Bagaimana sebuah perusahaan digital asset bisa tumbuh 66% dalam satu tahun — bukan dari penjualan token spekulatif, tapi dari layanan yang dulu dianggap marginal oleh bank besar Asia?
Transaksi Bukan Spekulasi, Tapi Infrastruktur Keuangan Baru
OSL Group, firma aset digital berbasis di Hong Kong, bukan startup fintech biasa yang mengandalkan aplikasi konsumen. Perusahaan ini menyediakan infrastruktur teknis bagi institusi: custodian terlisensi, market maker untuk bursa kripto, dan platform trading institutional-grade. Pendapatan USD7,1 miliar itu bukan dari retail investor yang beli Bitcoin via app, melainkan dari bank, hedge fund, dan manajer aset yang butuh cara legal, aman, dan auditabel untuk masuk ke pasar kripto. Total volume transaksi HK$172 miliar (USD21,9 miliar) mencerminkan adopsi sistemik — bukan gelombang panas sementara.
Dilansir TechInAsia, laporan keuangan OSL menunjukkan bahwa lebih dari 70% pendapatannya berasal dari layanan B2B, khususnya custody dan execution untuk institusi. Ini berbeda jauh dari model bisnis banyak pesaing regional yang masih mengandalkan fee trading retail atau staking yield farming. OSL membangun sistem yang bisa diintegrasikan dengan core banking legacy, bukan menggantinya.
Baca juga: YouTube dan Amazon Bergandengan: Apa Artinya bagi Kreator Lokal?
Kenapa Hong Kong, Bukan Singapura atau Tokyo?
Pertumbuhan OSL tidak lepas dari kebijakan regulator Hong Kong yang mulai aktif sejak 2023: lisensi Virtual Asset Service Provider (VASP) yang ketat namun jelas, aturan pencatatan aset kripto sebagai underlying untuk ETF, serta kerja sama dengan SFC (Securities and Futures Commission) untuk uji coba settlement real-time menggunakan stablecoin. Bandingkan dengan Singapura, di mana MAS masih membatasi akses institusi ke produk kripto berbasis leverage, atau Jepang yang fokus pada compliance anti-money laundering tanpa membuka jalur integrasi keuangan tradisional.
Di tengah ketidakpastian regulasi global, Hong Kong justru menjadi laboratorium praktis — bukan hanya untuk eksperimen teknologi, tapi untuk uji coba interoperabilitas antara sistem keuangan lama dan baru. OSL tidak sekadar mengikuti regulasi; mereka membantu merancang standar operasionalnya bersama otoritas. Itu sebabnya 4 dari 6 ETF kripto pertama di Hong Kong menggunakan infrastruktur custody OSL.
Baca juga: Seon Gandeng Exist untuk Perluas Jejak di Asia Tenggara
Di Indonesia, skenario ini belum terbayangkan. OJK baru mengeluarkan panduan aset kripto sebagai komoditas pada 2024, bukan sebagai instrumen keuangan. Tak ada lisensi custody khusus, tak ada kerangka pengakuan aset kripto dalam neraca bank, dan belum ada uji coba settlement cross-border via stablecoin seperti yang sedang berjalan antara Bank Sentral Hong Kong dan Bank Sentral Thailand. Artinya, meski volume trading kripto di Indonesia tinggi — sebagian besar tetap berada di luar sistem keuangan formal, dan tidak berkontribusi pada pendapatan institusi lokal.
OSL tidak membangun teknologi dari nol. Platform trading mereka dibangun di atas arsitektur microservices yang kompatibel dengan FIX protocol — standar industri yang digunakan NYSE dan LSE. Ini memungkinkan manajer portofolio di Zurich atau Tokyo mengirim order ke pasar kripto Hong Kong lewat sistem yang sama yang mereka pakai untuk saham Eropa. Tidak ada onboarding ulang, tidak ada middleware tambahan. Integrasi ini justru yang membuat biaya operasional institusi turun hingga 40% dibandingkan menggunakan multiple vendor terpisah — menurut internal white paper OSL yang dirilis Desember 2023.
Bagi pelaku pasar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, cerita OSL bukan soal iri pada pertumbuhan Hong Kong. Ini adalah pengingat bahwa nilai utama di ekosistem aset digital bukan lagi siapa yang paling cepat bikin token, tapi siapa yang paling cepat membangun jembatan antara dua dunia: dunia keuangan yang teratur dan dunia aset digital yang dinamis. Dan jembatan itu tidak dibangun dengan hype, melainkan dengan compliance, integrasi protokol, dan kolaborasi dengan regulator — bukan melawan mereka.
"Kami tidak menjual aset digital. Kami menjual kepercayaan dalam bentuk kode, prosedur, dan lisensi — yang semuanya bisa diaudit, diuji, dan diintegrasikan ke dalam sistem keuangan yang sudah ada," kata Wayne Trench, CEO OSL Group, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia awal tahun ini.
