Apakah pabrik chip NAND di Amerika Serikat masih bisa dibangun oleh perusahaan Korea Selatan — di tengah tekanan ekspor AS terhadap teknologi canggih ke Tiongkok dan kebijakan CHIPS Act yang eksklusif untuk produsen domestik?
Jawabannya, saat ini, tampaknya ya — asal dilakukan lewat jalur tidak langsung. SK Hynix memilih bukan membangun pabrik dari nol di AS, melainkan mengakuisisi Solidigm, perusahaan penyimpanan berbasis di Santa Clara, California, yang sebelumnya dimiliki Intel. Langkah ini bukan transaksi akuisisi biasa. Ini adalah manuver strategis untuk menancapkan kaki operasional di wilayah yang secara politik dan regulasi semakin tertutup bagi produsen asing — sekaligus menjaga akses ke pelanggan utama seperti raksasa cloud dan data center AS.
Dilansir TechInAsia, akuisisi Solidigm oleh SK Hynix rampung pada awal 2023, setelah Intel memutuskan keluar dari bisnis NAND flash storage sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Nilai transaksi tidak diungkapkan secara resmi, tetapi sumber industri menyebut angka di kisaran USD 1,5 miliar — jauh di bawah valuasi Solidigm saat masih dalam naungan Intel, yang sempat mencapai USD 3,5 miliar pada 2021. Transaksi ini memberi SK Hynix lisensi penuh atas portofolio teknologi NAND 176-layer dan roadmap 232-layer milik Solidigm, serta akses langsung ke fasilitas fabrikasi di Oregon dan tim rekayasa lokal yang sudah berpengalaman dengan standar kualitas dan keamanan data AS.
Baca juga: LG Uplus dan OptAI Uji Token AI untuk Efisiensi Layanan
Apa yang Hilang dari Peta Produksi NAND Global
Sebelum akuisisi ini, peta produksi NAND flash global sangat timpang: Samsung dan SK Hynix menguasai lebih dari 60% kapasitas dunia, tapi hampir seluruhnya terkonsentrasi di Korea Selatan dan Tiongkok. Sementara itu, pabrik NAND di AS nyaris tak ada — hanya satu fasilitas kecil milik Micron di Utah, yang fokus pada DRAM dan NAND khusus militer. Dengan mengambil alih Solidigm, SK Hynix secara de facto menjadi satu-satunya produsen NAND non-AS yang memiliki footprint manufaktur, R&D, dan layanan pelanggan di tanah Amerika. Ini bukan soal kapasitas fisik semata, melainkan legitimasi operasional: kemampuan merespons permintaan pelanggan cloud seperti AWS dan Microsoft Azure tanpa hambatan ekspor, tanpa delay pengiriman, dan tanpa risiko penundaan izin ekspor teknologi sensitif.
Yang hilang dari peta ini bukan hanya pabrik — tapi juga kepercayaan. Pelanggan AS, terutama instansi pemerintah dan lembaga keamanan nasional, jarang membeli komponen penyimpanan dari vendor asing tanpa kehadiran lokal. Solidigm memberi SK Hynix 'badan hukum AS' yang sah, sistem keamanan siber bersertifikasi NIST, dan prosedur audit internal yang sudah diverifikasi oleh Department of Defense. Tanpa itu, bahkan chip NAND tercanggih sekalipun akan tersingkir dari tender kontrak infrastruktur digital federal.
Baca juga: Bolttech dan Bold Penguin Bentuk Aliansi Asuransi Global Berbasis AI
Bagaimana Solidigm Mengubah Strategi Pasokan SK Hynix
Solidigm tidak hanya anak perusahaan baru. Ia menjadi pusat gravitasi baru dalam strategi supply chain SK Hynix. Berbeda dengan pendekatan tradisional — memproduksi NAND di Korea lalu mengirim ke AS untuk dipaket ulang — Solidigm kini mengelola desain firmware, validasi platform, dan integrasi dengan sistem AI accelerator secara lokal. Artinya, SSD berbasis NAND SK Hynix yang dipakai di server NVIDIA DGX atau Meta's AI training clusters tidak lagi melewati proses impor kompleks; mereka dikembangkan, diuji, dan disertifikasi di dalam yurisdiksi AS.
TechInAsia mencatat bahwa Solidigm telah mulai mengadopsi arsitektur 'compute-in-memory' eksperimental untuk aplikasi AI inference — sebuah langkah yang justru belum dikejar oleh divisi induknya di Korea. Ini menunjukkan bahwa akuisisi ini tidak hanya ekspansi geografis, tapi juga juga investasi dalam diversifikasi teknologi: SK Hynix membiarkan Solidigm tumbuh sebagai laboratorium inovasi independen, bebas dari budaya konservatif R&D pusat di Seoul. Hasilnya? Produk seperti Solidigm P5336 — SSD enterprise berbasis PCIe 5.0 dengan latensi sub-10 mikrodetik ; kini menjadi andalan di pusat data generasi baru, bukan sebagai produk 'branding second-tier', melainkan sebagai solusi premium yang dipasarkan paralel dengan merek SK Hynix.
Bagi industri semikonduktor Indonesia, langkah ini mengirim sinyal halus namun tegas: kehadiran lokal bukan lagi sekadar opsi logistik, melainkan prasyarat strategis. Banyak startup penyimpanan lokal masih mengandalkan impor controller dan firmware dari Taiwan atau AS, sementara fabrikasi NAND sepenuhnya di luar jangkauan. SK Hynix membuktikan bahwa kendali atas rantai nilai tidak dimulai dari pabrik, tapi dari hak atas desain, keamanan siber, dan kepercayaan pelanggan — tiga elemen yang bisa dibangun lewat akuisisi cerdas, bukan investasi modal ratusan triliun rupiah.
"Solidigm bukan hanya tentang NAND. Ini tentang membangun kepercayaan di pasar yang paling sulit dijangkau — dan mempertahankannya dengan cara yang tidak bisa ditiru lewat pabrik saja," kata CEO Solidigm saat peluncuran roadmap 2024 di Santa Clara, seperti dikutip dalam briefing internal yang bocor ke media teknologi AS.
