"Kami tidak menjual listrik—kami menjual keandalan tanpa kompromi untuk beban kritis seperti data center AI," ujar Amir Chaudhry, CEO X-energy, dalam wawancara pasca-IPO yang dikutip TechInAsia.
X-energy, perusahaan teknologi nuklir modular asal Amerika Serikat, melantai di bursa saham pada 15 Mei 2024 dengan harga penawaran awal $17 per saham. Dalam hari perdagangan pertamanya, sahamnya melonjak 27% menjadi $21,60—mengangkat valuasi perusahaan menjadi $3,2 miliar. Total dana yang dikumpulkan mencapai $1,02 miliar, salah satu IPO terbesar di sektor energi bersih tahun ini. Pendanaan ini bukan sekadar modal operasional: ia menjadi sinyal kuat bahwa pasar modal global mulai memperlakukan reaktor nuklir kecil (SMR) sebagai infrastruktur strategis, bukan eksperimen teknis.
Baca juga: Cohere-Aleph Alpha: Merajut Kekuatan AI Transatlantik
Dilansir TechInAsia, X-energy telah mengamankan tiga perjanjian komersial jangka panjang—dengan Dow Chemical, Amazon, dan Centrica—untuk menyediakan tenaga listrik berbasis SMR bagi fasilitas industri berat dan pusat data berbasis kecerdasan buatan. Amazon, misalnya, berencana menggunakan energi dari reaktor X-energy untuk mendukung operasi data center di Virginia dan Ohio, dua lokasi dengan pertumbuhan permintaan daya listrik lebih dari 40% per tahun akibat ekspansi model bahasa besar (LLM) dan inferensi real-time. Dow akan memanfaatkannya untuk proses elektrolisis hijau dan produksi bahan kimia karbon-netral.
Mengapa Ini Penting
Nuklir bukan lagi soal pembangkit listrik skala gigawatt yang memakan waktu 10–15 tahun untuk dibangun. X-energy mengembangkan reaktor HTGR (High-Temperature Gas-cooled Reactor) berkapasitas 80 MW—cukup untuk memasok 80.000 rumah atau satu data center kelas atas—dengan siklus konstruksi kurang dari 36 bulan. Teknologi intinya adalah bahan bakar TRISO (TRI-structural ISOtropic), partikel uranium yang dilapisi keramik dan grafit sehingga tidak bisa meleleh bahkan dalam kondisi kehilangan pendingin total. Ini bukan sekadar peningkatan keamanan: TRISO memungkinkan operasi suhu tinggi (750°C), yang membuka peluang pemanasan proses industri; sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh PLTS atau angin. Di tengah tekanan emisi karbon dan ketidakpastian pasokan gas alam, X-energy menawarkan solusi 'always-on' yang tidak bergantung pada cuaca maupun geografi,dan itu tepat saat AI menuntut listrik stabil 24/7.
Baca juga: Naver Uji Tab Pencarian Berbasis AI Usai Gemini Diluncurkan
Yang menarik, kolaborasi dengan Amazon bukan transaksi biasa. Kontraknya mencakup opsi pembelian hingga 10 unit reaktor Xe-100 selama dekade mendatang—dengan jaminan pembayaran progresif berbasis milestone teknis, bukan hanya pengiriman fisik. Model ini mengurangi risiko finansial bagi X-energy sekaligus memberi Amazon kendali atas rantai pasok energi kritisnya. Di sisi lain, Centrica—perusahaan energi Inggris; akan mengintegrasikan Xe-100 ke dalam portofolio fleksibilitas jaringan nasional, termasuk sebagai pengganti pembangkit gas turbin saat permintaan puncak.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, lonjakan valuasi X-energy bukan sekadar berita eksternal—ia adalah cerminan nyata dari tekanan global yang juga akan menekan Jakarta dalam lima tahun ke depan. Saat ini, 92% kapasitas data center nasional masih mengandalkan PLN dengan bauran energi 60% batu bara. Sementara, Google dan Microsoft sudah mengumumkan komitmen net-zero untuk pusat datanya di Asia Tenggara—termasuk di Batam dan Jakarta; paling lambat 2030. Tanpa akses ke sumber baseload rendah-karbon, Indonesia berisiko kehilangan investasi data center generasi berikutnya. Regulasi nuklir di Indonesia masih sangat ketat: UU No. 10 Tahun 1997 melarang pemanfaatan nuklir untuk tujuan komersial non-medis/non-riset. Namun, diskusi tentang revisi kerangka hukum untuk SMR sudah dimulai di Kemenristek dan BAPETEN sejak 2023,meski belum ada roadmap konkret. Yang lebih mendesak: apakah PLN siap mengadopsi sistem grid hybrid yang mengintegrasikan SMR, baterai skala giga, dan mikrogrid cerdas? Jawabannya belum jelas. Tapi waktu berpihak pada negara yang bergerak cepat.
Di sisi startup lokal, peluang justru muncul di lapisan pendukung: desain sistem pendingin cair berbasis helium, manajemen thermal untuk server berdensitas tinggi, atau platform digital twin untuk pemantauan reaktor jarak jauh. Beberapa tim dari ITB dan Universitas Gadjah Mada sedang mengembangkan simulasi TRISO dalam kondisi tekanan ekstrem—kolaborasi dengan X-energy bisa menjadi pintu masuk teknologi tinggi yang jarang terjadi di sektor energi Indonesia.
Apa yang sebenarnya lebih penting dari kenaikan saham X-energy: apakah Indonesia akan menjadi konsumen pasif dari teknologi energi AI masa depan—atau mulai membangun kapabilitas lokal untuk ikut menentukan aturan mainnya?
