Bagaimana mobil listrik tanpa sopir bisa membedakan antara lampu merah yang menyala dan papan reklame berwarna merah di samping jalan? Atau bagaimana robot pengantar logistik di gudang besar memastikan tidak menabrak kardus berwarna oranye karena dikira rambu bahaya? Jawabannya mulai bergeser dari sekadar bentuk dan jarak—menuju warna.
Lidar EXT: Bukan Sekadar Ukur Jarak, Tapi Baca Spektrum
Hesai, produsen lidar asal Shanghai yang telah mengirim lebih dari 500.000 unit sensor ke 40 negara sejak 2014, baru saja meluncurkan EXT—lidar pertama di dunia yang secara bersamaan menangkap data spasial *dan* informasi warna dalam satu frame tunggal. Berbeda dengan lidar konvensional yang hanya menghasilkan point cloud hitam-putih berbasis intensitas reflektivitas, EXT menggunakan chip khusus buatan dalam bernama Picasso. Chip ini mengintegrasikan spektrometer mikro di tiap modul pemindai, sehingga mampu menangkap tiga saluran warna (R-G-B) pada resolusi 0,1° per pixel dan jangkauan hingga 200 meter. Menurut laporan TechInAsia, co-founder Hesai Sun Kai menyebut EXT sebagai 'langkah evolusioner, bukan revolusioner'—karena ia tidak mengganti arsitektur dasar lidar, tapi memperluas dimensi persepsi mesin.
Baca juga: Peta Pemain E-commerce China: Siapa yang Mengendalikan 1,4 Miliar Konsumen?
Teknologi ini bukan sekadar tambahan estetika. Dalam uji coba internal di kota Chengdu, sistem EXT berhasil mengurangi false positive deteksi rambu lalu lintas sebesar 68% dibanding lidar standar saat kondisi silau matahari atau hujan ringan. Data warna membantu algoritma membedakan objek berdasarkan identitas visual—bukan hanya geometri. Lampu merah aktif memiliki pola emisi spektral berbeda dari cat merah statis; ban truk berwarna hitam mengandung karbon hitam dengan reflektivitas inframerah spesifik. Permukaan aspal basah menyerap cahaya biru lebih kuat daripada kering. Semua itu terdeteksi dalam waktu nyata, tanpa tambahan kamera atau fusi sensor eksternal.
Mengapa Ini Penting: Saat AI Mobil Butuh 'Mata yang Bisa Membedakan'
Industri otomotif otonom selama ini mengandalkan fusi multi-sensor: lidar untuk jarak akurat, radar untuk kecepatan, dan kamera RGB untuk klasifikasi warna dan teks. Tapi pendekatan itu punya tiga kelemahan kronis: latensi sinkronisasi antar-sensor, ambiguitas saat kamera gagal (misalnya kabut tebal atau lensa kotor), dan biaya kalibrasi ulang setiap kali komponen diganti. EXT menghilangkan dua lapis kompleksitas itu sekaligus—tidak perlu kamera tambahan, dan tidak perlu algoritma fusi kompleks. Ia memberi sistem otonom 'penglihatan berdimensi empat': x, y, z, dan λ (panjang gelombang). Ini bukan peningkatan marginal. Ini menggeser batas keandalan sistem dari 99,99% ke 99,999% dalam skenario edge-case—seperti anak kecil berbaju merah berlari di depan mobil saat hujan, di mana kamera bisa gagal membedakan warna karena pencahayaan rendah, tapi lidar warna tetap membaca spektrum unik pigmen kain.
Baca juga: Startup Israel Raih $38,7 Miliar: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Dilansir TechInAsia, Hesai sudah menjalin kerja sama pra-komersial dengan tiga OEM Cina—termasuk BYD dan XPeng—untuk integrasi EXT di generasi mobil otonom level 4 yang akan diluncurkan akhir 2025. Di sisi lain, startup robotaksi seperti WeRide dan Pony.ai juga menguji EXT dalam simulasi kota virtual berbasis Unreal Engine 5, di mana variabel cuaca dan pencahayaan dikontrol secara presisi. Hasil awal menunjukkan penurunan 41% kebutuhan compute onboard untuk tugas klasifikasi objek; karena data warna langsung masuk ke pipeline deteksi, bukan sebagai post-processing dari output kamera.
Di Indonesia, dampaknya tidak langsung—tapi sangat nyata dalam jangka menengah. Pasar kendaraan otonom lokal masih dalam tahap uji coba terbatas, seperti proyek TransJakarta Bus Otonom di koridor 13 atau uji robot pengantar Gojek di kampus ITB Bandung. Namun, startup logistik cerdas seperti Logistify dan Rumahtech mulai mengadopsi lidar generasi kedua untuk navigasi gudang otomatis. Dengan harga lidar EXT yang diproyeksikan 20–30% lebih tinggi dari lidar Hesai QT128 (sekitar USD 1.200/unit), adopsi massal di Indonesia belum realistis tahun ini. Tapi peluangnya justru ada di sektor non-otomotif: inspeksi infrastruktur jalan oleh BPJT, pemantauan kualitas aspal oleh PUPR, atau bahkan deteksi dini kebakaran hutan berbasis perubahan spektral daun—yang bisa diukur dari drone berlidarnya.
Yang menarik, regulasi Indonesia belum mengakomodasi sensor berbasis spektrum warna. Peraturan Menteri Perhubungan No. 107 Tahun 2022 tentang Kendaraan Bermotor Otonom hanya menyebut 'sensor jarak' tanpa membedakan jenisnya. Artinya, EXT secara teknis belum bisa diverifikasi dalam sertifikasi nasional—kecuali Kemenhub membentuk tim kerja khusus untuk mengevaluasi parameter baru: akurasi spektral, toleransi noise warna, dan respons terhadap gangguan cahaya buatan. Ini celah regulasi yang harus diisi cepat, sebelum teknologi melesat jauh di depan aturan.
Apakah lidar berwarna akan membuat kamera menjadi usang dalam sistem otonom? Atau justru memicu kolaborasi baru antara sensor aktif dan pasif—di mana kamera tidak lagi bertugas mendeteksi, tapi mengonfirmasi?
