Ainesia
Startup & Bisnis AI

Naver dan Kakao Raih Laba Q1 Berkat Komersialisasi AI, Bukan Teknologi Murni

Naver dan Kakao mencatat pertumbuhan pendapatan kuartal I 2024 didorong layanan komersial dan iklan berbasis AI—bukan dari penjualan model atau lisensi teknologi. Analisis dampak bagi ekosistem startup Indonesia.

(2 hari yang lalu)
4 menit baca
Naver headquarters building: Naver dan Kakao Raih Laba Q1 Berkat Komersialisasi AI, Bukan Teknologi Murni
Ilustrasi Naver dan Kakao Raih Laba Q1 Berkat Komersialisasi AI, Bukan.

Naver dan Kakao membukukan kenaikan signifikan dalam pendapatan dan laba bersih kuartal I 2024, meski keduanya masih berada dalam fase investasi berat di pengembangan kecerdasan buatan generatif. Pertumbuhan itu tidak berasal dari penjualan model AI ke pihak ketiga, melainkan dari pemanfaatan internal teknologi tersebut untuk memperkuat layanan inti: e-commerce Naver Shopping dan platform iklan TalkBiz milik Kakao.

Mengapa Ini Penting

Kinerja kuartal ini menegaskan sebuah pola yang mulai menguat di Asia Timur: komersialisasi AI tidak harus dimulai dari pasar model—melainkan dari peningkatan efisiensi operasional dan peningkatan konversi bisnis inti. Naver meningkatkan pendapatan komersialnya sebesar 23,7% year-on-year menjadi 1,27 triliun won (sekitar Rp15,3 triliun), sementara Kakao TalkBiz mencatat pertumbuhan iklan berbasis chat sebesar 41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kedua perusahaan justru menekan biaya R&D AI secara relatif—meski tetap mengalokasikan lebih dari 30% dari total belanja teknologi mereka untuk infrastruktur foundation model dan fine-tuning aplikasi spesifik.

Baca juga: Peta Pemain E-commerce China: Siapa yang Mengendalikan 1,4 Miliar Konsumen?

Dilansir TechInAsia, strategi ini berbeda tajam dengan pendekatan sejumlah vendor AS seperti Anthropic atau Mistral, yang masih bergantung pada pendanaan ventura dan kontrak enterprise untuk bertahan. Naver dan Kakao tidak menjual API OpenAI-clone; mereka membangun AI sebagai enabler—bukan produk utama. Contohnya: Naver Shopping menggunakan LLM lokal untuk menghasilkan deskripsi produk otomatis berbasis gambar, mengurangi waktu input merchant hingga 68%. Kakao TalkBiz memanfaatkan model bahasa kecil (small language model/SLM) berbasis bahasa Korea untuk menyaring niat beli dari pesan pengguna, meningkatkan CTR iklan hingga 2,3 kali lipat dibanding versi non-AI.

Ini bukan sekadar optimisasi teknis. Ini adalah pilihan strategis yang mengakui batas pasar: permintaan global untuk model generatif masih terkonsentrasi di korporasi besar dan developer, sementara pasar massal—konsumen akhir dan UMKM—lebih responsif terhadap fitur nyata: pencarian lebih akurat, rekomendasi personal, atau chatbot layanan pelanggan yang benar-benar memahami konteks lokal.

Baca juga: Startup Israel Raih $38,7 Miliar: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Konteks Indonesia

Bagi Indonesia, kasus Naver dan Kakao memberikan pelajaran konkret: startup lokal tak perlu mengejar 'membangun foundation model sendiri' untuk bersaing. Data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDEA) menunjukkan bahwa 72% pelaku UMKM online masih kesulitan membuat konten promosi—baik teks maupun caption media sosial. Padahal, 64% konsumen Indonesia mengakui lebih percaya pada iklan berbasis rekomendasi personal daripada banner statis. Artinya, ruang nilai terbesar bukan di layer infrastruktur AI, tapi di layer aplikasi—tepat di mana Naver dan Kakao unggul.

Startup Indonesia seperti Tokopedia dan Bukalapak sudah mulai mengadopsi pendekatan serupa: Tokopedia menggunakan model bahasa berbasis Bahasa Indonesia untuk mengotomatisasi review moderation dan klasifikasi keluhan pelanggan, mengurangi beban tim layanan hingga 40%. Namun, belum ada yang secara eksplisit mengintegrasikan AI ke dalam alur monetisasi utama—seperti Kakao TalkBiz yang mengubah setiap percakapan pengguna menjadi peluang iklan berbayar. Regulasi perlindungan data (UU PDP) justru bisa menjadi keuntungan kompetitif: model lokal yang dilatih khusus untuk Bahasa Indonesia dan budaya komunikasi digital Indonesia—dengan data yang dikumpulkan secara compliant; akan lebih akurat dan lebih mudah diterima konsumen daripada solusi impor berbasis English-first.

Yang menarik, Naver dan Kakao juga membatasi akses eksternal ke model mereka. Tidak ada API publik untuk Naver's HyperClova X atau Kakao's KoGPT—keduanya hanya digunakan secara internal atau dalam kerja sama terbatas dengan mitra strategis seperti bank lokal atau operator telekomunikasi. Ini berbeda dengan tren di Indonesia, di mana beberapa startup AI justru membuka API gratis untuk menarik developer, padahal basis pengguna komersialnya masih sangat tipis. Fokus pada monetisasi langsung lewat produk inti, bukan ekosistem developer, ternyata lebih cepat menghasilkan arus kas positif—dan itu krusial bagi startup di tengah kondisi pendanaan ventura yang masih lesu sejak 2023.

Salah satu fakta tambahan yang jarang disorot: Kakao TalkBiz tidak hanya mengandalkan AI untuk menampilkan iklan—tetapi juga untuk menentukan harga iklan secara real-time berdasarkan intensitas interaksi pengguna dalam obrolan. Sistem ini, yang disebut 'Conversation Value Index', telah meningkatkan rata-rata revenue per active user (ARPU) di platform KakaoTalk sebesar 19% dalam tiga bulan pertama peluncuran penuh. Itu bukan sekadar peningkatan teknis—itu perubahan cara pandang dari 'pay-per-impression' ke 'pay-per-meaningful-engagement'.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar