Ainesia
Startup & Bisnis AI

DustPhotonics dan Perlombaan Chip Optik di Tengah Tekanan AI Global

Startup Israel DustPhotonics dengan chip Carmel-nya menarik perhatian Intel dan Nvidia. Teknologi optik 1,6 Tbps ini bisa ubah cara data bergerak di pusat data — termasuk di Indonesia.

(3 jam yang lalu)
4 menit baca
DustPhotonics logo and team event: DustPhotonics dan Perlombaan Chip Optik di Tengah Tekanan AI Global
Ilustrasi DustPhotonics dan Perlombaan Chip Optik di Tengah Tekanan AI.

Bayangkan sebuah pusat data di Jakarta Selatan yang melayani puluhan juta pengguna aplikasi fintech dan e-commerce. Server-servernya bekerja keras memproses permintaan transaksi, rekomendasi produk, dan inferensi model AI dalam hitungan milidetik. Tapi di balik kecepatan itu, ada satu titik lemah tak terlihat: kabel tembaga yang menghubungkan GPU ke switch jaringan. Di sana, panas menumpuk, bandwidth mentok, dan latensi mulai menggerogoti efisiensi sistem. Itulah celah yang coba ditutup DustPhotonics.

Apa itu DustPhotonics dan mengapa Intel-Nvidia tertarik?

DustPhotonics, startup asal Israel yang didirikan pada 2017, bukan produsen chip AI konvensional. Mereka fokus pada *optical I/O* — teknologi yang menggantikan sinyal listrik dengan cahaya untuk transfer data antar-chip. Produk utamanya, seri Carmel, mampu menangani kecepatan 400 Gbps, 800 Gbps, bahkan hingga 1,6 terabit per detik (Tbps) dalam satu jalur. Angka ini tiga kali lipat dari batas praktis interkoneksi elektrik saat ini di lingkungan data center modern. Menurut laporan TechInAsia, minat Intel dan Nvidia terhadap startup ini tidak hanya akuisisi potensial, tapi juga strategi antisipatif terhadap bottleneck fisik yang mulai membatasi pertumbuhan komputasi AI skala besar.

Baca juga: JPMorgan Gugat Investor Frank: Peringatan untuk Ekosistem AI FinTech

Carmel bukan chip pemroses seperti GPU atau NPU. Ia adalah *co-packaged optical I/O*, artinya ditanam langsung di paket chip utama — misalnya di samping GPU Nvidia H100 atau prosesor Intel Gaudi — sehingga mengurangi jarak fisik dan kehilangan sinyal. Teknologi ini memanfaatkan modulator optik berbasis silikon fotonik, bukan laser eksternal mahal. Hasilnya: konsumsi daya per bit turun hingga 50% dibanding solusi elektrik setara, sekaligus memperpanjang masa pakai infrastruktur pusat data.

Mengapa Ini Penting

Perlombaan AI global kini bergeser dari hanya soal jumlah parameter model ke soal *efisiensi data movement*. Sebuah studi tahun 2023 oleh IEEE menyebut bahwa hingga 68% energi dalam cluster AI digunakan untuk memindahkan data — bukan menghitungnya. DustPhotonics menawarkan solusi di lapisan paling dasar arsitektur: antarmuka fisik. Jika teknologinya diadopsi luas, dampaknya bukan hanya pada performa, tapi juga biaya operasional dan jejak karbon pusat data. Intel dan Nvidia tidak sedang mencari chip tambahan; mereka sedang memastikan bahwa infrastruktur masa depan tetap dapat mengakomodasi ledakan permintaan AI tanpa harus membangun gedung baru atau menambah ribuan rack server.

Baca juga: Cisco Bidik Astrix untuk Perkuat Keamanan Identitas AI

Dilansir TechInAsia, pendekatan DustPhotonics berbeda dari pesaing seperti Ayar Labs (yang diakuisisi Intel pada 2023) atau Lightmatter — karena Carmel dirancang khusus untuk integrasi cepat dengan ekosistem existing, tanpa memerlukan perubahan radikal pada desain PCB atau arsitektur switch. Ini membuat adopsi lebih realistis bagi vendor hardware dan cloud provider skala menengah, bukan hanya raksasa seperti Google atau Microsoft.

Di Indonesia, relevansi teknologi ini justru lebih tajam. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa jumlah pusat data di Tanah Air tumbuh 22% per tahun sejak 2021, namun 78% di antaranya masih mengandalkan interkoneksi berbasis PCIe 5.0 dan Ethernet 400G — yang sudah mulai keteteran menghadapi beban AI inference lokal. Startup seperti Dattabot atau Qoala yang mengembangkan model bahasa khusus Bahasa Indonesia membutuhkan latency rendah antar-node, bukan hanya CPU/GPU yang cepat. Jika chip optik seperti Carmel masuk rantai pasok lokal melalui mitra seperti TelkomCloud atau Biznet Gio, maka penundaan inferensi bisa dipangkas hingga 40%, menurut simulasi internal yang dikutip dalam white paper DustPhotonics edisi Q2 2024.

Indonesia belum memiliki ekosistem fotonik nasional yang matang. Tidak ada pabrik silikon fotonik di dalam negeri, dan regulasi impor komponen high-speed optical masih mengandalkan klasifikasi umum — bukan kategori khusus seperti *AI infrastructure enablers*. Artinya, adopsi teknologi ini akan sangat bergantung pada kebijakan insentif dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta kolaborasi dengan universitas seperti ITB dan UI yang mulai mengembangkan riset fotonik dasar. Tanpa roadmap kebijakan yang jelas, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumen pasif — bukan bagian dari rantai nilai inovasi optik AI.

Rangkuman dampak langsung dari minat Intel dan Nvidia terhadap DustPhotonics jelas: teknologi optical I/O bukan lagi eksperimen laboratorium, melainkan komponen kritis dalam arsitektur AI generasi berikutnya. Bagi industri, ini berarti investasi dalam interkoneksi akan setara pentingnya dengan investasi dalam chip pemroses. Bagi Indonesia, ini adalah sinyal bahwa perlombaan infrastruktur AI tidak hanya soal membeli server terbaru, tapi juga membangun kapasitas memahami, menguji, dan mengintegrasikan lapisan fisik yang mendasari semua kecerdasan buatan — mulai dari Jakarta hingga Jayapura.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar