Ainesia
Startup & Bisnis AI

Huawei H1 Rugi Bersih Turun 36% di Tengah Dorong R&D AI

Huawei mengalami penurunan laba bersih 36% pada semester pertama 2024. Rasio belanja R&D mencapai 25,9% dari pendapatan — tertinggi di industri teknologi global.

(31 Agustus 2026)
4 menit baca
Huawei logo: Huawei H1 Rugi Bersih Turun 36% di Tengah Dorong R&D AI
Ilustrasi Huawei H1 Rugi Bersih Turun 36% di Tengah Dorong R&D AI.

Laba bersih Huawei turun 36% pada semester pertama 2024 dibanding periode yang sama tahun lalu, meski pendapatan konsolidasi tumbuh stabil. Penurunan ini bukan indikasi kelemahan operasional, melainkan hasil sengaja dari prioritas strategis: mempercepat pengembangan teknologi inti di tengah pembatasan ekspor AS dan ketegangan geopolitik berkepanjangan.

25,9% Bukan Angka Biasa — Ini Strategi Bertahan di Zona Larangan

Rasio belanja riset dan pengembangan (R&D) Huawei mencapai 25,9% dari total pendapatan pada H1 2024 — angka tertinggi di antara semua vendor teknologi global besar, termasuk Samsung (8,5%), Apple (7,6%), dan Intel (18,2%). Dilansir TechInAsia, proporsi ini tidak hanya komitmen retoris, tapi peta jalan bertahan: setiap rupiah yang dialokasikan ke R&D adalah investasi dalam kemampuan desain chip, sistem operasi HarmonyOS, dan infrastruktur AI generatif yang tidak lagi bergantung pada komponen atau perangkat lunak asing.

Di Shenzhen, pusat inovasi Huawei, tim rekayasa sedang menyelesaikan versi kedua Ascend 910B — chip AI lokal yang kini dipakai oleh lebih dari 400 perusahaan China dalam pelatihan model bahasa besar. Proses manufaktur chip ini sepenuhnya dilakukan di pabrik SMIC dengan proses 7nm, tanpa satu pun peralatan lithografi AS. Itu bukan pencapaian teknis biasa; itu bukti bahwa alokasi 25,9% bukan biaya, tapi harga wajib untuk tetap eksis sebagai pemain mandiri.

Baca juga: Chromebook, Hukum, dan Celah dalam Penegakan AI di Indonesia

Bagaimana Perusahaan Indonesia Belajar dari Pola Ini?

Di Indonesia, rata-rata belanja R&D perusahaan teknologi masih di bawah 2% dari pendapatan — jauh di bawah ambang batas 5% yang disyaratkan Badan Standardisasi Nasional untuk klasifikasi 'perusahaan inovatif'. Padahal, sejak 2022, Kemenkominfo telah mendorong skema insentif fiskal bagi perusahaan yang mengalokasikan dana R&D minimal 3%. Nyatanya, hanya 17 perusahaan startup dan scale-up yang mengajukan klaim insentif tersebut hingga akhir 2023, menurut data Ditjen Pajak.

Tidak seperti Huawei yang bisa menopang belanja R&D besar dari arus kas positif dari bisnis infrastruktur telekomunikasi dan cloud, perusahaan teknologi lokal umumnya bergantung pada pendanaan eksternal. Akibatnya, prioritas sering bergeser ke skalabilitas cepat dan monetisasi instan — bukan fondasi teknis jangka panjang. Huawei membuktikan bahwa dalam kondisi terisolasi, kekuatan teknis bukanlah keunggulan kompetitif tambahan, tapi juga prasyarat kelangsungan hidup.

Baca juga: Token Murah Bukan Jaminan AI Efisien

Menurut TechInAsia, Huawei menghabiskan lebih dari USD 23,8 miliar untuk R&D selama 2023 — jumlah yang setara dengan 1,8 kali total belanja R&D seluruh universitas negeri di Indonesia dalam satu tahun. Di tengah tekanan sanksi, Huawei justru memperluas laboratorium AI-nya di Beijing dan Hangzhou, merekrut 1.200 ilmuwan baru khusus bidang foundation model dan komputasi neuromorfik. Ini bukan ekspansi biasa: ini rekonstruksi ulang rantai nilai teknologi dari bawah ke atas.

Di Jakarta, beberapa perusahaan fintech mulai meniru pola ini secara parsial — seperti LinkAja yang mengembangkan engine risiko kredit berbasis model lokal sejak 2023, atau Bukalapak yang membangun platform rekomendasi produk tanpa ketergantungan pada algoritma Google atau Amazon. Namun skala dan kedalaman investasi masih jauh dari level Huawei. Yang hilang bukan hanya modal, tapi juga kerangka waktu strategis: Huawei merencanakan lima tahun ke depan, sementara banyak perusahaan lokal masih berpikir dalam kuarter.

Ketika Huawei menyampaikan laporan keuangan H1 2024, CFO Meng Yinan menekankan satu hal: 'Kami tidak mengukur keberhasilan dari laba kuartalan, tapi dari jumlah paten inti yang kami daftarkan, dari jumlah developer yang aktif di ekosistem HarmonyOS, dan dari jumlah negara yang mulai mengadopsi solusi AI kami tanpa lisensi pihak ketiga.' Kalimat itu bukan retorika korporat — itu deklarasi ulang definisi keberhasilan di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar