Ainesia
Startup & Bisnis AI

Huawei Gelontorkan $11,7 Miliar untuk Teknologi Mobil Otonom

Huawei mengumumkan investasi $11,7 miliar dalam sistem pengemudi otonom Qiankun ADS yang sudah menempuh lebih dari 10 miliar km. Langkah ini mempercepat persaingan global di sektor mobility AI.

(2 jam yang lalu)
4 menit baca
Huawei chip on circuit board: Huawei Gelontorkan $11,7 Miliar untuk Teknologi Mobil Otonom
Ilustrasi Huawei Gelontorkan $11,7 Miliar untuk Teknologi Mobil Otonom.

Huawei akan mengalokasikan $11,7 miliar untuk pengembangan teknologi mobil otonom dalam lima tahun ke depan. Angka itu bukan sekadar anggaran riset—melainkan komitmen strategis menyusul pencapaian Qiankun ADS, sistem pengemudi otonom miliknya, yang telah menempuh lebih dari 10 miliar kilometer dalam kondisi nyata dan simulasi gabungan.

Mengapa Ini Penting

Investasi sebesar $11,7 miliar bukan hanya soal skala uang, tapi tentang pergeseran posisi Huawei dari pemasok infrastruktur telekomunikasi menjadi arsitek inti ekosistem mobilitas cerdas. Berbeda dengan Tesla yang membangun sistem dari dalam kendaraan, atau Waymo yang fokus pada armada taksi otonom, Huawei memilih model *full-stack supplier*: menyediakan chip Ascend, sistem operasi HarmonyOS, sensor LiDAR generasi ketiga, serta platform pengambilan keputusan berbasis AI multilayer. Menurut laporan TechInAsia, pendekatan ini memungkinkan Huawei menjual solusi end-to-end ke produsen mobil Cina seperti BYD, Chery, dan Seres—tanpa harus memproduksi mobil sendiri.

Baca juga: Naver Uji Tab Pencarian Berbasis AI Usai Gemini Diluncurkan

Capaian 10 miliar km itu juga bukan angka kosong. Dalam industri otomotif, data jalan nyata adalah mata uang baru. Satu miliar km pengujian di jalan umum setara dengan sekitar 10–15 tahun simulasi intensif—dan Huawei mencapai 10x lipatnya dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak peluncuran Qiankun ADS 2.0 pada 2023. Artinya, sistem ini tidak hanya terlatih pada jalanan kota Beijing atau Shenzhen, tapi juga pada kondisi ekstrem: kabut tebal di Chengdu, hujan lebat di Guangzhou, dan jalan berliku pegunungan Yunnan.

Teknologi ini juga mengandalkan *cross-vehicle learning*: setiap mobil yang menggunakan Qiankun ADS mengirim data anonim ke cloud Huawei, lalu model AI diperbarui secara berkala melalui OTA. Hasilnya, tingkat kegagalan deteksi objek di bawah 0,0003%—lebih rendah dari rata-rata industri yang masih berada di kisaran 0,002%. Itu berarti satu kesalahan tiap 333 ribu kilometer, bukan tiap 50 ribu km seperti sistem generasi sebelumnya.

Baca juga: Tesla Capai Pendapatan Q1 Naik 16%, Robot Humanoid Siap Uji Coba

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, langkah Huawei ini bukan sekadar berita teknologi asing—tapi sinyal awal bahwa pasar mobilitas lokal mulai masuk dalam radar rantai pasok global AI otomotif. Saat ini, tidak ada startup atau BUMN yang mengembangkan sistem pengemudi otonom level 4 secara mandiri. Sebagian besar proyek seperti TransJakarta Otomatis atau uji coba bus listrik di Bali masih mengandalkan integrator asing seperti Mobileye atau NVIDIA. Namun, dengan harga paket Qiankun ADS yang dikabarkan 30–40% lebih murah daripada solusi serupa dari Eropa atau AS, peluang kolaborasi dengan produsen lokal seperti Gesits atau mobil listrik Wuling Indonesia menjadi realistis—terutama jika pemerintah memperkuat insentif fiskal untuk adopsi teknologi tinggi dalam transportasi umum.

Regulasi juga mulai bergerak. UU Lalu Lintas No. 22/2009 belum mengatur kendaraan otonom, tapi Peraturan Menteri Perhubungan No. 118/2023 membuka ruang uji coba kendaraan tanpa pengemudi di kawasan tertentu—meski belum menyentuh aspek lisensi sistem AI. Jika Huawei memperluas kerja sama dengan mitra ASEAN seperti Grab atau Gojek (yang sedang mengembangkan layanan mobility-as-a-service), maka teknologi ini bisa masuk ke Indonesia bukan lewat impor mobil, tapi lewat integrasi perangkat lunak dan layanan berbasis cloud—model yang lebih adaptif bagi infrastruktur jalan kita yang heterogen.

Dilansir TechInAsia, Huawei bahkan telah mengadakan diskusi awal dengan Kemenperin dan BPPT tentang kemungkinan transfer teknologi sensor dan edge computing untuk aplikasi logistik perkotaan. Artinya, dampaknya tidak hanya di jalan raya, tapi juga di gudang pintar, pelabuhan otomatis, dan sistem distribusi barang berbasis prediksi AI—sektor yang sedang didorong oleh program Making Indonesia 4.0.

Yang perlu dicatat: Huawei tidak bermain di ruang kosong. Di Cina, ia bersaing ketat dengan Baidu Apollo dan Xiaomi HyperOS—keduanya juga mengklaim capaian jarak tempuh di atas 8 miliar km. Tapi Huawei unggul dalam integrasi hardware-software dan kecepatan deployment: 67% mobil baru di Cina yang diluncurkan pada Q1 2024 dengan fitur navigasi berbasis HD map menggunakan Qiankun ADS sebagai basis utama. Itu bukan sekadar angka penjualan—melainkan indikator dominasi arsitektur sistem di balik kemudi otonom generasi berikutnya.

"Kami tidak membangun mobil. Kami membangun otak mobil—yang bisa dipakai oleh siapa saja, di mana saja, selama standar keselamatan dan etika AI-nya terpenuhi," kata Frank Han, Head of Intelligent Automotive Solution di Huawei, dalam konferensi Shanghai Auto Show 2024.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar