Ainesia
Startup & Bisnis AI

Metis TechBio Naik 185% di IPO Hong Kong: Apa Artinya untuk Riset Kesehatan Hewan di Asia?

Startup AI farmasi Metis TechBio melonjak 185% di bursa Hong Kong. Dari 10% dana IPO untuk riset kesehatan hewan, muncul pertanyaan besar: siapa yang akan mengisi celah ini di Indonesia?

(13 Mei 2026)
4 menit baca
DNA vial in lab: Metis TechBio Naik 185% di IPO Hong Kong: Apa Artinya untuk Riset Kesehatan Hewan di Asia?
Ilustrasi Metis TechBio Naik 185% di IPO Hong Kong: Apa Artinya untuk .

"Metis TechBio jumps 185% in Hong Kong IPO" — begitu judul berita utama yang dilansir TechInAsia pekan lalu. Angka itu tidak hanya fluktuasi pasar biasa. Ini adalah sinyal keras bahwa investor global mulai memandang serius kombinasi antara kecerdasan buatan dan bioteknologi kesehatan hewan — sektor yang selama ini terpinggirkan dalam narasi investasi teknologi Asia.

Kenapa Kesehatan Hewan Jadi Prioritas Strategis?

Metis TechBio tidak hanya menjual obat generik berbasis AI. Platformnya dirancang untuk mensimulasikan interaksi molekuler antara kandidat senyawa dan target biologis pada spesies non-manusia — mulai dari sapi perah hingga ayam pedaging. Menurut TechInAsia, startup ini bahkan telah menandatangani kerja sama awal dengan dua produsen pakan ternak di Vietnam dan Thailand. Fokusnya jelas: mengurangi ketergantungan pada antibiotik profilaksis yang masih masif digunakan di peternakan Asia Tenggara.

Di Indonesia, penggunaan antibiotik pada ternak diperkirakan mencapai 1.200 ton per tahun — 60% di antaranya digunakan bukan untuk pengobatan, tapi juga untuk mempercepat pertumbuhan atau mencegah penyakit di kandang padat. Data Kementerian Pertanian 2023 menyebutkan bahwa resistensi antimikroba (AMR) pada bakteri patogen ternak seperti Salmonella dan E. Coli sudah terdeteksi di 14 provinsi. Namun, belum ada satu pun startup lokal yang mengembangkan platform AI khusus untuk prediksi efikasi obat hewan berbasis genomik mikroba lapangan.

Baca juga: Fair Labs Dapat Proyek AI Rp41 Miliar dari Kementerian Budaya Korea

Metis mengalokasikan tepat 10% dari total dana IPO-nya — yang mencapai US$120 juta — untuk riset kesehatan hewan dan longevity. Itu bukan angka simbolis. Dengan asumsi alokasi itu terealisasi penuh, artinya setidaknya US$12 juta akan dialirkan ke laboratorium kolaboratif di Hong Kong dan Singapura, khusus untuk uji coba pada model hewan ternak dan komersial. Dana ini juga mencakup pengembangan database genomik mikroba dari sampel kotoran ternak di Asia Tenggara ; data yang hampir mustahil diakses oleh peneliti lokal karena keterbatasan infrastruktur sequencing dan regulasi biosekuritas.

Apa yang Hilang dari Peta Riset Lokal?

bukan hanya besarnya alokasi dana, tapi juga ketiadaan mitra riset lokal dalam daftar kolaborasi awal Metis. Di antara lima universitas mitra yang disebut dalam prospektus IPO — Universitas Hong Kong, NUS Singapura, Chulalongkorn Thailand, Universitas Vietnam dan Universitas Malaysia — tidak satu pun nama perguruan tinggi Indonesia muncul. Padahal, Indonesia memiliki populasi ternak terbesar di ASEAN: 19 juta ekor sapi, 1,7 miliar ekor ayam, dan 10 juta ekor kambing menurut BPS 2024.

Baca juga: Hyundai Uji Coba Langganan Baterai EV untuk Taksi di Seoul

Ini bukan soal kurangnya kapasitas akademik. Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan UGM punya laboratorium mikrobiologi dan bioinformatika yang cukup matang. Tapi mereka jarang mendapat akses ke dataset skala besar, cloud computing khusus bioteknologi, atau pendanaan riset jangka panjang dari industri. Sebagian besar dana riset kesehatan hewan di Indonesia masih bersumber dari APBN melalui Kementerian Pertanian — dan lebih banyak dialokasikan untuk vaksinasi massal daripada pengembangan obat baru berbasis AI.

Metis TechBio justru memilih jalur berbeda: membangun pipeline obat hewan secara paralel dengan pipeline manusia. Mereka menggunakan algoritma yang sama untuk memprediksi toksisitas senyawa pada hati tikus dan hati sapi — hanya dengan menyesuaikan parameter fisiologis dan laju metabolisme spesies. Pendekatan ini memangkas waktu pengembangan obat hewan dari rata-rata 8–10 tahun menjadi 3–4 tahun, menurut laporan internal yang dikutip TechInAsia. Di sini, keuntungan komparatif Indonesia justru bisa muncul: sebagai sumber data lapangan real-time — bukan sebagai pusat pengembangan teknologi.

Ilustrasi laboratorium bioinformatika dengan layar menampilkan visualisasi interaksi protein-hewan dan grafik pertumbuhan bakteri resisten
Ilustrasi: Ilustrasi laboratorium bioinformatika dengan layar menampilkan visualisasi interaksi protein-hewan dan grafik pertumbuhan bakteri resisten

Kita mungkin akan melihat lebih banyak startup seperti Metis dalam lima tahun ke depan — bukan hanya di Hong Kong, tapi juga di Singapura dan Bangkok. Tapi pertanyaannya tetap sama: apakah Indonesia akan menjadi lokasi uji coba, pasar konsumen, atau justru pemilik teknologi? Saat ini, kita masih berada di posisi pertama. Dan itu bukan pencapaian — melainkan peringatan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar