Ainesia
Startup & Bisnis AI

Startup AI Global Raih Dana, Tapi Indonesia Masih di Jalur Samping

Empat startup keamanan dan kecerdasan buatan global mengumpulkan dana dalam sepekan — sementara ekosistem lokal masih bergantung pada solusi asing tanpa fondasi riset berkelanjutan.

Arsip Ainesia
•
(26 September 2026)
•4 menit baca•
Train carrying money bag: Startup AI Global Raih Dana, Tapi Indonesia Masih di Jalur Samping
Ilustrasi Startup AI Global Raih Dana, Tapi Indonesia Masih di Jalur S.

Arsip belum diverifikasi. Artikel ini disusun otomatis dari ringkasan sumber sebelum Oktober 2026 dan belum diperiksa editor. Rujuk sumber aslinya untuk fakta yang Anda kutip.

Di sebuah ruang kerja di Bandung, tim kecil dari startup keamanan siber sedang mempresentasikan prototipe deteksi anomali berbasis AI ke klien perbankan nasional. Mereka sudah tiga bulan menunggu respons resmi. Di saat yang sama, Cyera — startup Israel yang fokus pada keamanan data cloud — baru saja menutup putaran Seri B senilai USD 100 juta, menurut TechInAsia. Tak lama kemudian, EVAS Intelligence dari Singapura mengumumkan pendanaan awalnya, disusul Heidi dari Jerman yang mengembangkan sistem verifikasi identitas berbasis AI. Semua terjadi dalam tujuh hari.

Cyera dan EVAS tidak hanya Nama Baru, Tapi Sinyal Infrastruktur yang Matang

Cyera bukan startup biasa: platformnya telah terintegrasi dengan lebih dari 40 layanan cloud publik dan private, termasuk AWS, Azure, dan GCP — semua dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak peluncuran. EVAS Intelligence, meski baru lahir di 2022, sudah menjalin kemitraan teknis dengan dua penyedia infrastruktur data regional di ASEAN. Dilansir TechInAsia, keduanya tidak hanya menjual software, tapi juga menyediakan API-level governance layer yang bisa diembed langsung ke pipeline CI/CD klien. Artinya, mereka tidak hanya vendor tools, tapi juga juga bagian tak terpisahkan dari alur kerja pengembangan perangkat lunak modern.

Heidi, sementara itu, mengambil jalur berbeda: fokus pada verifikasi identitas digital untuk layanan keuangan inklusif di Eropa dan Afrika. Produk utamanya tidak hanya membaca KTP, tapi juga menganalisis mikro-ekspresi wajah dan pola interaksi pengguna untuk mendeteksi deepfake atau manipulasi. Ini bukan fitur tambahan — ini persyaratan regulasi baru di bawah EU Digital Identity Wallet Framework. Di Indonesia, belum ada aturan serupa yang mengikat platform fintech lokal untuk membangun lapisan verifikasi semacam itu secara mandiri.

Baca juga: LG Uplus dan OptAI Uji Token AI untuk Efisiensi Layanan

Kenapa Startup Lokal Belum Muncul di Daftar Pendanaan Global?

Pertanyaannya bukan mengapa startup Indonesia belum mengumpulkan dana besar, tapi mengapa belum ada satu pun yang masuk radar investor global sebagai pemain spesialis keamanan atau compliance AI. Data dari Katadata Insight (2023) menunjukkan bahwa 87% perusahaan teknologi di Indonesia masih mengandalkan solusi keamanan siber berlisensi dari vendor asing — mulai dari Palo Alto hingga CrowdStrike. Sementara itu, investasi R&D di bidang keamanan berbasis AI oleh startup lokal masih di bawah USD 5 juta per tahun, menurut laporan Asosiasi Industri Teknologi Informasi Indonesia (ATI). Angka ini setara dengan 0,3% dari total belanja IT perusahaan skala menengah-keatas di Tanah Air.

Yang hilang bukan hanya modal, tapi juga siklus umpan balik antara regulasi, pasar, dan inovasi. Di Singapura, regulator MAS mewajibkan uji coba sandbox untuk setiap solusi AI keuangan sebelum peluncuran komersial — sehingga startup seperti EVAS bisa langsung menguji produk di lingkungan nyata dengan bimbingan regulator. Di Indonesia, UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) baru mulai diterapkan penuh pada Juli 2024, dan panduan teknis untuk implementasi AI masih dalam tahap rancangan oleh Kominfo.

Baca juga: Bolttech dan Bold Penguin Bentuk Aliansi Asuransi Global Berbasis AI

Ilustrasi perbandingan dua laboratorium: satu di Tel Aviv dengan papan whiteboard penuh arsitektur cloud security, satunya di Jakarta dengan tim kecil di depan laptop dan dokumentasi UU PDP terbuka di layar
Ilustrasi: Ilustrasi perbandingan dua laboratorium: satu di Tel Aviv dengan papan whiteboard penuh arsitektur cloud security, satunya di Jakarta dengan tim kecil di depan laptop dan dokumentasi UU PDP terbuka di layar

Ini bukan soal ketidakmampuan teknis. Tim-tim seperti DeepSec Labs di Yogyakarta atau AegisAI di Surabaya sudah menghasilkan model deteksi ancaman berbasis bahasa Indonesia dan konteks lokal — misalnya, mengenali pola phishing dalam bahasa gaul atau pesan WhatsApp berbasis modus pinjol. Namun, mereka kesulitan mengubah prototipe menjadi produk komersial karena tidak ada mekanisme akuisisi cepat dari instansi pemerintah atau BUMN. Tender keamanan siber masih didominasi oleh paket integrasi besar dengan vendor multinasional, bukan kontrak berbasis hasil (outcome-based) untuk startup.

Ketika Cyera mengumumkan penambahan 120 insinyur ke tim R&D-nya, startup lokal justru kehilangan dua senior engineer ke perusahaan teknologi asing yang membuka kantor di Bali. "Kami bisa bikin model yang lebih akurat untuk transaksi lokal, tapi tidak ada yang mau bayar untuk itu — selama klien puas dengan solusi yang sudah ada," kata salah satu pendiri DeepSec Labs dalam obrolan santai di acara DevSecCon Jakarta pekan lalu. Kalimat itu bukan keluhan biasa. Itu adalah diagnosis tepat tentang celah antara kapasitas teknis dan ekosistem komersial yang mendukungnya.

"Kami tidak membangun produk untuk menggantikan manusia. Kami membangunnya agar manusia bisa fokus pada keputusan strategis — bukan menghabiskan waktu memilah false positive dari sistem keamanan yang ketinggalan zaman," ujar CEO Cyera dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar