Lebih dari 80% kendaraan listrik premium di Korea Selatan yang diluncurkan pada 2024 sudah mengadopsi arsitektur komputasi tingkat tinggi untuk fitur bantuan pengemudi tingkat 3 (L3). Mercedes-Benz menjadi merek Eropa pertama yang mengumumkan peluncuran sistem berkendara berbasis chip Nvidia DRIVE Orin secara komersial di negara itu — bukan sebagai uji coba, melainkan sebagai fitur standar pada varian EQS dan S-Class tertentu mulai kuartal I 2025.
Dilansir TechInAsia, integrasi ini tidak hanya penambahan sensor atau perangkat lunak baru. Mercedes membangun ulang seluruh lapisan sistem ADAS-nya — mulai dari pemrosesan data kamera dan radar hingga keputusan lintas jalur dan manuver kompleks di persimpangan ramai — di atas platform komputasi Nvidia DRIVE Orin yang mampu menangani 254 triliun operasi per detik (TOPS). Sistem ini dikembangkan bersama NVIDIA dan disertifikasi oleh otoritas transportasi Korea Selatan (KOTRA) untuk operasi di jalan raya dan jalan perkotaan terbatas.
Baca juga: AirTrunk Masuk India Lewat Deal 600 MW dengan Lumina CloudInfra
Mengapa Ini Penting
Teknologi ini penting karena menandai pergeseran strategis: mobil tidak lagi mengandalkan chip khusus buatan pabrikan sendiri — seperti Mobileye EyeQ atau Tesla FSD Chip — tapi juga beralih ke ekosistem komputasi terbuka berbasis GPU. Nvidia kini menguasai lebih dari 68% pasar chip AI untuk mobil otonom global, menurut laporan Counterpoint Research Q3 2024. Mercedes memilih pendekatan kolaboratif ketimbang in-house development, mengakui bahwa kecepatan iterasi perangkat lunak AI jauh lebih krusial daripada kepemilikan silikon semata.
Ini juga mengubah dinamika rantai pasok otomotif. Pabrikan tidak lagi hanya berkompetisi lewat desain bodi atau efisiensi baterai, tapi melalui kemampuan mengintegrasikan model AI besar (large vision models), memproses data real-time dari puluhan sensor, dan memperbarui perilaku sistem melalui over-the-air (OTA) dalam hitungan jam — bukan bulan. Di Korea Selatan, regulasi L3 sudah berlaku sejak Januari 2024, dengan syarat pengemudi siap mengambil alih dalam waktu 10 detik. Mercedes memenuhi syarat itu dengan sistem monitor perhatian berbasis kamera mata dan analisis postur tubuh — bukan sekadar deteksi sentuhan stir.
Baca juga: ByteDance Global Naik, Tapi Biaya AI Tekan Laba
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, peluncuran ini bukan sekadar berita teknologi asing. Pasar otomotif nasional sedang memasuki fase kritis: jumlah kendaraan listrik naik 217% year-on-year pada kuartal II 2024 (data Gaikindo), sementara infrastruktur jalan dan regulasi keselamatan belum menyusul. Kementerian Perhubungan baru mengeluarkan panduan uji coba L2 pada Maret 2024 — tanpa kerangka hukum untuk L3. Artinya, teknologi seperti milik Mercedes tidak bisa dioperasikan legal di Indonesia dalam lima tahun ke depan, bahkan jika impor unitnya diperbolehkan.
Namun dampaknya nyata di level industri pendukung. Startup lokal seperti Vayu.ai dan Tirta Karya Digital mulai mengembangkan solusi pemantauan pengemudi berbasis kamera low-cost untuk armada logistik — teknologi yang mirip dengan modul attention monitoring Mercedes, tapi disesuaikan dengan kondisi jalan Jakarta dan biaya operasional UMKM. Jika regulasi L3 tetap stagnan, Indonesia berisiko menjadi pasar konsumen pasif: mengimpor mobil canggih, tapi tidak bisa memanfaatkan fitur intinya. Lebih buruk lagi, talenta AI otomotif nasional akan terus tersedot ke Korea Selatan dan Jerman karena kurangnya ruang eksperimen lokal.
Perbedaan kecepatan adopsi juga tampak dari investasi riset. Di Korea Selatan, pemerintah mengalokasikan USD 1,2 miliar untuk pengembangan infrastruktur V2X (vehicle-to-everything) hingga 2027. Di Indonesia, proyek serupa masih berupa uji coba pilot di BSD City dan Nusantara — tanpa roadmap nasional yang mengikat. Tanpa sinkronisasi antara Kemenperin, Kemenhub, dan BSSN soal standar keamanan siber untuk sistem berkendara otonom, teknologi seperti milik Mercedes akan tetap menjadi 'barang pajangan' di showroom Jakarta.
Yang menarik, Mercedes tidak menyebut nama spesifik untuk perangkat lunaknya — hanya menyatakan sistem bekerja 'dengan perangkat lunak internal'. Ini berarti mereka mempertahankan kendali penuh atas algoritma pengambilan keputusan, meski bergantung pada hardware Nvidia. Model bisnis ini memungkinkan mereka menjual update fitur berbayar (subscription-based), seperti yang sudah diterapkan BMW dan Volvo. Di Indonesia, model langganan seperti ini masih menghadapi resistensi konsumen dan tantangan regulasi perlindungan data pribadi — terutama karena UU PDP belum mengatur eksplisit soal data telematika kendaraan.
"Kami tidak menjual mobil, kami menjual pengalaman mobilitas yang berevolusi setiap hari melalui perangkat lunak," kata Ola Källenius, CEO Daimler AG, dalam konferensi pers peluncuran di Seoul. Kalimat itu bukan retorika belaka — ia mencerminkan pergeseran nilai inti industri otomotif dari mekanika ke perangkat lunak, dari kepemilikan ke akses, dan dari statis ke adaptif. Untuk Indonesia, pertanyaannya bukan apakah kita bisa mengadopsi teknologi ini, tapi apakah kita siap membangun fondasi regulasi, infrastruktur, dan kapasitas SDM yang membuat teknologi itu bermakna — bukan sekadar mahal.
