Seratus domba kini bekerja di bawah panel surya Volkswagen di wilayah Lower Silesia, Polandia. Mereka tidak menghasilkan listrik, tapi menjaga pertumbuhan rumput agar tidak menghalangi penyerapan cahaya matahari — sekaligus menggantikan mesin pemotong rumput berbahan bakar fosil. Angka ini bukan simbolis: 100 ekor domba adalah kapasitas optimal untuk lahan seluas 3 hektare yang ditanami 7.500 panel fotovoltaik itu.
Bukan Pertunjukan, Tapi Pengganti Mesin Pemotong
Ini tidak hanya kampanye ramah lingkungan berbalut kecutan bahasa — seperti julukan 'baa-ter arrangement' yang dipakai Engadget dalam laporannya. Domba-domba tersebut menjalani tugas harian nyata: merumput secara alami, mengurangi kebutuhan pemeliharaan mekanis hingga 80% dibanding metode konvensional. Menurut Engadget, sistem ini sudah beroperasi sejak awal 2024 dan terbukti menekan biaya operasional tahunan sekaligus menurunkan emisi CO₂ dari peralatan pemeliharaan lahan. Di sini, domba bukan figur estetika, tapi juga komponen infrastruktur hijau yang terukur dampaknya.
Volkswagen tidak sendiri. Di Jerman, perusahaan energi EnBW menggunakan 200 domba di pembangkit surya di Baden-Württemberg. Di Prancis, kelompok agrivoltaik Solaris memadukan 500 ekor domba dengan 12 MW kapasitas surya di wilayah Occitanie. Pola ini disebut 'agrivoltaik gembala', model di mana peternakan dan energi terbarukan saling memperkuat — bukan bersaing untuk lahan. Di Polandia, di mana 62% listrik masih berasal dari batu bara (data IEA 2023), kehadiran domba di ladang surya justru menjadi penanda transisi yang konkret: bukan hanya soal mengganti sumber energi, tapi juga cara mengelola tanahnya.
Baca juga: Meta Matikan Kamera Saat Lampu Privasi Dirusak — Apa Artinya untuk Pengguna Indonesia?
Di Indonesia, Lahan Surya Masih Pakai Traktor dan Herbisida
Di Indonesia, skema serupa belum muncul — bahkan belum masuk dalam diskusi teknis PLTS atap maupun ground-mounted. Sebagian besar proyek PLTS skala besar seperti di Cirata atau di kawasan industri Cilegon masih mengandalkan pemangkasan manual atau herbisida kimia untuk mengendalikan vegetasi. Padahal, potensi sinergi agrivoltaik sangat tinggi: Kementerian ESDM mencatat ada 1,2 juta hektare lahan kritis yang bisa dikombinasikan dengan PLTS, sementara Kementerian Pertanian mengidentifikasi 4,7 juta peternak kecil yang butuh akses pakan murah dan stabil.
Yang hilang bukan teknologi, tapi kerangka regulasi dan insentif lintas sektor. Di Eropa, subsidi Uni Eropa untuk 'dual-use land' memungkinkan operator PLTS mendapat tambahan €15–20 per kW/tahun jika mengintegrasikan aktivitas pertanian atau peternakan. Di Indonesia, Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 tentang PLTS belum menyebut satupun kata 'pertanian', 'ternak', atau 'penggunaan ganda lahan'. Regulasi masih berpikir dalam kotak: lahan untuk energi atau lahan untuk pangan — bukan keduanya sekaligus.
Baca juga: DeepSeek Bangun Chip AI Sendiri — Apa Artinya bagi Pasar Global?
Ada juga kendala praktis: ketiadaan standar teknis untuk jarak antar-panel yang aman bagi ternak, risiko kerusakan kabel bawah tanah oleh kuku domba, serta minimnya pelatihan bagi peternak lokal dalam manajemen agrivoltaik. Namun, ini bukan halangan teknis yang tak bisa diatasi — melainkan prioritas kebijakan yang belum tertuang. Di saat PLN sedang mempercepat pembangunan 5 GW PLTS baru hingga 2027, pertanyaannya bukan 'bisa atau tidak', tapi 'mau atau tidak' mengubah paradigma pengelolaan lahan dari monofungsi menjadi multifungsi.
Model domba-VW juga mengungkap bias tersembunyi dalam narasi energi bersih: kita sering fokus pada efisiensi panel dan kapasitas megawatt, tapi mengabaikan jejak ekologis dari pemeliharaan infrastrukturnya. Rumput tumbuh — dan jika tidak dikendalikan, ia mengurangi output listrik hingga 15% (studi Fraunhofer ISE, 2022). Menggunakan domba tidak hanya hemat biaya; ini adalah bentuk akuntabilitas ekologis yang jarang dihitung dalam LCA (Life Cycle Assessment) proyek energi terbarukan.
"Kami tidak mencari viralitas. Kami mencari solusi yang berkelanjutan dalam setiap detail — termasuk apa yang tumbuh di bawah panel," ujar Thomas Schmall, CEO Volkswagen Group Components, dalam wawancara resmi perusahaan. Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah pengakuan bahwa keberlanjutan bukan soal output akhir, tapi juga cara kita memperlakukan setiap sentimeter tanah yang menjadi bagian dari transisi energi.
