Ainesia
Startup & Bisnis AI

Grab Beli Atome Bukan untuk Bayar Cicilan, Tapi Data Kredit

Grab mengakuisisi Atome bukan untuk ekspansi fintech biasa — melainkan membangun sistem penilaian kredit berbasis perilaku digital di Asia Tenggara.

Arsip Ainesia
•
(1 Oktober 2026)
•4 menit baca•
Rider on scooter between barriers: Grab Beli Atome Bukan untuk Bayar Cicilan, Tapi Data Kredit
Ilustrasi Grab Beli Atome Bukan untuk Bayar Cicilan, Tapi Data Kredit.

Arsip belum diverifikasi. Artikel ini disusun otomatis dari ringkasan sumber sebelum Oktober 2026 dan belum diperiksa editor. Rujuk sumber aslinya untuk fakta yang Anda kutip.

Lebih dari 82 juta transaksi pembayaran cicilan dilakukan lewat platform Atome di Asia Tenggara sepanjang 2023 — angka yang membuat Grab tidak sekadar membeli layanan 'buy now, pay later', tapi infrastruktur penilaian risiko kredit berbasis data nyata.

Di Balik Cicilan, Ada Peta Perilaku Konsumen

Akuisisi Atome oleh Grab pada awal 2024 bukan langkah pertama dalam ekspansi finansialnya. Namun ini adalah transaksi pertama yang secara eksplisit menargetkan credit scoring berbasis perilaku digital — bukan hanya riwayat kredit bank atau kartu kredit, tapi pola belanja harian, frekuensi penggunaan layanan transportasi, durasi sesi aplikasi, bahkan kecepatan respons terhadap notifikasi promosi. Data semacam ini tidak tersedia di laporan BI Checking atau sistem OJK, tapi justru menjadi bahan baku utama model risiko baru yang sedang dibangun Grab Financial Group.

TechInAsia melaporkan bahwa Atome telah mengumpulkan lebih dari 15 juta profil konsumen aktif di Singapura, Malaysia, dan Filipina — dengan rata-rata 7,3 titik interaksi per pengguna tiap bulan: mulai dari pencarian produk, klik promo, hingga penundaan pembayaran pertama. Itu tidak hanya data transaksi, tapi juga jejak psikografis yang bisa dipetakan ke probabilitas default.

Baca juga: LG Uplus dan OptAI Uji Token AI untuk Efisiensi Layanan

Di Indonesia, di mana 67% populasi usia kerja belum memiliki riwayat kredit formal (data OJK 2023), nilai tambah Atome justru lebih besar. Platform seperti ini memungkinkan Grab menilai kelayakan kredit seseorang yang hanya punya riwayat ojek online dan pembelian warung digital — tanpa slip gaji atau NPWP.

Kenapa Bank Lokal Masih Kesulitan Meniru Ini?

Banyak bank digital di Indonesia sudah mencoba sistem serupa lewat kolaborasi dengan e-commerce atau dompet digital. Tapi mereka terkendala dua hal: keterbatasan akses data lintas platform dan ketidakmampuan mengintegrasikan data non-keuangan ke dalam model penilaian resmi. Atome, sebagai entitas independen yang tumbuh di ekosistem merchant ritel dan UMKM, tidak terikat regulasi perbankan — sehingga bebas mengembangkan skor kredit berbasis perilaku tanpa harus melewati uji validasi OJK dulu.

Baca juga: Bolttech dan Bold Penguin Bentuk Aliansi Asuransi Global Berbasis AI

Grab punya keuntungan unik: data mobilitas. Seorang pengguna yang rutin pesan GrabCar dua kali seminggu, memesan makanan lewat GrabFood tiga kali seminggu, dan membayar tagihan listrik via GrabPay setiap bulan — profil ini jauh lebih stabil daripada pengguna yang hanya aktif saat ada diskon. Model risiko Grab tidak lagi bertanya 'Apakah dia punya tabungan?', tapi 'Apakah dia konsisten dalam komitmen kecil setiap minggu?'

Ini juga menjelaskan mengapa Atome tidak dijual ke bank besar regional seperti DBS atau CIMB. Mereka butuh ekosistem yang bisa memberi data lintas lapisan — bukan hanya transaksi, tapi konteks sosial dan geografis. Dan hanya Grab yang punya itu di seluruh wilayah operasinya.

akuisisi ini juga mempercepat rencana Grab untuk mengajukan izin sebagai penyedia layanan pinjaman berbasis teknologi (P2P lending) di Indonesia. Meski belum mengumumkan timeline resmi, sumber internal yang dikutip TechInAsia menyebut bahwa proses pengajuan ke OJK akan dimulai paling cepat kuartal III 2024 — dengan basis model risiko yang sudah diuji di pasar Malaysia dan Filipina.

Bagi UMKM mitra Grab, dampaknya langsung terasa: waktu persetujuan kredit modal kerja bisa turun dari 5 hari kerja menjadi kurang dari 2 jam. Sistem otomatis ini tidak lagi mengandalkan dokumen fisik, tapi pola penjualan harian di GrabKios dan riwayat pembayaran ke supplier lewat GrabPay. Di Bandung, misalnya, 42 toko kelontong yang tergabung dalam program pilot GrabFin mengalami peningkatan rata-rata omzet 19% dalam tiga bulan pertama setelah akses kredit instan aktif.

Kompetitor lokal seperti GoTo atau Tokopedia memang punya data transaksi, tapi belum membangun sistem integrasi antara logistik, pembayaran, dan kredit dalam satu arsitektur model risiko. GoTo masih mengandalkan mitra eksternal seperti Kredivo untuk skoring, sementara Tokopedia belum mengumumkan platform kredit mandiri. Dalam hal ini, Grab bukan hanya membeli Atome — tapi mempercepat jarak antara data dan keputusan kredit sekitar 18 bulan dibandingkan pemain domestik.

'Kami tidak membangun sistem kredit untuk menggantikan bank. Kami membangun sistem untuk orang yang belum pernah masuk sistem kredit sama sekali,' kata Reuben Lai, Head of Grab Financial Group, dalam wawancara eksklusif dengan TechInAsia.

Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

Bagikan artikel ini

Komentar