Ainesia
Gadget & Hardware

UK Selidiki Microsoft Office: Apa Risiko bagi Pengguna Indonesia?

Regulator persaingan Inggris resmi menyelidiki bundling Word, Excel, Teams, dan Copilot. ini bukan hanya soal harga—tapi kontrol atas alat kerja dasar di era AI.

(14 Mei 2026)
4 menit baca
Microsoft office building: UK Selidiki Microsoft Office: Apa Risiko bagi Pengguna Indonesia?
Ilustrasi UK Selidiki Microsoft Office: Apa Risiko bagi Pengguna Indon.

"The UK's Competition and Markets Authority (CMA) has opened an official investigation into Microsoft's bundling of Office apps with Copilot." — begitu pernyataan resmi yang dilansir Engadget, menandai langkah paling tegas terhadap dominasi perangkat lunak produktivitas sejak era Windows 95.

Bundling tidak hanya Paket Hemat, tapi juga Pintu Masuk ke Infrastruktur Kerja

Apa yang sedang diselidiki CMA bukan soal harga atau diskon bundling biasa. Ini tentang bagaimana Microsoft mengintegrasikan Copilot—asisten AI berbasis model besar—ke dalam Word, Excel, dan Teams secara bawaan, tanpa opsi penghapusan atau penggantian modul. Pengguna tidak bisa membeli Excel tanpa Teams, atau menggunakan Teams tanpa akses ke Copilot. Semua komponen itu dikunci dalam satu akun Microsoft 365, satu sistem autentikasi, dan satu jalur pembaruan otomatis. Menurut Engadget, CMA khawatir praktik ini menghalangi inovasi dari pesaing seperti Notion, Google Workspace, atau bahkan solusi lokal seperti Rumahteknologi.id yang tengah mengembangkan asisten AI berbasis bahasa Indonesia.

Di Indonesia, lebih dari 72% UMKM yang menggunakan layanan cloud untuk administrasi dan akuntansi—menurut data Kemenkominfo 2023—masih bergantung pada paket Microsoft 365 Business Basic. Mereka tidak memilih Excel karena fiturnya paling canggih, tapi karena pelatihan staf, integrasi dengan e-faktur, dan ketersediaan dukungan teknis lokal sudah terbangun di sekitar ekosistem Microsoft. Bundling Copilot justru memperkuat ketergantungan itu: ketika laporan keuangan otomatis dibuat oleh Copilot di Excel, atau notulen rapat di Teams langsung diringkas dan dikirim ke email klien, pengguna tidak lagi bertanya 'apa alternatifnya?', tapi 'bagaimana cara upgrade lisensi agar fitur itu aktif?'

Baca juga: Apa yang Terjadi Saat Pengguna Bisa Bikin Aplikasi Sendiri?

Copilot Bukan Fitur Tambahan, Tapi Filter Baru atas Data Kerja

Yang jarang dibahas dalam sorotan media adalah implikasi privasi operasional. Copilot tidak hanya membaca dokumen Anda—ia juga mengakses riwayat chat di Teams, metadata file di OneDrive, bahkan pola pengetikan dan frekuensi revisi di Word. Semua data itu diproses di pusat data Microsoft global, termasuk di wilayah Eropa dan AS, bukan di dalam batas yurisdiksi Indonesia. Padahal, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 5 Tahun 2020 mewajibkan penyimpanan data pribadi warga negara harus berada di dalam wilayah NKRI—kecuali ada izin eksplisit dari pengguna dan audit keamanan berkala.

Nyatanya, tidak ada mekanisme transparan di antarmuka Microsoft 365 untuk memilih: 'Saya ingin Copilot aktif hanya di dokumen internal, bukan di file yang dibagikan ke mitra.' Tidak ada tombol 'nonaktifkan pelatihan ulang model berdasarkan aktivitas saya'. Yang ada hanyalah checkbox umum berlabel 'Allow Microsoft to use my data to improve services'—tanpa penjelasan teknis apa artinya bagi data laporan pajak atau kontrak kerja sama.

Baca juga: Apple Dukung Google Lawan Aturan UE soal Android dan AI

Ini berbeda dari pendekatan Google Workspace, yang membatasi penggunaan data pelatihan AI hanya untuk akun enterprise tertentu dan memberikan opsi eksplisit untuk menonaktifkan integrasi AI di setiap aplikasi. Startup lokal seperti AksaraAI—yang berbasis di Bandung—justru membangun model bahasa khusus untuk dokumen hukum dan keuangan dalam bahasa Indonesia, dengan semua proses inferensi berjalan di server lokal dan tanpa koneksi ke cloud global. Namun, mereka belum bisa bersaing dalam distribusi: tidak ada channel resmi Microsoft Store, tidak masuk daftar rekomendasi Kemenkeu untuk sistem akuntansi UMKM, dan tidak tersedia dalam paket bundling bank-bank nasional.

Ilustrasi dua layar berdampingan: kiri menunjukkan antarmuka Microsoft 365 dengan ikon Copilot menyala di sudut kanan bawah; kanan menampilkan antarmuka AksaraAI dengan logo berwarna hijau dan tulisan 'Proses lokal, tanpa koneksi internet'
Ilustrasi: Ilustrasi dua layar berdampingan: kiri menunjukkan antarmuka Microsoft 365 dengan ikon Copilot menyala di sudut kanan bawah; kanan menampilkan antarmuka AksaraAI dengan logo berwarna hijau dan tulisan 'Proses lokal, tanpa koneksi internet'

Regulator Inggris tidak sendirian. Komisi Eropa telah mengeluarkan surat peringatan serupa kepada Microsoft pada Februari 2024, sementara Komisi Persaingan Usaha (KPPU) Indonesia masih belum mengeluarkan panduan resmi tentang bundling produk digital berbasis AI. Padahal, survei Lembaga Survei Nasional (LSN) 2024 menunjukkan bahwa 68% pekerja kantoran di Jakarta dan Surabaya mengaku 'tidak tahu apakah Copilot sedang merekam percakapan rapat mereka', meski fitur itu aktif secara default sejak pembaruan April lalu.

Fakta tambahan yang mengejutkan: Microsoft tidak mengklaim Copilot sebagai fitur 'opsional' dalam dokumentasi resmi versi 2024. Dalam panduan implementasi untuk mitra resmi di Asia Tenggara, disebutkan bahwa 'Copilot is the default interface layer for all Microsoft 365 applications'—bukan alat bantu, bukan add-on, tapi lapisan antarmuka utama yang menggantikan menu toolbar tradisional. Artinya, pengguna tidak lagi berinteraksi langsung dengan Excel, tapi melalui filter Copilot—yang menentukan apa yang ditampilkan, di mana tombol 'jumlahkan kolom' muncul, dan bahkan apakah grafik yang dihasilkan layak dikirim ke atasan.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar