan perusahaan berbasis kecerdasan buatan, fintech, dan infrastruktur cloud. Nilai total deal mencapai USD 4,8 miliar, dengan rata-rata ukuran transaksi naik 22% dibanding 2023.
Mengapa Ini Penting
Tren ini bukan sekadar refleksi pertumbuhan ekonomi India, tapi sinyal pergeseran pusat gravitasi inovasi digital di Asia Selatan dan Tenggara. Berbeda dari gelombang M&A 2018–2022 yang didominasi akuisisi asing terhadap startup India, kali ini 71% transaksi bersifat domestik — antar-startup lokal atau akuisisi oleh korporasi India seperti Tata Group, ICICI Bank, dan Reliance Industries. Artinya, pasar sedang memasuki fase kedewasaan: ekosistem tidak lagi bergantung pada modal asing untuk validasi, tapi membangun siklus pertumbuhan internal berbasis skala pengguna, data lokal, dan integrasi vertikal.
Baca juga: Perplexity Raup $500 Juta: Startup AI Tanpa Iklan yang Mengguncang Model Bisnis
Dilansir TechInAsia, salah satu pemicu utama adalah percepatan adopsi regulasi sandbox oleh Reserve Bank of India (RBI), yang memungkinkan fintech menguji produk pembayaran lintas batas dan layanan kredit berbasis AI tanpa izin penuh selama 12 bulan. Hasilnya, 19 dari 23 akuisisi fintech Q1 2024 melibatkan perusahaan yang sebelumnya beroperasi di bawah sandbox RBI. Ini membuktikan bahwa kerangka regulasi yang adaptif bisa menjadi pemicu langsung aktivitas M&A — bukan hanya faktor modal atau teknologi semata.
Di sisi teknologi, AI menjadi katalis utama. Perusahaan seperti Observe.AI dan Niramai — keduanya startup India yang fokus pada AI untuk layanan pelanggan dan deteksi kanker dini — tidak hanya diakuisisi, tapi juga menjadi pembeli aktif. Observe.AI mengakuisisi startup NLP asal Bengaluru bernama LinguaTech pada Februari 2024 untuk memperkuat kemampuan pemrosesan bahasa multilingual India. Strategi ini justru berbeda dari pola akuisisi global, di mana perusahaan AS atau Eropa umumnya membeli teknologi untuk ekspansi pasar. Di India, akuisisi bertujuan memperdalam kapabilitas teknis dalam konteks lokal: aksen, dialek, struktur keuangan informal, dan fragmentasi infrastruktur digital.
Baca juga: YMTC Bangun Dua Pabrik Baru di Tengah Tekanan AS
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, tren ini bukan sekadar bahan komparasi, tapi peringatan sekaligus peluang. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah fintech terdaftar di Indonesia naik 18% menjadi 327 per Juni 2024, namun hanya 7% di antaranya telah melakukan kolaborasi teknologi intensif dengan bank atau perusahaan asuransi. Sementara itu, di India, 41% startup fintech yang diakuisisi pada Q1 2024 sebelumnya sudah menjalin kemitraan operasional dengan lembaga keuangan besar — bukan hanya MoU simbolis, tapi integrasi API nyata dalam sistem core banking.
Regulasi sandbox di Indonesia masih bersifat eksperimental dan terbatas pada 12 entitas per tahun, dengan proses persetujuan rata-rata 5,2 bulan — lebih dari dua kali lipat waktu di India. Padahal, startup lokal seperti Ajaib, Kredivo, dan Flip berada di posisi ideal untuk menjadi pembeli teknologi AI dari startup kecil di Bandung atau Yogyakarta, jika kerangka hukum mendukung. Alih-alih menunggu akuisisi oleh Grab atau GoTo, potensi pertumbuhan justru ada dalam ekosistem domestik yang saling menguatkan — asalkan insentif fiskal dan perlindungan data jelas.
Perbedaan lain terletak pada struktur kepemilikan. Di India, 68% startup yang diakuisisi memiliki founder non-asing sebagai mayoritas pemegang saham — sebuah indikator kuat bahwa nilai intelektual dan eksekusi lokal dihargai tinggi. Di Indonesia, meski banyak startup lahir dari talenta lokal, struktur kepemilikan sering kali didominasi dana ventura asing sejak putaran Seri A, sehingga kendali strategis akuisisi cenderung bergeser ke luar negeri. Ini bukan soal proteksionisme, tapi soal desain kebijakan yang memungkinkan founder lokal tetap menjadi arsitek pertumbuhan pasca-akuisisi.
Industri teknologi Indonesia belum kehilangan momentum. Namun, jika tidak mempercepat penyederhanaan regulasi sandbox, memperkuat insentif R&D nasional, dan membangun mekanisme penilaian teknologi berbasis dampak lokal — bukan hanya valuasi global — maka risiko terpinggirkan dari rantai nilai regional akan meningkat. India tidak menang karena lebih kaya, tapi karena lebih cepat menyesuaikan aturan mainnya dengan realitas teknologi yang berkembang.
Apa yang sebenarnya dibutuhkan startup Indonesia bukan hanya akses ke modal, tapi ruang aman untuk bereksperimen, gagal, dan bangkit — lalu diakuisisi oleh sesama anak bangsa?
