Ainesia
Startup & Bisnis AI

Tokocrypto Luncurkan Token Nvidia dan SpaceX — Apa Artinya untuk Investor Lokal?

Tokocrypto meluncurkan token terkait Nvidia dan SpaceX dengan model jaminan on-chain. Tapi bukan sekadar spekulasi: ini uji coba batas regulasi aset kripto di Indonesia.

(7 Juli 2026)
4 menit baca
Cryptocurrency coins on trading screen: Tokocrypto Luncurkan Token Nvidia dan SpaceX — Apa Artinya untuk Investor Lokal?
Ilustrasi Tokocrypto Luncurkan Token Nvidia dan SpaceX — Apa Artinya u.

Bagaimana investor ritel Indonesia bisa membeli saham Nvidia atau SpaceX tanpa membuka rekening di luar negeri — dan tanpa izin OJK sebagai efek? Jawabannya kini ada di dompet digital Tokocrypto.

Dilansir TechInAsia, bursa kripto lokal itu baru meluncurkan dua produk baru: token 'NVIDIA' dan 'SPACEX', yang diklaim menggunakan model proof-of-collateral 1:1 — artinya setiap token didukung penuh oleh aset dasar yang diverifikasi langsung di blockchain. Bukan derivatif, bukan futures, bukan juga stablecoin: ini adalah token representasi aset nyata, tapi berjalan di infrastruktur kripto. Model ini memang bukan hal baru di pasar global — seperti platform Synthetix atau Mirror Protocol ; namun ini kali pertama implementasi skala komersial di Indonesia dengan merek teknologi global sebesar itu.

Tokocrypto tidak menyimpan saham fisik Nvidia atau SpaceX. Yang mereka lakukan lebih halus: bekerja sama dengan pihak ketiga (yang belum diungkap nama resminya) untuk mengamankan posisi long di instrumen turunan berbasis harga saham kedua perusahaan tersebut di bursa AS. Dari sana, mereka menerbitkan token dengan rasio satu-ke-satu dan mempublikasikan alamat wallet penahan jaminan secara transparan. Siapa pun bisa memverifikasi saldo wallet tersebut lewat explorer blockchain — misalnya Etherscan atau BSCScan — tanpa perlu percaya pada klaim Tokocrypto semata.

Baca juga: TurtleTree Kumpulkan Modal untuk Produksi Laktiferin Tanpa Susu

Apa yang Hilang dari Klaim '1:1 Collateral'?

Klaim 'proof-of-collateral' memang menarik, tapi tidak otomatis berarti aman atau likuid. Di pasar kripto global, banyak kasus token 'backed' yang ternyata hanya di-backup parsial atau menggunakan aset berisiko tinggi seperti koin lain yang volatilitasnya lebih besar dari aset dasarnya. Di sini, Tokocrypto menyebut kolateralnya berupa 'derivatif berbasis saham', bukan saham langsung. Artinya, nilai token tetap bergantung pada kinerja kontrak berjangka atau CFD — instrumen yang rentan terhadap slippage, liquidation, dan risiko counterparty. Belum lagi, tidak ada mekanisme redeem ke saham fisik: investor hanya bisa menjual token kembali ke platform, bukan menukarnya menjadi saham NYSE.

Ini penting karena investor Indonesia sering salah paham: token ini bukan saham, bukan juga surat berharga yang diawasi OJK. Mereka masuk dalam kategori aset kripto — yang diatur Bappebti sebagai komoditas, bukan sekuritas. Artinya, perlindungan hukumnya jauh lebih tipis. Tidak ada dana pembiayaan ulang (DPUL), tidak ada kewajiban laporan keuangan berkala, dan tidak ada sanksi pidana jika terjadi gagal bayar kolateral. Bappebti sendiri belum mengeluarkan panduan spesifik soal token berbasis aset keuangan global — celah regulasi yang justru dimanfaatkan Tokocrypto sebagai ruang inovasi.

Baca juga: Hanya 6% Pekerja Singapura Pakai AI Tiap Hari — Masalahnya Bukan Teknologi

Kenapa Nvidia dan SpaceX, Bukan Apple atau Tesla?

Pemilihan Nvidia dan SpaceX bukan sembarang strategi branding. Keduanya mewakili dua tren paling panas di ekosistem teknologi global: kecerdasan buatan dan eksplorasi luar angkasa — dua bidang yang sedang digenjot pemerintah Indonesia lewat program seperti Peta Jalan AI Nasional dan Rencana Induk Antariksa. Investor lokal, terutama generasi muda, tidak lagi hanya tertarik pada saham blue-chip konvensional. Mereka mencari akses ke narasi pertumbuhan jangka panjang — dan Nvidia mewakili infrastruktur AI, sementara SpaceX mewakili masa depan logistik antarplanet serta komunikasi satelit. Menurut data internal Tokocrypto yang disampaikan dalam webinar internal pekan lalu, pencarian kata kunci 'Nvidia stock Indonesia' naik 210% sejak Februari 2024 ; jauh melampaui kenaikan pencarian 'Tesla' atau 'Amazon'.

peluncuran ini juga mengungkap ketimpangan akses: investor lokal masih kesulitan membeli saham AS karena batasan remitansi, birokrasi rekening valas, dan pajak penghasilan atas capital gain luar negeri. Token ini justru menjadi jalan pintas — meski dengan risiko yang berbeda. Namun, ini juga memperkuat kekhawatiran regulator: apakah kita sedang membangun jembatan ke pasar global, atau justru memperdalam ketergantungan pada produk asing tanpa kapasitas produksi lokal?

Di tengah semua itu, Tokocrypto tetap konsisten pada positioning-nya: bukan bursa saham, bukan bank digital, tapi 'gateway ke aset global'. Mereka tidak menawarkan analisis fundamental atau rekomendasi investasi — hanya akses. Dan dalam dunia keuangan modern, akses sering kali bernilai lebih tinggi daripada kebijakan.

"Kami tidak menjual janji return. Kami menjual transparansi — bahwa setiap token yang Anda beli benar-benar di-backup, dan Anda bisa memverifikasinya sendiri, kapan saja," ujar CEO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar