Ainesia
Ainesia
IKLAN
Gadget & Hardware

Dosen IPB Luruskan Mitos Bahaya Earphone Bluetooth bagi Otak

Kekhawatiran publik soal radiasi earphone bluetooth terjawab setelah dosen IPB menyatakan belum ada bukti ilmiah konsisten yang membuktikan kerusakan otak.

(24 Februari 2026)
4 menit baca
Dosen IPB Luruskan Mitos Bahaya: Dosen IPB Luruskan Mitos Bahaya Earphone Bluetooth bagi Otak
Ilustrasi Dosen IPB Luruskan Mitos Bahaya Earphone Bluetooth bagi Otak.
IKLAN

Pagi itu, Rina memutuskan untuk melepas kabel kusut dari saku celananya saat bersiap menuju kantor. Ia mengganti perangkat audio lawasnya dengan sepasang earphone bluetooth mungil yang sedang tren di kalangan rekan kerjanya. Namun, sesaat sebelum menekan tombol 'connect', tangannya terhenti. Sebuah pesan berantai di grup keluarga baru saja ia baca, mengklaim bahwa gelombang radio dari perangkat nirkabel tersebut dapat 'memanggang' jaringan otak penggunanya secara perlahan. Keraguan itu membuatnya urung memakai alat bantu dengar modern tersebut dan kembali menggulung kabelnya dengan resah.

Kecemasan seperti yang dialami Rina ternyata melanda banyak pengguna teknologi di Indonesia. Isu mengenai bahaya radiasi non-pengion dari perangkat bluetooth sempat memicu perdebatan hangat di media sosial. Menanggapi gelombang kekhawatiran ini, seorang akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) turun tangan memberikan klarifikasi berbasis data ilmiah. Dosen tersebut menegaskan bahwa hingga saat ini, dunia kedokteran dan fisika kesehatan belum menemukan bukti ilmiah yang konsisten terkait klaim merusak tersebut.

Tinjauan Ilmiah Terhadap Radiasi Non-Pengion

Penjelasan lebih lanjut mengungkap bahwa earphone bluetooth memancarkan jenis radiasi yang sangat berbeda dengan sinar-X atau radiasi nuklir yang berbahaya. Perangkat ini menggunakan gelombang radio frekuensi rendah yang masuk dalam kategori radiasi non-pengion. Energi yang dipancarkan oleh sinyal bluetooth sangatlah kecil, jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh standar keamanan internasional seperti ICNIRP (International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection). Intensitas sinyal ini bahkan sering kali lebih lemah dibandingkan pancaran sinyal dari ponsel pintar yang kita tempelkan langsung ke telinga saat menelepon.

Baca juga: ByteDance Bekukan Peluncuran Global AI Video Seedance 2.0

Proses verifikasi fakta ini melibatkan tinjauan terhadap ratusan studi epidemiologi dan eksperimen laboratorium yang telah dilakukan selama dua dekade terakhir. Para peneliti secara spesifik mencari korelasi antara paparan jangka panjang gelombang radio frekuensi rendah dengan kejadian tumor otak atau kerusakan saraf. Hasilnya menunjukkan variasi data yang acak tanpa pola sebab-akibat yang jelas. Tidak ada mekanisme biologis yang terbukti secara meyakinkan di mana energi rendah dari bluetooth mampu memutus ikatan kimia dalam DNA atau menyebabkan mutasi sel pada manusia.

Pentingnya Literasi Digital di Tengah Hoaks

Fenomena penyebaran informasi keliru mengenai teknologi ini menyoroti masih rendahnya literasi digital masyarakat dalam menyaring informasi kesehatan. Mudahnya sebuah klaim tanpa sumber valid menjadi viral sering kali mengalahkan fakta ilmiah yang membutuhkan penjelasan teknis rumit. Padahal, adopsi teknologi nirkabel seperti bluetooth justru membawa efisiensi dan kenyamanan signifikan bagi produktivitas sehari-hari. Menghindari teknologi ini karena ketakutan yang tidak berdasar justru menghambat potensi manfaat yang bisa diperoleh pengguna.

Dosen IPB tersebut menekankan pentingnya masyarakat untuk merujuk pada jurnal ilmiah terakreditasi atau pernyataan resmi lembaga kesehatan sebelum mempercayai isu semacam ini. Sikap skeptis terhadap teknologi memang baik, namun harus didasarkan pada riset yang valid, bukan spekulasi semata. Dengan pemahaman yang benar, pengguna dapat menikmati fitur konektivitas nirkabel tanpa dibayangi rasa takut yang tidak perlu terhadap kesehatan otak mereka.

Baca juga: Spotify Taste Profile: Pengguna Kini Kendalikan Algoritma Musik

Klarifikasi ini memberikan dampak langsung berupa ketenangan pikiran bagi jutaan pengguna gawai di Tanah Air. Masyarakat kini dapat kembali menggunakan earphone bluetooth untuk bekerja, belajar, atau hiburan dengan keyakinan bahwa perangkat tersebut aman selama digunakan sesuai petunjuk pabrik. Hilangnya stigma negatif ini juga diharapkan dapat mendorong diskusi yang lebih substantif mengenai penggunaan teknologi yang sehat, seperti menjaga volume suara agar tidak merusak pendengaran, daripada fokus pada isu radiasi yang telah terpatahkan secara ilmiah.

Dikutip dari Tempo Tekno

Bagikan artikel ini

Komentar

IKLAN