Empat miliar seratus juta won Korea Selatan — setara Rp41 miliar berdasarkan kurs Bank Indonesia per Mei 2024 — dialokasikan untuk satu proyek riset AI yang tidak berurusan dengan perdagangan saham, prediksi cuaca, atau diagnosis medis. Tapi justru untuk menghidupkan kembali artefak budaya lewat mesin.
Kenapa Proyek Ini Justru Diurus Kementerian Budaya?
Proyek ini bukan inisiatif dari Kementerian Ilmu Pengetahuan atau Badan Riset Nasional Korea Selatan. Ia lahir dari Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata (MCST), yang secara eksplisit menargetkan transformasi warisan budaya melalui teknologi generatif. Fair Labs, startup berbasis di Seoul yang fokus pada AI untuk konten kreatif, dipilih sebagai pelaksana utama. Mereka akan mengembangkan sistem yang bisa merekonstruksi naskah kuno, menerjemahkan aksara Hanja ke bahasa Korea modern secara kontekstual, dan bahkan mensimulasikan suara penyanyi pansori abad ke-19 berdasarkan rekaman analog yang rusak.
Dilansir TechInAsia, pilihan MCST ini mencerminkan pergeseran strategis: budaya tidak lagi dilihat sebagai objek konservasi pasif, tapi sebagai lapisan data aktif yang bisa diolah, diinterogasi, dan direproduksi ulang. Proyek ini juga menghindari pendekatan 'AI sebagai pengganti manusia'. Sebaliknya, ia dirancang sebagai alat kolaborasi — misalnya, memungkinkan peneliti sejarah memasukkan catatan tangan dari arsip kerajaan Joseon ke dalam model, lalu mendapatkan rekomendasi interpretasi berbasis pola linguistik historis.
Baca juga: Metis TechBio Naik 185% di IPO Hong Kong: Apa Artinya untuk Riset Kesehatan Hewan di Asia?
Apa yang Hilang dari Skema Pendanaan Serupa di Indonesia?
Di Indonesia, dana riset teknologi untuk budaya masih terfragmentasi dan bersifat insidental. Program seperti Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Nasional atau revitalisasi museum oleh Kemendikbudristek biasanya mengandalkan kontraktor TI umum, bukan startup spesialis AI budaya. Tidak ada skema kompetisi nasional yang secara eksplisit mengundang startup untuk mengajukan solusi berbasis pembelajaran mesin terhadap tantangan seperti degradasi naskah lontar, transkripsi aksara Bali yang ambigu, atau pemulihan rekaman gending Jawa pra-1950-an dari piringan hitam retak.
Padahal, potensi datanya besar: lebih dari 17.000 naskah kuno terdaftar di Balai Pelestarian Nilai Budaya, 80% di antaranya belum terdigitalisasi sepenuhnya. Sementara itu, startup lokal seperti Nusantara AI atau Lontar Labs memang sudah mengembangkan prototipe OCR untuk aksara Jawa dan Bali — tapi mereka kesulitan mendapat akses ke dataset resmi dan pendanaan berkelanjutan. Di Korea, Fair Labs mendapat akses langsung ke arsip nasional Korea (National Institute of Korean History) dan Museum Nasional Korea sebagai mitra data. Di sini, kerja sama semacam itu masih bergantung pada inisiatif personal peneliti, bukan kerangka kebijakan.
Baca juga: Hyundai Uji Coba Langganan Baterai EV untuk Taksi di Seoul
Teknologi yang dikembangkan Fair Labs juga tidak hanya soal akurasi teknis. Model mereka dilatih dengan 'bias budaya' eksplisit: misalnya, saat merekonstruksi puisi klasik, sistem memprioritaskan kaidah metrik dan rima tradisional daripada kefasihan bahasa modern. Ini berbeda dari kebanyakan model bahasa global yang cenderung 'menghaluskan' keunikan lokal demi keterbacaan universal. Di Indonesia, ketika startup mencoba menerapkan pendekatan serupa untuk sastra Sunda atau puisi Sasak, mereka justru sering dikritik karena hasilnya 'terlalu kaku' — padahal itu justru kekuatan teknisnya.
proyek ini tidak berakhir di laboratorium. MCST telah menyertakan target implementasi konkret: integrasi ke platform budaya nasional Korea, 'Culture Portal', mulai kuartal IV 2025. Artinya, publik bisa mengunggah foto naskah lama dari rumah, lalu mendapat transkripsi otomatis dan penjelasan historis dalam bahasa Korea maupun Inggris. Ini tidak hanya demo teknologi —, tapi juga uji coba skala nasional atas gagasan bahwa AI bisa menjadi jembatan antara warisan tak terlihat dan generasi yang tak lagi fasih membacanya.
Indonesia punya infrastruktur digital yang cukup kuat: 75% museum daerah sudah memiliki website, dan 62% arsip provinsi telah memulai proses digitalisasi dasar menurut laporan Arsip Nasional 2023. Namun, tanpa kerangka pendanaan spesifik seperti yang dijalankan Korea, kemungkinan besar AI tetap menjadi fitur pelengkap — bukan tulang punggung — dalam pelestarian budaya. Startup lokal justru lebih banyak mengarah ke pasar korporat: membuat chatbot untuk bank atau sistem deteksi fraud untuk fintech. Bidang budaya masih dianggap 'tidak scalable' secara bisnis, meski dampak sosialnya jauh lebih dalam.
Apakah kita siap mengalokasikan dana riset teknologi bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi pajak atau percepatan logistik, tapi juga untuk memastikan anak cucu kita masih bisa mendengar suara penyanyi tembang macapat — bukan lewat rekaman rusak, tapi lewat simulasi yang dibangun dari jejak suara yang tersisa?
