Lebih dari 65 persen konsumen di India kini mengakses platform e-commerce lewat ponsel pintar, dan 42 persen di antaranya pernah menunda pembelian karena kelelahan membandingkan harga, ulasan, atau kebijakan pengembalian uang. Di tengah tekanan itu, tiga startup besar — Meesho, DealShare, dan SnapBizz — mulai meluncurkan versi awal toko berbasis agentic AI: sistem yang tidak sekadar menjawab pertanyaan, tapi bertindak sebagai agen belanja mandiri.
Apa Itu Agentic Commerce?
Agentic commerce tidak hanya chatbot yang menjawab 'berapa harga sepatu Nike ukuran 42?'. Ini adalah lompatan arsitektur: AI yang memiliki tujuan, memori jangka pendek dan panjang, kemampuan mengambil keputusan berurutan, serta akses terbatas ke sistem pembayaran dan logistik. Ia bisa membuka lima tab toko berbeda, memfilter berdasarkan garansi lokal, stok real-time, dan reputasi penjual — lalu mengonfirmasi pesanan tanpa intervensi manusia. Menurut laporan TechInAsia, Meesho telah menguji versi beta fitur ini sejak Januari 2024 dengan 120.000 pengguna terpilih di Karnataka dan Telangana. Hasilnya: waktu rata-rata dari pencarian hingga checkout turun 73 persen, sementara retensi pengguna naik 28 persen dalam 30 hari.
Baca juga: Singtel dan Mistral Bangun Infrastruktur AI di Singapura
Sistem ini dibangun di atas model bahasa berukuran sedang (3–7 miliar parameter) yang di-fine-tune khusus untuk domain transaksi ritel — bukan model generik seperti Llama atau Gemma. Mereka juga mengintegrasikan API dari penyedia logistik lokal seperti Delhivery dan ekosistem pembayaran seperti Paytm dan PhonePe. Yang unik: setiap agen diberi 'profil belanja' berdasarkan riwayat transaksi, preferensi pengiriman, bahkan toleransi terhadap keterlambatan — bukan hanya profil demografis.
Mengapa Ini Penting
Kebanyakan startup Indonesia masih berada di tahap 'recommender AI': sistem yang menyarankan produk berdasarkan pola klik dan riwayat. Padahal, menurut data APJII 2023, 57 persen konsumen online di Indonesia mengeluh soal 'overchoice' — terlalu banyak pilihan tanpa panduan yang cukup. Agentic commerce justru menjawab kelelahan kognitif itu dengan mengalihkan beban pengambilan keputusan dari otak pengguna ke agen digital yang terlatih. Ini bukan soal efisiensi semata, tapi perubahan cara pandang kepemilikan pengalaman belanja: dari 'saya mencari' menjadi 'saya memberi instruksi, lalu menunggu hasil'. Kompetitor global seperti Amazon sudah menguji skenario serupa lewat 'Amazon Assistant', tetapi implementasinya masih terbatas pada pencarian suara — bukan eksekusi end-to-end.
Di Indonesia, GoTo dan Bukalapak belum meluncurkan fitur sejenis. Bukalapak fokus pada integrasi AI untuk verifikasi UMKM dan deteksi penipuan, sementara GoTo baru memperkenalkan 'GoShop Assistant' bulan lalu — sebuah chatbot berbasis LLM yang hanya bisa menjawab pertanyaan dan mengarahkan ke halaman produk. Tidak ada akses ke keranjang, tidak ada otorisasi pembayaran, dan tidak ada kapabilitas multi-step. Perbedaan teknis ini bukan soal keterlambatan, tapi refleksi prioritas infrastruktur: startup India lebih cepat mengadopsi arsitektur agentic karena ekosistem pembayaran dan logistik mereka lebih terfragmentasi — sehingga otomatisasi lintas layanan justru lebih bernilai.
Tantangan utama bukan teknis, tapi juga kepercayaan dan regulasi. Bagaimana jika agen salah memilih varian produk? Siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan pengiriman akibat integrasi API yang gagal? Di India, regulator RBI dan DPIIT sedang menyusun pedoman khusus untuk 'autonomous transaction agents', termasuk wajib adanya tombol 'pause execution' dan rekam jejak audit tiap langkah. Di Indonesia, OJK dan KPPU belum memiliki kerangka serupa — padahal UU Perlindungan Konsumen No. 8/1999 tidak dirancang untuk menangani keputusan otomatis oleh entitas non-manusia.
Yang menarik, startup India tidak membangun agen ini dari nol. Mereka memanfaatkan open-source framework seperti LangGraph dan AutoGen, lalu menambahkan layer verifikasi manusia di titik kritis: misalnya, semua transaksi di atas Rp500.000 harus dikonfirmasi ulang via OTP. Model ini menunjukkan bahwa agentic commerce bukan tentang menghilangkan manusia, tapi memindahkan intervensi manusia ke momen yang benar-benar membutuhkan penilaian etis atau finansial.
Bagi konsumen Indonesia, ini bukan soal kapan fitur serupa akan hadir — tapi bagaimana kita ingin fitur itu hadir: sebagai alat bantu yang transparan dan dapat dikendalikan, atau sebagai kotak hitam yang mengambil keputusan tanpa jejak audit? Jika toko AI mulai membeli barang atas nama Anda, siapa sebenarnya yang masih mengendalikan pengalaman belanja Anda?
