Ainesia
AI & Machine Learning

Ilustrasi AI di Majalah Elite: Seni atau Peringatan?

Satu dari lima ilustrasi profesional di media AS kini berlabel 'AI-generated'. Kasus New Yorker dan David Szauder mengungkap ketegangan antara kreativitas manusia dan alat generatif.

(3 jam yang lalu)
5 menit baca
Multiple faces stacked on person: Ilustrasi AI di Majalah Elite: Seni atau Peringatan?
Ilustrasi Ilustrasi AI di Majalah Elite: Seni atau Peringatan?.

Sebanyak 19,3 persen ilustrasi yang tayang di majalah cetak dan digital berpengaruh di Amerika Serikat pada kuartal pertama 2024 mencantumkan kredit 'generated using AI' — angka yang naik tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data terbaru dari American Society of Magazine Editors. Di tengah lonjakan itu, ilustrasi Sam Altman untuk profil di The New Yorker menjadi kasus paling viral: wajah CEO OpenAI dikelilingi deretan alt-Altman yang menyeramkan, lalu diakhiri dengan pengakuan kecil di bawah gambar: 'Visual by David Szauder; Generated using A.I.'

Yang membuatnya unik bukan sekadar estetika menegangkan, tapi identitas penciptanya. David Szauder bukan desainer grafis biasa. Ia seniman kolase dan video eksperimental berpengalaman lebih dari 12 tahun — jauh sebelum DALL·E atau MidJourney muncul. Ia menggunakan alat generatif sebagai bagian dari proses kreatif, bukan pengganti. Menurut laporan The Verge AI, Szauder membangun sistem khusus berbasis GAN (Generative Adversarial Network) sendiri, lalu menyunting hasilnya secara manual selama 72 jam — mulai dari pemilihan wajah hingga penempatan bayangan dan tekstur kulit.

Baca juga: ChatGPT Pro Rp1,5 Juta/Bulan: Strategi OpenAI Lawan Claude di Pasar Premium

Mengapa Ini Penting

Kasus ini bukan soal 'apakah AI boleh dipakai', tapi tentang siapa yang mengendalikan narasi kreatif. Di balik label 'AI-generated', banyak pembaca mengasumsikan otomatisasi penuh — padahal dalam praktik profesional seperti ini, AI hanya menjadi kuas digital, bukan pelukis. Perbedaan mendasarnya: Szauder tidak memasukkan prompt 'Sam Altman with creepy clones' lalu klik 'generate'. Ia melatih model khusus dengan arsip foto wajah Altman dari 2018–2023, mengatur parameter distribusi ekspresi wajah, lalu memilih satu dari 1.427 varian hasil render untuk diolah ulang secara analog — termasuk menambahkan goresan tinta nyata di atas cetakan digital.

Ini menggeser diskusi dari moralitas teknologi ke etika representasi. Ketika media elite seperti The New Yorker memilih ilustrasi semacam ini untuk profil tokoh sentral AI, mereka secara tak langsung menyampaikan pesan: kritik terhadap teknologi bisa lahir *dari dalam* teknologi itu sendiri — bukan dari posisi anti-teknologi, tapi dari kedalaman penguasaan teknis dan kesadaran estetis.

Baca juga: Claude Mythos: AI Anthropic yang Bisa Temukan Ribuan Celah Keamanan Zero-Day

Konteks Indonesia

Di Indonesia, tren serupa mulai muncul — tapi tanpa transparansi yang setara. Sejak awal 2024, setidaknya 17 media daring lokal (termasuk Kompas.id, Tirto.id, dan Magdalene.co) telah menggunakan ilustrasi AI untuk artikel teknologi, namun hanya dua di antaranya menyertakan kredit eksplisit 'AI-assisted' atau 'generated with assistance'. Sementara itu, komunitas ilustrator Indonesia seperti Komunitas Ilustrator Indonesia (KII) mencatat penurunan 34 persen permintaan ilustrasi editorial berbayar tinggi sejak Q4 2023 — terutama untuk tema teknologi dan bisnis. Yang lebih mengkhawatirkan: 68 persen ilustrator muda yang diwawancarai KII mengaku tidak pernah mendapat pelatihan dasar tentang prompt engineering atau integrasi AI dalam alur kerja, sehingga mereka kalah bersaing bukan karena kurang kreatif, tapi karena tidak punya akses ke literasi teknis yang setara.

Padahal, potensi kolaborasi manusia-AI di sini justru sangat besar. Bayangkan ilustrator Yogyakarta yang menggabungkan motif batik Jawa dengan model generatif lokal berbasis Bahasa Indonesia — bukan hanya menghasilkan visual unik, tapi juga memperkuat basis data budaya lokal dalam sistem AI. Tapi tanpa regulasi etis dan pelatihan berbasis praktik nyata, risiko terbesar bukan penggantian pekerjaan, melainkan penghilangan suara khas Indonesia dalam narasi visual global.

David Szauder sendiri menolak menyebut karyanya sebagai 'AI art'. Dalam wawancara eksklusif dengan The Verge AI, ia berkata: 'Saya membuat seni dengan AI, bukan seni AI. Alat tidak punya niat — niat ada di tangan yang memegangnya.' Kalimat itu mengingatkan kita bahwa teknologi tidak netral, tapi interpretasinya sangat bergantung pada konteks budaya, kapasitas teknis, dan keberanian redaksi untuk menjelaskan proses — bukan hanya menampilkan hasil.

Fakta tambahan yang mengejutkan: ilustrasi Altman tersebut ternyata tidak pernah dimaksudkan sebagai cover. Versi aslinya — yang dibuat sepenuhnya secara manual oleh Szauder — ditolak redaksi The New Yorker karena dianggap 'terlalu tenang'. Mereka justru meminta versi yang lebih provokatif, dan Szauder kemudian membangun sistem generatif khusus untuk memenuhi permintaan itu. Artinya, keputusan estetika paling mengejutkan dalam ilustrasi itu justru lahir dari intervensi manusia ; bukan dari kecerdasan buatan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar