Ainesia
Startup & Bisnis AI

TurtleTree Kumpulkan Modal untuk Produksi Laktiferin Tanpa Susu

Startup biotek Singapura TurtleTree kembangkan laktiferin tanpa hewan — protein krusial untuk imunitas bayi dan terapi medis. Investasi terbaru dorong skala produksi global.

(8 Juli 2026)
4 menit baca
Woman in lab environment: TurtleTree Kumpulkan Modal untuk Produksi Laktiferin Tanpa Susu
Ilustrasi TurtleTree Kumpulkan Modal untuk Produksi Laktiferin Tanpa S.

"Kami tidak lagi mengekstrak laktiferin dari susu sapi — kami memproduksinya dari sel mamalia yang dikultur di bioreaktor, persis seperti cara tubuh alami membuatnya." Pernyataan itu bukan klaim pemasaran, melainkan deskripsi teknis langsung dari pendiri TurtleTree, Max Rye, sebagaimana dilansir TechInAsia dalam laporan terbarunya tentang pendanaan Seri B startup tersebut.

Beda dengan Ekstraksi Konvensional: Protein yang Dibangun Ulang

Laktiferin tidak hanya protein biasa. Ini adalah glikoprotein antimikroba yang ditemukan secara alami dalam ASI, susu sapi, dan sekresi tubuh manusia lainnya. Fungsinya krusial: mengikat zat besi, menghambat pertumbuhan bakteri patogen, serta merangsang perkembangan sel imun. Selama puluhan tahun, pasokan global bergantung pada ekstraksi dari whey susu sapi — proses yang membutuhkan 10.000 liter susu untuk menghasilkan satu kilogram laktiferin murni. Biaya tinggi, yield rendah, dan risiko kontaminasi silang dengan alergen susu menjadi batu sandungan utama.

TurtleTree mengganti seluruh rantai pasok itu dengan pendekatan rekayasa seluler. Mereka menggunakan sel kelenjar susu mamalia (bukan sel induk atau sel tumor) yang dikembangkan secara in vitro, lalu dimasukkan ke dalam sistem bioreaktor berbasis fed-batch. Proses ini tidak hanya menghilangkan ketergantungan pada ternak, tetapi juga memungkinkan kontrol presisi atas struktur molekul — termasuk glikosilasi, yang menentukan aktivitas biologis laktiferin di tubuh manusia. Hasilnya bukan 'versi tiruan', tapi juga laktiferin fungsional identik secara struktural dan fungsional dengan yang ada di ASI.

Baca juga: Hanya 6% Pekerja Singapura Pakai AI Tiap Hari — Masalahnya Bukan Teknologi

Siapa yang Butuh Laktiferin Bukan dari Susu?

Pasar utama TurtleTree bukan produsen susu formula konvensional, melainkan perusahaan farmasi, nutrasi klinis, dan pembuat suplemen premium. Di Jepang, laktiferin sudah disetujui sebagai bahan fungsional dalam makanan kesehatan sejak 2013 dan digunakan luas dalam produk untuk lansia dan pasien pasca-operasi. Di Eropa, permintaan meningkat untuk bahan aktif bebas alergen bagi bayi dengan intoleransi susu sapi — kondisi yang menjangkit sekitar 2–3% populasi bayi di negara maju. Menurut TechInAsia, pendanaan terbaru TurtleTree akan dialokasikan khusus untuk mempercepat validasi klinis dan sertifikasi regulasi di tiga wilayah: AS, Uni Eropa, dan Jepang.

Di Indonesia, kebutuhan serupa nyatanya belum terlayani secara sistematis. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa 1 dari 5 bayi lahir prematur memerlukan nutrisi imunomodulator tambahan, sementara pasokan laktiferin lokal masih nol. Produsen susu formula nasional seperti Kalbe Nutritionals atau Sari Husada saat ini masih mengimpor bahan baku dari Eropa atau Jepang — dengan harga dua hingga tiga kali lipat dibandingkan bahan baku konvensional. TurtleTree tidak menjual bahan jadi, tapi lisensi teknologi produksi dan kerja sama manufaktur — model yang bisa membuka ruang kolaborasi dengan industri farmasi lokal jika regulasi BPOM memungkinkan.

Baca juga: Ant Beli 28% Saham Boohee untuk Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis AI

TurtleTree tidak mengunci teknologinya hanya untuk klien besar. Platform produksinya dirancang modular, sehingga bisa diadaptasi oleh fasilitas biomanufaktur berkapasitas menengah — termasuk potensi instalasi di kawasan industri bioteknologi di Bandung atau Surabaya. Ini berbeda dari pendekatan perusahaan biotek besar yang biasanya membangun pabrik raksasa tunggal. Model modular justru mempercepat adopsi di negara berkembang, asalkan infrastruktur cold chain dan standar GMP-nya memadai.

Investasi terbaru TurtleTree tidak hanya soal uang. Ini adalah sinyal kuat bahwa pasar global mulai memandang protein fungsional bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai precision ingredient — bahan aktif yang harus diproduksi dengan spesifikasi molekuler ketat, tidak hanya konsentrasi tinggi. Di tengah tren peningkatan prevalensi alergi makanan dan permintaan nutrisi personalisasi, laktiferin bukan lagi pelengkap, tapi komponen inti dalam strategi kesehatan preventif generasi mendatang.

Ilustrasi bioreaktor berteknologi tinggi dengan panel kontrol digital dan tabung kultur sel transparan, latar belakang laboratorium bersih berstandar GMP
Ilustrasi: Ilustrasi bioreaktor berteknologi tinggi dengan panel kontrol digital dan tabung kultur sel transparan, latar belakang laboratorium bersih berstandar GMP

Fakta tambahan yang jarang diungkap: laktiferin hasil kultur sel TurtleTree telah terbukti stabil hingga 24 bulan dalam bentuk bubuk beku-kering — jauh lebih panjang daripada laktiferin ekstraksi susu yang umumnya rusak dalam 12–18 bulan. Stabilitas ini bukan kebetulan, tapi juga hasil rekayasa glikosilasi yang disengaja untuk memperkuat ikatan hidrogen antar-rantai protein. Itu artinya, distribusi ke daerah tropis seperti Indonesia bisa lebih andal, tanpa ketergantungan mutlak pada rantai dingin sempurna.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar