Ainesia
Gadget & Hardware

Marapi Meletus Lagi: AI Monitoring Masih Terbatas di Gunung Api Indonesia

Sejak Desember 2023, Gunung Marapi meletus 17 kali — tapi sistem deteksi dini berbasis AI belum terpasang di 128 gunung api aktif RI.

(31 Mei 2026)
4 menit baca
Marapi Meletus Lagi: AI Monitoring: Marapi Meletus Lagi: AI Monitoring Masih Terbatas di Gunung Api Indonesia
Ilustrasi Marapi Meletus Lagi: AI Monitoring Masih Terbatas di Gunung .

Sejak erupsi besar 3 Desember 2023 hingga akhir Mei 2024, Gunung Marapi telah meletus sebanyak 17 kali — rata-rata setiap 9–12 hari sekali. Angka ini jauh melampaui frekuensi historisnya yang hanya 2–3 kali per tahun dalam dekade sebelumnya. Aktivitas vulkanik tidak lagi bersifat episodik, melainkan berkelanjutan dengan fluktuasi tekanan magma yang cepat dan sulit diprediksi secara konvensional.

Beda antara Sensor Analog dan Sistem AI-Realtime

Stasiun Pengamatan Gunung Api Marapi di Bukittinggi masih mengandalkan seismograf analog, tiltmeter mekanis, dan kamera visual beresolusi rendah. Data dikumpulkan tiap jam, lalu dikirim ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk dianalisis manual oleh petugas. Menurut Tempo Tekno, sistem ini belum terintegrasi dengan algoritma pembelajaran mesin yang mampu mendeteksi pola mikro-gempa atau perubahan deformasi tanah dalam hitungan detik. Bandingkan dengan Gunung Fuji di Jepang: sejak 2022, semua stasiun pengamatnya menggunakan AI real-time dari Fujitsu yang memproses 15.000 titik data per menit dari sensor IoT bawah tanah dan drone termal.

Di Indonesia, uji coba sistem AI deteksi dini baru dimulai pada April 2024 di Gunung Merapi — dan itu pun masih dalam skala pilot dengan dua sensor saja. Untuk Marapi, belum ada rencana pemasangan serupa dalam APBN 2024. Padahal, risiko lahar dingin pasca-erupsi di lereng barat daya Marapi sangat tinggi karena curah hujan ekstrem di wilayah Agam dan Tanah Datar bisa memicu longsoran material vulkanik dalam waktu kurang dari 15 menit.

Baca juga: Jakarta Gelap Sejam, Emisi Turun 60 Ton: Apa yang Terlewat dari Hitungannya?

Siapa yang Kehilangan Waktu di Antara Sensor dan Sistem Peringatan?

Pertanyaannya bukan hanya soal teknologi, tapi soal rantai respons. PVMBG memang mengeluarkan peringatan level III (Siaga) sejak 26 Mei 2024 — tapi peringatan itu baru sampai ke desa-desa terdampak lewat SMS massal dan pengumuman RT dua jam setelah erupsi terjadi. Di Nagari Batu Palano, Kabupaten Agam, warga justru lebih dulu tahu dari rekaman suara letusan yang viral di WhatsApp daripada dari sistem resmi. Ini bukan kegagalan komunikasi semata, melainkan celah struktural: data sensor belum terhubung langsung ke aplikasi mitigasi lokal seperti SiagaBencana atau InaRISK.

Dilansir Tempo Tekno, integrasi antara data vulkanik dan platform peringatan publik masih terpisah secara administratif. PVMBG mengelola data geofisika, sementara Badan Informasi Geospasial (BIG) mengembangkan InaRISK, dan BNPB mengoperasikan SiagaBencana. Tidak ada satu pun platform nasional yang menerima input mentah dari sensor gunung api secara otomatis, lalu menerjemahkannya menjadi peringatan lokasi-spesifik berbasis radius bahaya dan kondisi cuaca aktual.

Baca juga: Kapal Remote ITS: Solusi Sederhana untuk Masalah Sampah Laut yang Tak Sederhana

Padahal, teknologi dasarnya sudah tersedia. Startup asal Bandung, GeoAlert ID, telah menguji sistem berbasis edge-AI di Gunung Papandayan pada 2023: sensor seismik murah (harga Rp12 juta per unit) dikombinasikan dengan modul LoRaWAN dan algoritma deteksi anomali berbasis TensorFlow Lite. Hasilnya? Waktu deteksi dini meningkat dari 45 menit menjadi 90 detik — cukup untuk evakuasi awal di radius 3 km. Namun, sistem ini belum diadopsi PVMBG karena belum lolos uji validasi teknis dan prosedur pengadaan pemerintah yang ketat.

Yang lebih krusial: tidak ada insentif anggaran untuk pembaruan infrastruktur monitoring di tingkat kabupaten. APBN 2024 mengalokasikan Rp327 miliar untuk mitigasi bencana geologi — tapi hanya 6,3% di antaranya dialokasikan untuk modernisasi sensor dan sistem AI. Selebihnya digunakan untuk operasional stasiun pengamatan dan pelatihan personel. Artinya, investasi masih berfokus pada manusia, bukan pada kemampuan sistem untuk mengurangi ketergantungan pada kecepatan respons manusia.

Rangkuman dampak langsung dari erupsi Marapi berulang ini jelas: warga di lereng barat daya tetap rentan terhadap lahar dingin tanpa peringatan dini yang andal; petugas PVMBG bekerja di bawah tekanan analisis manual yang tak lagi mencukupi. Dan sistem peringatan nasional tetap terfragmentasi — sehingga teknologi deteksi dini tidak berarti apa-apa jika tidak terhubung ke jalur evakuasi, komunikasi lokal, dan keputusan otonom desa. Ketika letusan berikutnya datang — dan pasti akan datang . Yang hilang bukan hanya waktu, tapi juga kepercayaan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar