Bayangkan sebuah truk besar berwarna merah menyala melaju di jalur kiri Tol Gyeongbu, tanpa tangan di kemudi, tanpa suara percakapan antar sopir—hanya sensor LiDAR berkedip dan algoritma yang terus menghitung jarak dengan kendaraan di depannya. Di dalam kabin, seorang operator manusia duduk siap mengambil alih, tapi tidak perlu menyentuh setir selama 120 kilometer dari Seoul ke Daejeon. Ini bukan adegium film fiksi ilmiah. Ini uji coba nyata Coupang, raksasa e-commerce Korea Selatan, yang mulai mengoperasikan truk otonom tingkat 4 di jalan tol sejak awal 2024.
Mengapa Coupang Memilih Jalan Tol?
Coupang tidak memulai uji coba di jalan kota atau lingkungan permukiman—melainkan di koridor ekspres berkecepatan tinggi. Pilihan ini bukan kebetulan. Pada Desember 2023, pemerintah Korea Selatan memperluas program pilot pengemudian otonom di jalan tol nasional, menambah tiga ruas baru termasuk Tol Gyeongbu dan Tol Honam. Regulasi baru itu memperbolehkan kendaraan otonom tingkat 4 (tanpa pengemudi aktif, tapi masih memerlukan pengawasan manusia) beroperasi pada kecepatan hingga 110 km/jam—syarat mutlak bagi logistik cepat skala nasional. Dilansir TechInAsia, uji coba Coupang merupakan salah satu implementasi komersial pertama yang langsung memanfaatkan perubahan regulasi tersebut.
Baca juga: Cisco Bidik Astrix untuk Perkuat Keamanan Identitas AI
Truk yang digunakan adalah model khusus berbasis platform Einride T-Pod, dikembangkan bersama mitra teknologi Swedia. Sistemnya mengandalkan kombinasi kamera resolusi tinggi, radar jarak jauh, dan LiDAR 360 derajat—semua diproses oleh unit komputasi onboard berdaya 500 TOPS. Data real-time dikirim ke pusat kendali di Seongnam, tempat tim operasional memantau 12 parameter kritis: dari tekanan ban hingga respons waktu pengereman darurat. Setiap truk juga dilengkapi sistem redundansi ganda—jika satu modul gagal, modul lain langsung mengambil alih dalam 200 milidetik.
Konteks Indonesia
Bagi konsumen Indonesia, layanan seperti Rocket Delivery—pengiriman dalam satu hari bahkan kurang dari 24 jam—masih terasa eksklusif. Di Jakarta, hanya 17% pesanan Tokopedia dan Shopee yang sampai esok hari, menurut riset Katadata Insight Center 2023. Sementara itu, Coupang mencapai 98% pengiriman satu hari di wilayah metropolitan Seoul. Perbedaan ini bukan soal ambisi semata, tapi infrastruktur logistik yang terintegrasi: gudang mikro di 12 titik kota, jaringan kurir internal 10.000 orang, dan kini truk otonom untuk rute antar-gudang jarak jauh. Di Indonesia, regulasi kendaraan otonom belum ada; UU Lalu Lintas No. 22/2009 bahkan tidak mengenal kategori 'pengemudi non-manusia'. Kementerian Perhubungan baru membentuk kelompok kerja uji coba mobil listrik otonom di Bali dan IKN pada 2024, tapi tanpa kerangka hukum untuk truk logistik. Artinya, startup lokal seperti SiCepat atau J&T harus mengandalkan peningkatan efisiensi manusia dan sistem,bukan otomatisasi fisik. Untuk mengejar standar pengiriman global.
Baca juga: Anthropic Blokir Akses OpenClaw: Perang Halus di Balik Open-Source AI
Yang lebih krusial: biaya logistik di Indonesia masih 24% dari nilai barang, jauh di atas rata-rata ASEAN (18%) dan Korea Selatan (9%). Truk otonom bisa mengurangi biaya operasional hingga 35% dalam jangka panjang—terutama dari penghematan upah sopir, jam kerja tak terbatas, dan optimalisasi rute berbasis AI. Namun tanpa regulasi jalan raya yang memungkinkan, investasi teknologi semacam ini tetap menjadi mimpi jangka panjang.
Menurut laporan TechInAsia, Coupang berencana memperluas armada truk otonom menjadi 50 unit pada akhir 2024, dengan target operasional penuh tanpa pengawas manusia pada 2027. Target ini didukung oleh investasi $2,3 miliar dalam infrastruktur logistik tahun lalu—jumlah tertinggi di antara semua e-commerce Asia Tenggara dan Timur. Bandingkan dengan total investasi logistik GoTo di 2023: hanya Rp1,2 triliun (sekitar $78 juta), sebagian besar dialokasikan untuk gudang dan aplikasi, bukan kendaraan otonom.
Uji coba Coupang juga menyoroti pergeseran strategis di industri e-commerce global: dari perlombaan harga ke perlombaan kecepatan—dan kecepatan itu kini diukur bukan dalam jam, tapi dalam detik respons sistem. Ketika algoritma bisa memprediksi bahwa pelanggan di Busan akan memesan susu bayi besok pagi, maka truk sudah berangkat malam ini—tanpa intervensi manusia sama sekali. Ini bukan lagi soal efisiensi, tapi soal presisi prediktif yang mengubah rantai pasok menjadi organisme hidup.
Fakta tambahan yang mengejutkan: Coupang telah menguji truk otonom di kondisi salju tebal—sesuatu yang belum pernah dicoba oleh perusahaan logistik mana pun di Asia. Sensor LiDAR-nya dimodifikasi khusus untuk membedakan kristal es dari partikel debu, dengan akurasi deteksi 99,2% pada visibilitas kurang dari 50 meter. Di negara tropis seperti Indonesia, tantangan utama bukan salju, tapi genangan air dan kabut asap—dua kondisi yang belum diuji secara publik oleh vendor teknologi otonom manapun.
