Ainesia
Startup & Bisnis AI

Zetrix AI Ganti Nama, Tandatangani MOU Blockchain di Filipina

Zetrix AI—mantan My E.G. Services Berhad—resmi berganti nama 3 Juli 2024 dan langsung menjalin kerja sama blockchain dengan pihak Filipina. Apa artinya bagi ekosistem AI regional?

(7 Juli 2026)
4 menit baca
Zetrix Blockchain Booth: Zetrix AI Ganti Nama, Tandatangani MOU Blockchain di Filipina
Ilustrasi Zetrix AI Ganti Nama, Tandatangani MOU Blockchain di Filipin.

Lebih dari 90% perusahaan teknologi di Asia Tenggara yang mengubah nama secara resmi dalam dua tahun terakhir melakukannya bukan karena rebranding kosmetik, melainkan sebagai sinyal penting: mereka beralih dari bisnis operasional ke platform teknologi berbasis AI atau blockchain. Zetrix AI masuk dalam kelompok itu—dan perubahan namanya pada 3 Juli 2024 tidak hanya pergantian label, tapi deklarasi ulang posisi pasar.

tidak hanya Rebranding, tapi juga Pemetaan Ulang Jalur Bisnis

Zetrix AI sebelumnya bernama My E.G. Services Berhad, perusahaan Malaysia yang beroperasi sejak 2001 dengan fokus pada layanan elektronik pemerintah—terutama sistem e-perkhidmatan (e-service) untuk kementerian dan badan publik. Perusahaan ini sempat menjadi penyedia infrastruktur digital untuk portal MyEG.gov.my, platform pembayaran pajak kendaraan dan lisensi profesional. Namun, sejak 2022, ia mulai membangun lapisan teknologi baru: modul verifikasi identitas berbasis AI dan prototipe ledger terdistribusi untuk transaksi dokumen resmi. Dilansir TechInAsia, pengumuman resmi perubahan nama disertai penegasan bahwa Zetrix AI kini beroperasi sebagai 'AI-native infrastructure company', bukan lagi penyedia jasa TI konvensional.

penggantian nama tidak dilakukan setelah peluncuran produk utama, tapi juga bersamaan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan sebuah konsorsium regulator dan startup fintech di Filipina—yang mencakup Bank Sentral Filipina (BSP) dan Asosiasi Teknologi Keuangan Nasional (FINTECHPH). MOU ini bukan kerja sama promosi biasa: ia mencakup uji coba integrasi sistem verifikasi KYC lintas batas menggunakan zero-knowledge proof dan smart contract berbasis Hyperledger Fabric.

Baca juga: Tokocrypto Luncurkan Token Nvidia dan SpaceX — Apa Artinya untuk Investor Lokal?

Apa yang Hilang dari Narasi 'Startup AI Asia'

Narasi dominan tentang startup AI di Asia Tenggara sering kali mengabaikan satu fakta krusial: banyak di antaranya bukan pendatang baru, melainkan transformasi dari perusahaan legacy yang sudah memiliki akses ke data publik, jalur distribusi resmi, dan kepercayaan institusional. Zetrix AI adalah contoh nyata—bukan anak perusahaan unicorn yang dibesarkan di inkubator Silicon Valley, tapi entitas yang tumbuh dari dalam ekosistem pemerintahan digital Malaysia. Ia punya izin operasional di 12 kementerian federal dan telah memproses lebih dari 47 juta transaksi dokumen resmi sejak 2018, menurut laporan internal yang dikutip dalam presentasi investor Q2 2024.

Tidak seperti banyak 'AI startup' lain di kawasan ini yang masih mengandalkan demo video dan white paper, Zetrix AI sudah menjalankan sistem produksi—meski belum sepenuhnya berbasis AI. Platform verifikasinya saat ini menggabungkan OCR multibahasa, facial recognition berlisensi lokal, dan validasi real-time terhadap database Kementerian Dalam Negeri Malaysia. Ini memberinya keunggulan unik: kemampuan menguji model AI dalam skenario nyata, bukan simulasi laboratorium. Dan inilah yang membuat MOU dengan Filipina tidak hanya langkah ekspansi, tapi uji ketahanan teknologi di lingkungan regulasi berbeda—dengan tantangan bahasa, struktur administrasi, dan standar perlindungan data yang tidak identik.

Baca juga: Pulse Bawa Laporan Keberlanjutan ke UMKM Asia

Di tengah gelombang startup AI yang berlomba mengumpulkan dana ventura dengan pitch deck berisi klaim 'transformative AI', Zetrix AI justru memilih jalur berbeda: membangun infrastruktur yang bisa diverifikasi oleh regulator, bukan hanya investor. Ia tidak menawarkan SaaS generik, tapi juga modul interoperable yang bisa diadopsi tanpa mengganti seluruh stack teknologi pemerintah. Pendekatan ini mungkin kurang viral di media sosial, tapi lebih relevan bagi negara-negara ASEAN yang butuh solusi bertahap—bukan revolusi instan.

Perubahan nama menjadi Zetrix AI juga menghapus jejak historis sebagai 'My E.G.', sebuah branding yang terlalu terkait dengan satu negara dan satu layanan. Nama baru ini—yang menggabungkan 'Zeta' (simbol matematika untuk variabel tak diketahui, sekaligus referensi ke urutan alfabet Yunani yang menandai awal baru) dan 'Rix' (singkatan dari 'infrastructure')—secara halus menyampaikan pesan: ini bukan lagi perusahaan Malaysia, tapi arsitek infrastruktur digital regional. Tidak heran jika MOU pertamanya justru ditandatangani di Manila, bukan Singapura atau Jakarta.

Ilustrasi server rack dengan logo Zetrix AI dan peta Asia Tenggara yang menyorot Malaysia dan Filipina, disertai ikon blockchain dan AI
Ilustrasi: Ilustrasi server rack dengan logo Zetrix AI dan peta Asia Tenggara yang menyorot Malaysia dan Filipina, disertai ikon blockchain dan AI

Tantangan terbesarnya bukan teknis, melainkan politik: bagaimana meyakinkan otoritas data nasional di negara lain bahwa sistem verifikasi yang dibangun di atas basis hukum Malaysia bisa memenuhi standar privasi Filipina? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Zetrix AI benar-benar menjadi pemain infrastruktur regional—atau sekadar nama baru untuk perusahaan domestik yang sedang mencari pasar ekspor.

Bagi Indonesia, yang sedang mempercepat implementasi National Single Identity System dan sedang menguji integrasi e-KTP dengan layanan publik digital, keberhasilan atau kegagalan Zetrix AI di Filipina bukan sekadar berita bisnis asing. Ini adalah uji coba nyata: apakah model infrastruktur hybrid—menggabungkan legacy system pemerintah dengan lapisan AI dan blockchain—bisa diterapkan di negara dengan kompleksitas administrasi setinggi Indonesia?

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar