Sebanyak 70 persen proses produksi massal Bobibos telah selesai di Timor Leste—angka yang tak biasa untuk sebuah perangkat AI berbasis edge computing yang baru memasuki tahap manufaktur pertama kali di kawasan itu.
Perangkat ini bukan gadget konsumen biasa. Bobibos dirancang sebagai unit pemrosesan data lokal berbasis model kecil AI (TinyML), mampu menjalankan inferensi tanpa koneksi internet stabil, dengan konsumsi daya di bawah 3 watt. Menurut laporan Tempo Tekno, produksi fisiknya telah berjalan selama satu minggu penuh di fasilitas terintegrasi di Dili, dipimpin langsung oleh Iklas Thamrin, pendiri dan arsitek teknis proyek tersebut.
Baca juga: Ketika 'Staged' Jadi Senjata Digital di Era Deepfake
Apa Itu Bobibos dan Mengapa Diproduksi di Timor Leste?
Bobibos adalah singkatan dari 'Borderless Open-Border Intelligence Box'—sebuah nama yang sengaja menegaskan misi geopolitik teknologinya: membangun infrastruktur AI yang tidak bergantung pada pusat data global atau rantai pasok lintas benua. Perangkat ini menggabungkan chip RISC-V berarsitektur khusus, firmware open-source berbasis Zephyr RTOS, dan model AI pra-latih untuk pengenalan suara bahasa daerah Nusantara dan Timor-Leste seperti Tetun, Mambai, dan Bahasa Indonesia versi lokal.
Keputusan memproduksi di Timor Leste bukan semata soal biaya tenaga kerja. Fasilitas di Dili dibangun bersama Universitas Nasional Timor Leste (UNTL) dan didukung hibah teknis dari ASEAN Digital Innovation Fund. Di sana, tim teknisi lokal dilatih langsung dalam perakitan board-level, kalibrasi sensor audio, dan verifikasi model AI—bukan hanya sebagai operator, tapi sebagai co-developer. Ini langkah langka di kawasan, di mana mayoritas hardware AI masih dirakit di Tiongkok, Vietnam, atau Malaysia, lalu diimpor kembali ke negara-negara tetangga.
Baca juga: Altman Minta Maaf: Saat AI Tak Lagi Netral dalam Tragedi Nyata
Mengapa Ini Penting
Ini penting karena Bobibos bukan tentang membuat perangkat lain untuk pasar global—melainkan membuktikan bahwa desain, pelatihan model, dan manufaktur hardware AI bisa terjadi secara paralel di negara berpendapatan menengah rendah, tanpa harus melewati gatekeeper teknologi besar. Di tengah dominasi chipset ARM dan ekosistem TensorFlow/PyTorch yang mengharuskan ketergantungan pada cloud vendor AS atau Eropa, Bobibos memilih jalan alternatif: RISC-V + Zephyr + ONNX Runtime Lite + dataset lokal yang dikumpulkan dari 47 desa di Timor Leste dan Nusa Tenggara Timur.
Dilansir Tempo Tekno, Iklas Thamrin menyebut bahwa 68% kode firmware Bobibos telah dikontribusi oleh developer dari Timor Leste dan Indonesia Timur—bukan dari Jakarta atau Singapura. Angka ini menunjukkan pergeseran nyata dalam kapasitas teknis: bukan hanya 'menggunakan' AI, tapi 'membangun ulang' AI sesuai konteks geografis dan linguistik spesifik. Ini relevan bagi Indonesia, mengingat 1.300 bahasa daerah kita masih minim representasi dalam model bahasa publik—dan Bobibos membuktikan bahwa solusi bisa dimulai dari skala mikro, bukan dari pusat riset raksasa.
Bagi industri hardware Indonesia, Bobibos juga menjadi cermin reflektif. Saat startup seperti Vokra dan Karya.ai fokus pada layanan AI berbasis cloud, Bobibos justru menunjukkan bahwa edge AI berbasis hardware lokal bisa lebih efisien untuk aplikasi pertanian presisi, pemantauan kualitas air sungai, atau deteksi dini kebakaran hutan—semua skenario di mana koneksi internet tidak andal dan latensi harus di bawah 200ms.
Di sisi regulasi, proyek ini juga menguji batas-batas kebijakan nasional. Timor Leste belum memiliki UU perlindungan data pribadi, namun Bobibos menerapkan prinsip *data sovereignty by design*: semua rekaman suara diproses lokal, tidak dikirim ke server mana pun, dan model AI tidak menyimpan cache identitas pengguna. Model ini bisa menjadi referensi konkret bagi Kominfo dan BSSN dalam menyusun panduan teknis untuk hardware AI dalam kerangka UU PDP 2022.
Fakta tambahan yang jarang disebut: Bobibos menggunakan baterai lithium ferro-fosfat (LFP) buatan lokal dari pabrik pilot di Baucau—bukan baterai impor. Ini satu-satunya perangkat AI di kawasan yang sepenuhnya bebas dari rantai pasok kobalt dan nikel, dua mineral yang sering dikaitkan dengan praktik penambangan tidak berkelanjutan di Afrika dan Papua.
