Ainesia
Ainesia
IKLAN
Gadget & Hardware

27 Ribu Aplikasi Pemerintah Terisolasi, Integrasi Jadi PR Besar

Sebanyak 27 ribu aplikasi di instansi pemerintah berdiri sendiri tanpa koneksi. Kondisi ini menghambat efisiensi layanan publik dan pemborosan anggaran negara.

(22 Februari 2026)
4 menit baca
27 Ribu Aplikasi Pemerintah Terisolasi,: 27 Ribu Aplikasi Pemerintah Terisolasi, Integrasi Jadi PR Besar
Ilustrasi 27 Ribu Aplikasi Pemerintah Terisolasi, Integrasi Jadi PR Be....
IKLAN

Sebanyak 27 ribu aplikasi tersebar di seluruh kementerian dan lembaga, baik di tingkat pusat maupun daerah, namun beroperasi secara terpisah tanpa saling terhubung. Fakta ini mengungkap adanya fragmentasi digital yang masif dalam tubuh birokrasi Indonesia, di mana setiap instansi seolah membangun menara gading teknologinya sendiri. Keberadaan puluhan ribu sistem yang tidak terintegrasi ini menciptakan hambatan serius bagi aliran data antar-lembaga yang seharusnya bisa berjalan lancar untuk kepentingan pelayanan publik.

Kondisi ini tidak hanya masalah teknis semata, tapi juga cerminan dari perencanaan transformasi digital yang belum tersentralisasi dengan baik selama bertahun-tahun. Setiap kementerian dan lembaga berlomba-lomba mengembangkan solusi perangkat lunak sendiri tanpa memperhatikan standar interoperabilitas nasional. Akibatnya, data kependudukan, perizinan, hingga layanan kesehatan sering kali terjebak dalam silo-silo informasi yang sulit diakses oleh instansi lain yang membutuhkan.

Pemborosan Anggaran dan Inefisiensi Layanan

Fenomena 27 ribu aplikasi yang berdiri sendiri-sendiri ini berpotensi menyebabkan pemborosan anggaran negara yang sangat signifikan. Pemerintah harus mengalokasikan dana besar untuk pemeliharaan server, lisensi perangkat lunak, dan tim teknis untuk masing-masing aplikasi tersebut, padahal banyak fitur yang tumpang tindih antara satu instansi dengan instansi lainnya. Alih-alih menciptakan efisiensi, proliferasi aplikasi justru membebani kas negara dengan biaya operasional ganda untuk fungsi yang sebenarnya bisa dipusatkan dalam satu platform terpadu.

Baca juga: ByteDance Bekukan Peluncuran Global AI Video Seedance 2.0

Dari sisi pelayanan masyarakat, ketidakterhubungan antar-aplikasi ini berdampak langsung pada lambatnya proses administrasi dan birokrasi yang berbelit. Warga negara sering kali diminta mengumpulkan berkas fisik atau menginput data yang sama berulang kali karena sistem di dinas A tidak dapat membaca data dari dinas B. Situasi ini kontraproduktif dengan semangat reformasi birokrasi dan janji pemerintahan untuk mempermudah kehidupan rakyat melalui digitalisasi.

Tantangan Menuju Satu Data Indonesia

Mewujudkan integrasi dari 27 ribu aplikasi yang sudah terlanjur terbangun merupakan pekerjaan rumah raksasa yang menuntut strategi migrasi data yang hati-hati. Langkah penyatuan ini tidak bisa dilakukan secara instan karena risiko gangguan layanan yang dapat melumpuhkan operasional instansi vital jika terjadi kesalahan teknis selama proses migrasi. Diperlukan kepemimpinan kuat dari otoritas teknologi utama seperti Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memaksa standarisasi protokol data di semua lini pemerintahan.

Keberhasilan menghubungkan ribuan aplikasi ini akan menjadi penentu utama apakah Indonesia mampu benar-benar memanfaatkan big data untuk pengambilan kebijakan yang akurat. Tanpa integrasi, data yang terkumpul hanya akan menjadi arsip digital mati yang tidak memberikan wawasan holistik tentang kondisi bangsa. Upaya meruntuhkan sekat-sekat digital ini adalah harga mati untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lincah, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan zaman.

Baca juga: Spotify Taste Profile: Pengguna Kini Kendalikan Algoritma Musik

Dampak langsung dari situasi ini adalah terhambatnya kecepatan respon pemerintah dalam menangani krisis dan penurunan kualitas layanan dasar bagi masyarakat. Selama aplikasi-aplikasi tersebut tetap terisolasi, efisiensi yang dijanjikan oleh era digital hanya akan menjadi slogan kosong tanpa realisasi nyata di lapangan.

Dikutip dari Tempo Tekno

Bagikan artikel ini

Komentar

IKLAN