Manulife Asia dan Ant Health resmi menghubungkan sistem asuransi kesehatan dengan infrastruktur digital kesehatan Tiongkok daratan melalui kerja sama lintas batas yang diluncurkan awal 2024. Ini bukan kolaborasi pertama antara perusahaan asuransi multinasional dan platform teknologi finansial Tiongkok, tetapi yang pertama mengintegrasikan verifikasi klaim otomatis langsung ke dalam jaringan rumah sakit terpilih di 32 kota—termasuk Beijing, Shanghai, dan Shenzhen—tanpa perlu pengajuan manual dari nasabah.
Bagaimana Klaim Asuransi Jadi Instan di Rumah Sakit Daratan?
Kerja sama ini memanfaatkan sistem 'One-Click Settlement' milik Ant Health, yang terhubung langsung ke database rumah sakit mitra Manulife. Saat nasabah Manulife—khususnya pemegang polis internasional seperti Manulife Global Health atau produk expatriate—mendaftar rawat inap di rumah sakit terdaftar, sistem secara otomatis mengecek status polis, cakupan manfaat, dan riwayat pembayaran premi lewat API terenkripsi. Jika semua syarat terpenuhi, tagihan medis diselesaikan langsung oleh Ant Health, lalu ditagihkan ke Manulife dalam mata uang RMB dalam waktu kurang dari 90 detik. Tidak ada formulir cetak, tidak ada scan dokumen, tidak ada penundaan administrasi selama tiga hari kerja seperti prosedur konvensional.
Dilansir TechInAsia, integrasi ini menjadi bagian dari strategi Manulife untuk memperkuat posisi di pasar Tiongkok pasca-perluasan jaringan rumah sakit terpilih pada 2023—yang kini mencakup lebih dari 1.200 fasilitas medis di seluruh daratan. Namun, ekspansi fisik saja tidak cukup: tanpa sistem verifikasi instan, jaringan luas itu berisiko menjadi 'jalan tol tanpa gerbang tol'. Ant Health memberikan gerbang itu—dengan infrastruktur teknologi yang sudah dipakai lebih dari 700 juta pengguna Alipay dalam layanan kesehatan digital mereka.
Baca juga: Pixxel Raup $100 Juta, Tantangan Satelit Hiperspektral di Asia Tenggara
Apa yang Hilang dari Model Ini di Pasar Indonesia?
Di Indonesia, skema serupa belum muncul—meski potensi pasar sangat besar. Data OJK menyebut jumlah nasabah asuransi kesehatan swasta hanya mencapai 12,8 juta orang pada akhir 2023, atau sekitar 4,6% dari total populasi. Sementara itu, 85% klaim asuransi kesehatan masih diproses secara manual, rata-rata memakan waktu 7–14 hari kerja menurut laporan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) tahun lalu. Perbedaan utamanya bukan soal teknologi, melainkan ekosistem regulasi dan interoperabilitas data. Di Tiongkok, Ant Health beroperasi di bawah payung Alibaba Group yang memiliki akses terbatas ke data kesehatan publik melalui kerja sama dengan pemerintah daerah—sebuah ruang yang belum dibuka di Indonesia karena ketentuan UU PDP dan kebijakan Kemenkes tentang perlindungan rekam medis.
Manulife sendiri telah hadir di Indonesia sejak 1985 dan mengelola lebih dari 1,4 juta polis aktif. Namun, sistem klaim digital mereka di sini masih terpisah dari rumah sakit mitra—klaim dikirim via aplikasi Manulife Indonesia, diverifikasi tim internal, lalu dibayarkan dalam Rupiah setelah maksimal lima hari kerja. Tidak ada integrasi langsung ke sistem informasi rumah sakit (SIRS), apalagi ke BPJS Kesehatan. Padahal, BPJS Kesehatan telah mengembangkan API terbuka sejak 2022, namun belum satu pun perusahaan asuransi swasta yang berhasil menghubungkannya secara operasional untuk klaim lintas penyedia layanan.
Baca juga: Nykaa Beli 24,2% Lagi Earth Rhythm — Apa Artinya untuk Startup Kosmetik Lokal?
Teknologi yang digunakan dalam kerja sama ini bukan AI generatif atau large language model—melainkan sistem rules-based engine yang terlatih pada lebih dari 15.000 skenario klaim medis berdasarkan pedoman klinis Tiongkok dan standar underwriting Manulife Asia. Setiap transaksi diverifikasi oleh dua lapis keamanan: enkripsi end-to-end dan audit trail otomatis yang tercatat di blockchain private Ant Financial. Ini bukan soal kecepatan semata, tapi keandalan dalam konteks regulasi ketat dan risiko fraud yang tinggi di pasar kesehatan Tiongkok—di mana kasus penipuan klaim meningkat 22% pada 2023 menurut laporan China Insurance Regulatory Commission.
kerja sama ini tidak mengandalkan investasi modal besar dari Manulife ke Ant Health—melainkan model revenue-sharing berbasis volume klaim yang diproses. Artinya, Manulife membayar biaya teknologi hanya saat sistem benar-benar digunakan, bukan lewat lisensi tahunan atau biaya setup awal. Model ini justru lebih cocok untuk pasar berkembang seperti Indonesia, di mana ROI teknologi harus terukur dalam hitungan bulan, bukan tahun. Namun, hingga kini belum ada diskusi publik antara Manulife Indonesia dengan startup lokal seperti Halodoc atau LinkAja tentang skema serupa—padahal keduanya sudah mengintegrasikan layanan pembayaran kesehatan dengan puluhan ribu apotek dan klinik.
Jika sistem klaim instan bisa berjalan lancar di 1.200 rumah sakit di Tiongkok dengan kompleksitas regulasi dan bahasa medis yang berbeda, lalu mengapa versi sederhananya—misalnya untuk klaim rawat jalan di 50 rumah sakit mitra di Jakarta—masih belum terwujud di Indonesia? Apa yang benar-benar menghalangi: ketidaksiapan teknologi, keengganan regulator, atau ketiadaan insentif bisnis yang cukup kuat bagi semua pihak?
