"Bahkan jika pengadilan nanti membalikkan uji coba Kantor Hak Cipta dalam kasus lain, itu akan terlambat," menyatakan tim hukum yang mewakili Stephen Thaler dengan tegas kepada media. Mereka menambahkan bahwa keputusan ini berdampak negatif pada industri kreatif selama tahun-tahun yang sangat penting bagi perkembangan teknologi global. Pernyataan keras tersebut muncul menyusul langkah terbaru Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait seni buatan kecerdasan buatan yang kontroversial. Pengacara tersebut menekankan urgensi waktu dalam perlindungan hak cipta teknologi baru yang semakin canggih setiap harinya.
Pada hari Senin, pengadilan tertinggi di negara itu menolak untuk mendengarkan kasus tentang hak cipta karya seni yang dibantu AI secara resmi. Penolakan ini berarti keputusan pengadilan tingkat bawah untuk menolak permintaan hak cipta tetap berlaku secara hukum di wilayah yurisdiksi tersebut. Status hukum karya tersebut kini telah memiliki kepastian melalui jalur yudisial tertinggi di negeri Paman Sam setelah proses panjang. Tidak ada ruang lagi untuk banding lanjutan dalam sengketa spesifik ini mengingat posisi pengadilan tertinggi yang final.
Kasus ini bermula pada 2018 ketika Stephen Thaler mengajukan hak cipta untuk karya berjudul A Recent Entrance to Paradise kepada pihak berwenang. Thaler, seorang ilmuwan komputer, menciptakan sistem AI yang menghasilkan karya seni tersebut secara mandiri tanpa intervensi langsung dari manusia. Metode ini berbeda secara fundamental dengan penggunaan alat populer seperti ChatGPT atau Midjourney oleh pengguna umum yang hanya memberikan perintah. Sistem milik Thaler beroperasi sebagai generator utama dari karya visual tersebut tanpa campur tangan kreatif manusia sedikitpun.
Baca juga: ByteDance Bekukan Peluncuran Global AI Video Seedance 2.0
Penolakan dari Berbagai Lembaga Hukum
Kantor Hak Cipta Amerika Serikat menolak aplikasi Thaler pada 2022 dengan alasan karya tidak dibuat oleh penulis manusia sesuai undang-undang yang berlaku. Thaler mencari banding ke pengadilan yang lebih tinggi untuk memperjuangkan hak kepemilikan tersebut secara gigih melalui jalur litigasi formal. Namun, baik hakim federal di Washington maupun Pengadilan Banding Amerika Serikat memutuskan melawannya secara bertahap dalam proses hukum. Setiap tingkat pengadilan mempertahankan persyaratan autoria manusia sebagai syarat mutlak untuk mendapatkan perlindungan hak cipta sah.
Dengan penolakan dari pengadilan tertinggi di Amerika Serikat, kasus Thaler sangat kecil peluang untuk berlanjut lebih jauh ke instansi lain. Mahkamah Agung selalu dapat mendengarkan kasus terkait di masa depan, namun jalur hukum ini telah tertutup bagi pemohon saat ini. Kepastian hukum ini memberikan sinyal kuat mengenai posisi karya non-manusia dalam undang-undang hak cipta yang berlaku di negara tersebut. Para pelaku industri kini harus menyesuaikan strategi perlindungan karya mereka agar sesuai dengan standar autoria manusia.
Implikasi bagi Paten dan Kreasi Digital
Catatan penting menunjukkan Thaler juga mengajukan aplikasi ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat untuk penemuan yang dihasilkan AI sebelumnya. Aplikasi tersebut ditolak untuk alasan yang serupa dengan kasus hak cipta seni visual yang sedang berjalan sebelumnya. Konsistensi penolakan ini menunjukkan pola tegas dari lembaga pemerintah federal terhadap inventor non-manusia di berbagai sektor kekayaan intelektual. Hal ini memperkuat posisi pemerintah dalam mendefinisikan pencipta sah hanya sebagai entitas manusia biologis.
Baca juga: Spotify Taste Profile: Pengguna Kini Kendalikan Algoritma Musik
Pengacara Thaler menyoroti dampak kerugian selama periode kritis bagi perkembangan industri kreatif global yang sedang tumbuh pesat. Mereka khawatir preseden ini akan menghambat inovasi di tahun-tahun mendatang secara signifikan bagi para pengembang sistem otonom. Waktu yang hilang selama proses litigasi tidak dapat dikembalikan meskipun aturan berubah nanti sesuai keinginan para inovator. Kerugian opportunitas ini menjadi beban berat bagi pengembang teknologi generatif yang membutuhkan kepastian hukum segera.
Masyarakat kini dihadapkan pada realitas baru mengenai batas kepemilikan intelektual pada masa teknologi cerdas yang berkembang cepat. Apakah Anda percaya bahwa sistem hukum saat ini sudah cukup adil bagi pencipta yang memanfaatkan teknologi otonom sepenuhnya dalam berkarya? Pertanyaan ini akan terus bergema seiring kemajuan kemampuan mesin dalam menghasilkan karya orisinal tanpa bantuan langsung manusia.
