Ainesia
Ainesia
IKLAN
AI & Machine Learning

Revolusi AI On-Device: Mirai Raih $10 Juta dari Pendiri Prisma

Pendiri Reface dan Prisma bersatu dalam Mirai, mengamankan dana $10 juta untuk mengubah cara AI berjalan di smartphone tanpa ketergantungan cloud.

(19 Februari 2026)
4 menit baca
Revolusi AI On-Device: Mirai Raih $10 Juta dari Pendiri Prisma
Ilustrasi Revolusi AI On-Device: Mirai Raih $10 Juta dari Pendiri Pris....
IKLAN

Dunia kecerdasan buatan sedang berdiri di ambang pergeseran tektonik yang jarang terjadi: perpindahan massal dari komputasi awan yang mahal menuju pemrosesan lokal yang efisien. Di tengah hiruk-pikuk lomba membangun model bahasa raksasa, sebuah startup bernama Mirai justru mengambil jalan berbeda dengan fokus pada optimasi inferensi di perangkat itu sendiri. Langkah berani ini baru saja mendapat validasi kuat dari pasar setelah berhasil mengumpulkan dana segar senilai $10 juta dalam putaran pendanaan awal (seed round), menandai dimulainya era baru di mana smartphone dan laptop Anda akan menjadi pusat kekuatan AI yang sesungguhnya.

Di balik kesuksesan pendanaan ini terdapat kolaborasi strategis antara dua nama besar yang sudah tidak asing lagi bagi pengguna aplikasi kreatif global. Mirai didirikan oleh para co-founder di balik kesuksesan Reface, aplikasi pertukaran wajah berbasis AI yang fenomenal, dan Prisma, pelopor filter artistik neural style transfer yang pernah mengguncang dunia beberapa tahun lalu. Sinergi antara visi teknis pendiri-pendiri ini menciptakan fondasi kokoh bagi Mirai untuk menyelesaikan masalah paling mendesak dalam industri saat ini: bagaimana menjalankan model AI yang kompleks secara mulus langsung di atas chipset perangkat konsumen tanpa mengorbankan kecepatan atau menguras baterai.

Fokus utama teknologi yang dikembangkan Mirai adalah meningkatkan efisiensi inferensi model pada perangkat keras terbatas seperti prosesor ponsel dan laptop konvensional. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang mengirimkan data pengguna ke server cloud untuk diproses—sebuah metode yang sering kali menimbulkan latensi tinggi, biaya operasional membengkak, dan risiko privasi—solusi Mirai dirancang untuk memangkas ketergantungan tersebut secara drastis. Dengan algoritma optimasi proprietari mereka, model AI dapat dieksekusi lebih cepat dan lebih ringan, membuka peluang bagi pengembang aplikasi untuk menanamkan fitur cerdas langsung ke dalam produk mereka tanpa perlu infrastruktur server yang masif.

Baca juga: Kontrak Anduril US Army $20B Konsolidasi 120 Pengadaan

Konteks kelahiran Mirai tidak bisa dilepaskan dari tren industri yang semakin jenuh dengan solusi berbasis cloud. Selama satu dekade terakhir, dominasi pemrosesan awan memang tak terbantahkan, namun hal ini membawa konsekuensi serius berupa biaya langganan yang terus naik bagi pengguna akhir dan beban energi yang signifikan bagi penyedia layanan. Para pendiri Mirai, yang telah berpengalaman meluncurkan aplikasi dengan jutaan pengguna aktif, memahami betul bahwa hambatan terbesar adopsi AI selanjutnya bukan lagi pada kecanggihan modelnya, melainkan pada kemampuan mendistribusikan kecerdasan tersebut ke miliaran perangkat yang sudah ada di saku pengguna sehari-hari.

Implikasi dari terobosan ini sangatlah luas dan berpotensi mendisrupsi berbagai sektor teknologi. Bagi industri pengembangan aplikasi, kehadiran teknologi on-device inference yang matang berarti kebebasan berinovasi tanpa terkekang oleh tagihan API cloud yang fluktuatif. Lebih jauh lagi, aspek privasi data menjadi pemenang utama dalam ekosistem ini; karena pemrosesan terjadi sepenuhnya di perangkat pengguna, sensitivitas informasi pribadi seperti foto, suara, atau dokumen rahasia tidak perlu lagi meninggalkan perangkat untuk dianalisis, sehingga menutup celah kebocoran data yang selama ini menjadi momok bagi banyak perusahaan teknologi.

Reaksi terhadap langkah Mirai juga mencerminkan kepercayaan investor terhadap narasi "AI di tepi jaringan" atau edge AI. Suntikan dana $10 juta ini bukan sekadar modal operasional, melainkan sinyal kuat bahwa pasar mulai bergeser preferensinya dari skala model terbesar menuju efisiensi eksekusi terbaik. Kompetitor besar di sektor semikonduktor dan perangkat lunak sistem operasi pun kini berlomba-lomba menyematkan Neural Processing Unit (NPU) yang lebih kuat pada chip terbaru mereka, menciptakan lahan subur bagi perangkat lunak seperti Mirai untuk memaksimalkan potensi keras tersebut demi pengalaman pengguna yang lebih responsif.

Baca juga: Spielberg Tegas Tidak Pernah Gunakan AI dalam Film

Ke depan, peta jalan Mirai diproyeksikan akan memperluas kompatibilitas teknologinya ke berbagai arsitektur chip dan sistem operasi, menjadikannya standar de facto bagi pengembang yang ingin mengintegrasikan AI lokal. Jika eksekusi berjalan sesuai rencana, kita mungkin akan segera menyaksikan ledakan aplikasi baru yang menawarkan kemampuan canggih setara asisten pribadi super-cerdas, editor video otomatis, hingga penerjemah real-time, semuanya berfungsi penuh bahkan ketika perangkat berada dalam mode pesawat. Ini adalah janji demokratisasi kecerdasan buatan yang sesungguhnya, di mana teknologi canggih menjadi privilese mereka yang memiliki koneksi internet tercepat, melainkan hak dasar setiap pemilik perangkat pintar.

Dikutip dari TechCrunch AI

Bagikan artikel ini

Komentar

IKLAN