Ainesia
Startup & Bisnis AI

Naver Uji Tab Pencarian Berbasis AI Usai Gemini Diluncurkan

Naver mengalokasikan lebih dari 100 miliar won untuk pengembangan pencarian berbasis AI, menandai pergeseran strategis dari mesin pencari tradisional ke asisten kontekstual.

(2 jam yang lalu)
4 menit baca
Naver office building: Naver Uji Tab Pencarian Berbasis AI Usai Gemini Diluncurkan
Ilustrasi Naver Uji Tab Pencarian Berbasis AI Usai Gemini Diluncurkan.

Naver akan meluncurkan tab pencarian berbasis kecerdasan buatan dalam versi beta pada kuartal kedua 2024, menyusul peluncuran Google Gemini yang memicu gelombang respons global dari raksasa teknologi Asia. Investasi awal mencapai 100,3 miliar won (sekitar US$67,4 juta), angka yang secara eksplisit dialokasikan untuk riset dan pengembangan model bahasa besar (LLM) lokal serta integrasi ke antarmuka pengguna utama.

Mengapa Ini Penting

Dilansir TechInAsia, langkah Naver tidak hanya reaksi defensif terhadap Gemini, tapi juga bagian dari strategi jangka panjang yang telah dimulai sejak 2022: membangun ekosistem pencarian berbasis agen—bukan hanya hasil daftar tautan, tapi asisten yang memahami konteks lokal, bahasa campuran (Korea-Inggris-Korean slang), dan perilaku pengguna Korea Selatan yang unik. Berbeda dengan Google atau Bing yang mengandalkan infrastruktur global, Naver memprioritaskan data lokal, privasi domestik, dan integrasi vertikal dengan layanan seperti Naver Maps, Naver Shopping, dan Naver Blog. Model LLM internalnya, HyperCLOVA X, sudah digunakan di lebih dari 20 produk—mulai dari asisten virtual hingga sistem penilaian konten moderasi. Tab baru ini akan menjadi uji coba paling ambisius: menggantikan tab 'Web' standar dengan tab bernama 'AI Search', tempat pengguna bisa bertanya dalam kalimat alami, meminta ringkasan artikel berita lokal, atau bahkan membandingkan harga produk dari tiga toko daring sekaligus; semua dalam satu interaksi tanpa beralih aplikasi.

Baca juga: Huawei Gelontorkan $11,7 Miliar untuk Teknologi Mobil Otonom

Yang menarik, Naver tidak mengandalkan API eksternal. Semua pemrosesan dilakukan di pusat data dalam negeri, sesuai regulasi Korea Selatan tentang perlindungan data pribadi (PIPA). Ini kontras tajam dengan pendekatan Google yang masih mengandalkan cloud global untuk sebagian besar inferensi Gemini. Keputusan ini memang membatasi skalabilitas awal, tetapi meningkatkan kecepatan respons untuk query berbasis lokasi—seperti "toko roti terdekat yang buka sampai jam 10 malam di Gangnam"—yang sering gagal di mesin pencari global karena keterbatasan data geolokasi lokal.

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, gerakan Naver adalah sinyal penting bahwa masa depan pencarian tidak lagi ditentukan oleh dominasi global, melainkan oleh kemampuan membangun model lokal yang memahami kompleksitas bahasa, budaya, dan infrastruktur digital nasional. Di Tanah Air, mesin pencari masih didominasi Google (92,3% pangsa pasar menurut StatCounter, Maret 2024), sementara startup seperti Qoala dan Kumparan baru mulai menguji fitur AI-assisted search dalam aplikasi finansial dan berita. Namun, mereka belum memiliki skala data, kapasitas komputasi, atau regulasi pendukung seperti di Korea Selatan. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang berlaku sejak 2023 memang membuka ruang bagi pengembangan model lokal—tetapi belum diikuti insentif fiskal konkret atau skema akses ke komputasi AI nasional seperti yang dicanangkan Korea melalui program K-National AI Strategy. Jika Naver berhasil membuat tab AI-nya menggantikan 30% trafik pencarian organik dalam satu tahun, itu bisa menjadi referensi kuat bagi regulator Indonesia: bukan soal melarang platform asing, tapi mempercepat pembangunan fondasi teknologi lokal—dari data center berbasis energi hijau hingga kurikulum pelatihan engineer AI di perguruan tinggi.

Baca juga: Tesla Capai Pendapatan Q1 Naik 16%, Robot Humanoid Siap Uji Coba

Perbedaan mendasar juga terletak pada model bisnis. Naver menghasilkan 68% pendapatannya dari iklan berbasis pencarian—bukan iklan display atau video. Artinya, setiap peningkatan relevansi hasil pencarian langsung meningkatkan CTR (click-through rate) dan pendapatan. Di Indonesia, sebagian besar startup belum mencapai titik itu: mereka masih mengandalkan venture capital, bukan pendapatan operasional berbasis AI. Tanpa mekanisme monetisasi yang jelas, investasi besar dalam LLM lokal akan sulit dipertahankan—meski teknologinya tersedia.

Teknologi Naver juga menghadirkan tantangan baru bagi pengguna Indonesia: bagaimana menilai keandalan jawaban AI yang dibangun di atas data lokal, jika tidak ada transparansi tentang sumber pelatihan atau proses verifikasi fakta? Di Korea, Naver wajib mencantumkan label 'AI-generated' dan menyertakan tautan ke sumber primer—aturan yang belum ada di Indonesia. Sementara itu, Kominfo masih fokus pada regulasi platform media sosial, bukan pada akuntabilitas output AI dalam layanan pencarian.

Investasi 100,3 miliar won itu setara dengan Rp1,2 triliun—jumlah yang nyaris dua kali lipat dari total anggaran riset dan inovasi Kemenristek BRIN untuk bidang kecerdasan buatan pada 2023. Perbandingan ini bukan untuk menyalahkan, tapi menegaskan: persaingan di era AI bukan lagi soal ide atau talenta, melainkan komitmen kebijakan dan alokasi sumber daya yang tak bisa ditunda. Naver tidak menunggu regulasi sempurna. Mereka membangun, menguji, dan memperbaiki—di tengah aturan yang berkembang.

"Kami tidak berusaha menyaingi Google dalam skala global. Kami membangun alat yang menjawab pertanyaan orang Korea, dalam bahasa mereka, dengan cara mereka berpikir—dan itu butuh waktu, data, serta kesabaran," kata Seung-hoon Lee, Chief Technology Officer Naver, dalam konferensi pers internal yang dikutip TechInAsia.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar